MALANG POST – Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib menerima audiensi Muhammad Khofi, mahasiswa Universitas Al Qolam Gondanglegi yang akan mewakili Kabupaten Malang dalam International Conference Santri Mendunia Batch 6 Chapter Malaysia, Singapura, dan Thailand, di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Kamis (9/7/2026).
Dari Gondanglegi menuju forum internasional.
Muhammad Khofi, mahasiswa Universitas Al Qolam, bersiap membawa nama Kabupaten Malang dalam International Conference Santri Mendunia Batch 6 Chapter Malaysia, Singapura, dan Thailand yang dijadwalkan berlangsung mulai 11 Agustus 2026.
Menjelang keberangkatannya, Khofi diterima Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang. Ia datang didampingi Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Al Qolam, Abdul Rofiq.
Lathifah mengapresiasi pencapaian mahasiswa tersebut, yang dinilai mampu menembus forum internasional. Menurutnya, kesempatan itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperluas wawasan sekaligus membawa nama daerah.
“Mas Khofi ini mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan seminar di luar negeri bersama pemuda-pemuda dari beberapa negara.”
“Prinsip Kabupaten Malang sangat mendukung karena pemuda adalah calon pemimpin masa depan. Sehingga kita bekali, kita persiapkan, dan kita dorong beraktualisasi diri atas potensi-potensi yang dimiliki,” kata Lathifah.

AUDIENSI: Wabup Lathifah saat menerima Muhammad Khofi, sebelum bertolak ke tiga negara untuk mengikuti International Conference. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Dalam audiensi tersebut, keduanya juga berdiskusi mengenai sejumlah isu yang berpotensi menjadi bahan pembahasan pada konferensi.
Lathifah mengaku menitipkan salah satu isu yang menurutnya sedang menjadi perhatian di Kabupaten Malang, yakni persoalan LGBT.
Ia berharap topik tersebut dapat menjadi bahan diskusi bersama peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk mengetahui berbagai sudut pandang sesuai norma dan latar belakang masing-masing negara.
“Saya titipkan terkait isu LGBT ini agar dibawa ke ranah internasional. Antara Indonesia dan Malaysia hampir sama terkait pegangan agamanya dan budayanya yakni Melayu.”
“Kemudian yang tidak begitu memperhatikan masalah agama yakni Singapura dan Thailand. Bagaimana pendapat dari para pemuda baik dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura terkait sudut pandangnya dalam menanggapi keberadaan LGBT dengan batasan norma dan agama. Kalau sebagai muslim jelas LGBT ini tidak sesuai dengan norma agama Islam,” ujar Lathifah.
Selain mendorong Khofi aktif berdiskusi selama konferensi, Lathifah juga berharap pengalaman yang diperoleh tidak berhenti pada peserta yang berangkat.
Ia meminta Khofi menyusun laporan hasil konferensi setelah kembali ke Indonesia. Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibagikan kepada kalangan pemuda Kabupaten Malang melalui berbagai kegiatan yang difasilitasi pemerintah daerah.
“Nanti saya mau minta hasil konferensi kepada Mas Khofi. Ketika ada kegiatan kepemudaan di Kabupaten Malang, nantinya Mas Khofi bisa diundang untuk menyampaikan pengalaman selama mengikuti kegiatan di luar negeri. Artinya, ilmunya ditularkan, jangan dipakai sendiri,” katanya.
Lathifah menambahkan, dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan kapasitas generasi muda akan terus diperkuat. Menurutnya, hasil konferensi tersebut juga akan disampaikan kepada Bupati Malang sebagai bahan tindak lanjut melalui organisasi perangkat daerah yang memiliki kewenangan di bidang kepemudaan.
Bagi Khofi, konferensi di Malaysia, Singapura, dan Thailand bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Ia membawa nama kampus, Kabupaten Malang, sekaligus harapan agar pengalaman internasional itu dapat kembali memberi manfaat bagi daerah asalnya. (PKP/Ra Indrata)




