Connect with us

Hi, what are you looking for?

Di's way

Tujuh Ekor Trachypithecus Auratus Siap Diwisuda

REHABILITASI: Proses penyiapan lepas liar Lutung Jawa bisa memakan waktu 8 bulan hingga 1,5 tahun. (Foto: Istimewa)

Batu – Minggu depan, jika tak ada arang melintang. Tepatnya Kamis (26/11/2020). Tujuh ekor Lutung Jawa di Javan Langur Centre (JLC), the Aspinall Foundation Indonesia Program, Coban Talun, Bumiaji, Kota Batu. Akan diwisuda. Setelah menjalani proses rehabilitasi yang panjang. 

Perawatan primata berbulu hitam ini, butuh kesabaran ekstra. Hal itu dikarenakan Lutung Jawa, merupakan hewan liar dan memiliki taring panjang. Kini terdapat 24 Trachypithecus auratus di JLC yang menjalani rehabilitasi. Semuanya didapat dari BKSDA melalui hasil penyitaan. Juga penyerahan masyarakat. 

Manager Aspinall Foundation Indonesia, Iwan Kurniawan menyampaikan, jika dari 24 Lutung Jawa itu, tujuh diantaranya akan dilepasliarkan minggu depan. Terdiri enam betina dan satu jantan. 

“Ketujuh hewan primata itu, telah melewati masa rehabilitasi cukup lama. Sebelum layak dilepas liarkan. Mungkin sekitar 8 bulan hingga 1,5 tahun,” jelasnya. Sebelumnya, harus melalui beberapa tahap rehabilitasi.

“Pertama akan dilakukan proses pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu selama lebih kurang tiga bulan. Selama proses ini akan dilakukan proses pemeriksaan penyakit-penyakit berbahaya,” tutur Iwan. 

Ia menambahkan, setelah dipastikan sehat oleh dokter hewan dengan menunjukkan hasil lab bagus. Selanjutnya akan dilanjut pada proses sosialisasi. Dalam masa sosialisasi ini lutung akan dibagi menjadi grub atau kelompok-kelompok. Pada proses sosialisasi ini, dalam satu kandang terdiri dari satu jantan dan beberapa betina. Bisa empat hingga tujuh betina. 

“Proses ini akan terus dipantau perkembangannya. Mulai dari pengenalan pakan alami, seperti daun. Selain itu juga akan diamati psikomotoriknya. Seperti apakah sudah bisa memanjat ataupun meloncat. Nanti pada pelepasannya juga akan dilakukan secara kelompok,” terangnya. 

Lutung yang akan dilepas di alam liar. Terlebih dahulu akan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Yang menunjukkan hasil lab negatif dalam artian tak ada penyakit yang berbahaya dan bisa menular. 

“Untuk pelepasan nantinya ada kandang habituasi terlebih dahulu. Jadi pelepasannya tidak langsung dilepas begitu saja. Namun ada proses adaptasi selama semingguan. Baru kami akan buka pintu kandangnya,” ungkapnya. 

Setelah proses pelepasan, lutung yang telah berada di alam bebas akan terus dimonitoring. Untuk melihat sejauh mana lutung tadi mampu bertahan hidup. Selain itu dilihat juga apakah lutung yang telah dilepas dapat berkembang biak atau tidak. 

“Proses monitoring ini kami lakukan terus menerus. Mulai dari awal pelepasan hingga seterusnya. Untuk awal pelepasan kami akan memonitoring setiap hari selama tiga bulan. Setelah tiga bulan monitoring hanya dilakukan sebanyak 3 sampai 4 kali saja,” kata Iwan. 

Iwan mengatakan, proses ini dilakukan di hutan. Hingga saat ini masih belum ada alat untuk mendeteksi hewan primata. Berbeda dengan gajah, badak, dan harimau mereka memiliki alat pendeteksi bernama radio caller dan GPS caller. 

“Proses monitoring ini kami lakukan secara konvensional. Kami buat marking pada ekornya yang kami tandai. Biasanya kami menaruh tanda pada bagian ekornya. Kami memilih bagian ekornya karena merupakan bagian tubuh yang sangat gampang terlihat,” ujar Iwan. 

Selama proses ini, tim monitoring akan melihat proses kesehariannya. Seperti proses interaksi dengan alam liar. Bahkan hingga berkembang biak. Untuk pelepasan satwa primata ini. Tim JLC akan melakukan pelepasan di hutan lindung Coban Talun dan Tahura R Suryo di daerah Gunung Biru Anjasmoro. 

“Untuk proses mulai masuk hingga pelepasan di alam liar memakan waktu yang berbeda-beda untuk setia hewan. Dilihat dari segi kesahatan, psikomotorik, kognitif, dan afektif jika sudah bagus makan akan dilepaskan,” ungkapnya. 

Iwan mengatakan, biasanya yang paling cepat bisa delapan bulan sudah dilepaskan asal sudah memiliki kelompok. Kalau yang lama bisa mencapai 2 tahun bahkan lebih. Namun jarang ada yang bisa sepuluh bulan. Rata-rata pelepasan dilakukan setelah 1,5 tahun. 

Semenjak tahun 2011 the Aspinal Foundation Indonesia telah melakukan pelepasan lutung sebanyak 124 ekor. Dilakukan di berbagai daerah. Mulai hutan yang berada di kawasan malang selatan. Hingga saat ini difokuskan di kawasan hutan Biru. (ant/jan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Di's way

Malang – Jika Goran Gancev, pemain asal Northern Macedonia, merupakan bek tengah asing terbaik Arema sepanjang perhelatan Liga Indonesia 2008-2020, maka Hamka Hamzah lah...

Di's way

Malang – Majelis Ulama Indonesia menyesalkan terjadinya kerumunan massa, yang memperbesar risiko penularan Covid-19 dan menyerukan kasus serupa tidak terulang. Wasekjen MUI, Nadjamuddin Ramly...

Di's way

Batu – Lebih dari selusin warga Desa Tlekung, Junrejo, Kota Batu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Tepatnya 16 warga. Setelah mereka menghadiri prosesi pemakaman salah...

headline

Jakarta – Setelah munculnya kasus Covid-19 klaster Petamburan, Kepolisian Polda Metro Jaya melakukan penyemprotan cairan disinfektan di wilayah Petamburan, Jakarta Pusat, yang juga merupakan markas...

Copyright © 2020 MalangPost