Connect with us

Hi, what are you looking for?

Socialnet

Sempat Diejek “Hei Wong Cempluk”

Malang – Pandemi tidak menyurutkan masyarakat dan Karangtaruna Dusun Sumberjo, DesaKalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, untuk melaksanakan hajatan tahunan yang dinamakan “Festival Kampung Cempluk”. Festival ini digagas tahun 2009.Dan kini telah memberikan kontribusi sosial budaya yang begitu besar bagi masyarakat.

Tak banyak yang mengetahui bahwa kampung cempluk berawal dari sebuah permasalahan sosial di Desa Kalisongo. Dipaparkan Redy Eko Prasetyo, Ketua Festival Kampung Cempluk, dulu kampung ini sangat terisolasi, meskipun dekat dengan Kota Malang.

“Sebelum ada jembatan Dieng, fasilitas listrik dan penerangan sangat minim. Jadi warga menggunakan cempluk sebagai penerangan pada tahun 1989-an,” ujarnya.

Terinspirasi dari kondisi itu, Redy berinisiatif mengajak Karangtaruna membuat sebuah festival budaya. dimulai tahun 2009. Cempluk itu adalah damar, sebuah alat  penerangan.

Kampung cempluk itu ditujukan untuk wilayah RW 2 Dusun Sumberjo. Itulah yang diangkatnya sebagai sebuah keunikan. Reborn atau terlahir kembali kampung cempluk. Itulah istilah yang ia pakai.

Kampung cempluk sempat menjadi ejekan kepada warga Sumberjo. “Hei wong cempluk.” Hal ini membuat warga tidak lagi menggunakan kata kampung cempluk. “Seolah udik atau tradisional membuat masyarakat menyebut wilayah ini Dieng Atas. Dan itu berpengaruh terhadap mental masyarakat sini,” terangnya.

Ingin mengubah pola pikir itu, Redy membuat gerakan bahwa kampung cempluk adalah salah satu kekayaan sosial budaya yang ada di daerahnya. Akhirnya terlahir membuat sebuah festival yang dia prakarsai dengan bantuan karangtaruna. “Bangga menjadi warga kampung cempluk” adalah harapan yang ingin disampaikan Redy ke masyarakat Dusun Sumberjo.

“Festival kampung cempluk sekarang menjadi hari raya kebudayaan kampung, agar lebih popular.” Itulah yang saat ini digadang Redy agar harapannya dapat terwujud. Terutama kebudayaan sosial yang ada di daerah itu masih bisa dikatakan masih kental.

Pemerintah Desa Kalisongo memang belum pernah memberi bantuan secara langsung.Tetapi apresiasi juga sering dilayangkan ke Redy dan karangtaruna. Bantuan branding menjadi salah satu yang diharapkan masyarakat Kampung Cempluk ke pemerintah agar festival budaya itu dapat bertahan lama dan juga dikenal lebih banyak orang.(nyk/ekn)

>>>> Ulasan Lengkap Bisa Dibaca Di Harian DI’s Way Malang Post Edisi Kamis (24/9). Info langganan https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSeV9zIEJa-zeYABGfw9x_Pn5JTHc5Q0WZIiWM5Kt3GYHOsqiQ/viewform

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Copyright © 2020 MalangPost