MALANG POST – Fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali membawa dampak domino yang mencekik napas industri rakyat di daerah. Di Desa Beji, Kota Batu—yang tersohor sebagai sentra perajin tempe—para pelaku usaha rumahan harus kembali memutar otak akibat melambungnya harga kedelai impor sebagai bahan baku utama.
Ketergantungan yang masih sangat tinggi pada pasokan luar negeri membuat biaya produksi tempe membengkak drastis. Kendati demikian, alih-alih lempar handuk dan menutup pabrik, para perajin di kawasan hulu ini memilih tetap bertahan menyalakan tungku produksi.
Sengkarut ketergantungan bahan baku impor, strategi diversifikasi olahan, hingga penguatan wisata edukasi tempe ini dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Rabu (22/7/2026) hari ini. Otoritas sentra usaha, Diskumperindag, hingga pakar teknologi pangan perguruan tinggi membedah formula penyelamatannya.
Pengelola Wisata Edukasi Kampung Tempe Beji, Achmad Dwi, mengungkapkan bahwa piring nasi mayoritas warga Desa Beji bersumber dari usaha pembuatan tempe. Hal inilah yang memicu ketahanan mental para perajin untuk terus berproduksi meski margin keuntungan makin menipis.
“Populasi perajin di Kampung Tempe Beji sejauh ini relatif stabil, bahkan ada tren bertambah di sektor olahan turunan seperti keripik tempe. Kami sebenarnya pernah mencoba beralih menggunakan kedelai lokal.”
“Sayangnya, ketersediaan kedelai lokal di pasaran masih sangat terbatas dan karakteristik fisiknya berbeda, sehingga belum mampu memenuhi skala produksi besar. Kami sangat berharap pasokan kedelai lokal ke depan diperkuat agar industri tempe di daerah bisa benar-benar mandiri,” tegas Achmad Dwi.
Inovasi Tempe Non-Kedelai dan Sentuhan Digital
Peluang besar industri olahan pangan ini diakui oleh Fungsional Penyuluh Industri dan Perdagangan Ahli Muda Diskumperindag Kota Batu, Yossi Hendrawan Saraswanto. Menurutnya, skala usaha rumahan di Beji adalah motor penggerak utama ekonomi kerakyatan yang tidak boleh dibiarkan tumbang.
Diskumperindag Kota Batu terus mengguyur para pelaku usaha dengan pembinaan komprehensif, mulai dari peningkatan kapasitas SDM, perbaikan mutu pengemasan (packaging), penguatan legalitas, hingga penetrasi pasar digital.
“Di tengah mahalnya kedelai, kami mendorong lahirnya inovasi produk, termasuk riset tempe berbasis kacang-kacangan alternatif. Selain itu, optimalisasi promosi lewat media sosial dan integrasi dengan paket Wisata Edukasi Kampung Tempe terbukti ampuh menyedot perhatian generasi muda sekaligus memperluas jangkauan pasar secara nasional,” urai Yossi.
Diversifikasi Bahan Baku dan Produk Turunan Premium
Memberikan sudut pandang ilmiah, Kepala Laboratorium Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Winarasih, menegaskan bahwa masa depan industri tempe Indonesia tidak boleh terus-menerus disandera oleh kedelai impor.
Sri menyodorkan solusi radikal berupa diversifikasi bahan baku menggunakan komoditas kacang-kacangan lokal yang melimpah di tanah air, seperti kacang hijau, kacang tolo, hingga kacang benguk. Dari sisi medis dan nutrisi, varian tempe non-kedelai ini memiliki nilai fungsional dan manfaat kesehatan yang tidak kalah tinggi.
“Tidak cukup hanya mengganti bahan baku, cara pandang terhadap produk juga harus diubah. Perajin jangan hanya menjual tempe papan mentah. Kembangkan produk turunan yang bernilai jual tinggi (high value) seperti nugget tempe, tepung tempe, brownies berbahan dasar tempe, hingga camilan sehat berbasis tempe.”
“Dengan branding yang kuat dan sentuhan teknologi pangan, tempe akan naik kelas dari sekadar lauk murah menjadi produk kuliner bernilai tinggi,” pungkas Sri.
Kenaikan harga kedelai impor memang menjadi ujian berat bagi perajin Desa Beji. Namun, ketangguhan warga yang dipadu dengan pendampingan dinas serta inovasi riset dari akademisi menjadi bukti bahwa tempe Batu tak akan mudah gulung tikar.
Kini, keberlanjutan sentra industri ini bertumpu pada keberanian perajin untuk melompat dari zona nyaman: beralih ke diversifikasi olahan premium atau terus pasrah pada pergerakan kurs dolar. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




