MALANG POST – Bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu, mulai memanas menyusul segera berakhirnya masa bakti kepengurusan periode 2022–2026. Organisasi keolahragaan tersebut, kini mematangkan tahapan regenerasi kepemimpinan melalui Musyawarah Kota (Muskot), yang dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026.
Bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu mulai menghangat. Kondisi ini menyusul segera berakhirnya masa bakti kepengurusan periode 2022–2026.
Organisasi olahraga tersebut mulai mempersiapkan regenerasi kepemimpinan melalui Musyawarah Kota (Muskot) yang dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026.
Tahapan menuju pemilihan ketua baru kini telah berjalan. KONI Kota Batu telah membentuk panitia pelaksana yang bertugas mengawal seluruh rangkaian Muskot, mulai dari penyusunan mekanisme teknis hingga pelaksanaan pemungutan suara.
Ketua KONI Kota Batu, Sentot Ari Wahyudi, menjelaskan bahwa sebelum Muskot digelar, seluruh cabang olahraga (cabor) akan dikumpulkan dalam forum Pramusyawarah Kota (Pra-Muskot) pada 11 November 2026.
Menurut Sentot, forum tersebut menjadi tahapan krusial untuk menyamakan persepsi seluruh anggota mengenai mekanisme pemilihan ketua dan penyusunan kepengurusan periode berikutnya.

Ketua KONI Kota Batu, Sentot Ari Wahyudi. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
“Ada dua agenda utama yang akan kami laksanakan. Pertama, Pra-Musyawarah Kota. Forum ini sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada seluruh cabang olahraga mengenai mekanisme penjaringan bakal calon pengurus KONI,” ujarnya, Kamis (24/7/2026).
Dalam Pra-Muskot nanti, panitia akan memaparkan seluruh tata tertib pemilihan, termasuk persyaratan teknis pencalonan ketua. Salah satu poin utama yang akan dibahas adalah ketentuan batas minimum dukungan dari cabang olahraga bagi setiap kandidat.
Sentot menegaskan bahwa sistem yang digunakan bukanlah pencalonan terbuka tanpa batas. Setiap kandidat wajib mengantongi dukungan resmi dari sejumlah cabor sesuai ketentuan yang disepakati bersama dalam Pra-Muskot.
“Calon tidak bisa langsung maju begitu saja. Mereka harus lebih dulu mengantongi dukungan dari sejumlah cabang olahraga sesuai aturan yang ditetapkan. Setelah lolos verifikasi, baru bisa mengikuti proses pemilihan di Muskot,” jelasnya.
Seluruh cabang olahraga yang terdaftar sebagai anggota resmi KONI Kota Batu nantinya bertindak sebagai pemegang hak suara sah dalam Muskot. Merekalah yang akan menentukan figur tepercaya untuk memimpin KONI Kota Batu selama empat tahun ke depan.
Sentot berharap seluruh tahapan Muskot dapat berlangsung secara demokratis, transparan, dan kondusif. Oleh karena itu, pihak pengurus ingin seluruh cabor memahami aturan main sejak awal agar proses pemilihan tidak memicu perbedaan tafsir maupun polemik di kemudian hari.
“Pra-Muskot menjadi wadah untuk menyamakan persepsi. Harapannya, ketika Muskot berlangsung, seluruh peserta sudah memahami mekanismenya sehingga proses pemilihan berjalan lancar,” tegasnya.
Ia menambahkan, Muskot 2026 bukan sekadar agenda rutin pergantian kepengurusan. Forum tertinggi olahraga tingkat kota ini diharapkan menjadi momentum regenerasi yang melahirkan kepemimpinan baru dengan semangat memperkuat pembinaan atlet dan prestasi olahraga di Kota Batu.
“Harapan kami, Muskot ini menjadi momentum regenerasi kepemimpinan yang mampu membawa olahraga Kota Batu semakin berprestasi dan kompetitif di berbagai ajang regional maupun nasional,” tutupnya. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




