PATUNG SEMAR: Seniman Kota Batu, Agus Sujito saat menunjukkan karyanya berupa patung semar. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
MALANG POST – Galeri Raos Kota Batu bakal menghadirkan suasana berbeda mulai akhir pekan ini. Di antara deretan karya yang dipamerkan, sebuah patung Semar berukuran cukup besar dipastikan mencuri perhatian pengunjung.
Patung berbahan fiber itu menggambarkan sosok Semar tengah memanggul bingkisan berbalut bendera Merah Putih. Sementara itu, di tangan kanannya terikat pita putih bertuliskan PMI lengkap dengan logonya. Sekilas tampak sederhana, namun di balik detail tersebut tersimpan kritik sosial yang cukup tajam.
Karya itu merupakan buah tangan Agus Sujito, seniman asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Melalui tokoh punakawan yang dikenal bijaksana tersebut, Agus mencoba menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi bangsa saat ini.
Menurut dia, sejumlah kebijakan pemerintah belakangan dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat. Agus secara terbuka menyinggung beberapa program nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang dinilainya masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
“Menurut pandangan saya, Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dalam arti, sedang sakit,” ujar Agus, Jumat (10/7/2026).
Kegelisahan itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam karya seni. Agus menilai, yang sedang mengalami “sakit” bukan kondisi fisik para pemimpin, melainkan akal sehat dalam mengambil kebijakan.
Karena itu, ia memilih Semar sebagai simbol utama. Dalam khazanah pewayangan Jawa, Semar dikenal sebagai figur sederhana, bijaksana, sekaligus penasihat para pemimpin. Tokoh ini juga kerap menjadi representasi suara rakyat kecil.
“Semar saya maknai sebagai petugas bumi yang hadir untuk menyembuhkan Indonesia secara spiritual. Secara fisik pejabat kita sehat, tetapi akal sehatnya yang menurut saya sedang sakit,” katanya.
Setiap elemen dalam patung itu sengaja dibuat sarat makna. Bingkisan berbalut Merah Putih melambangkan beban negara yang dipikul bersama. Sementara itu, pita PMI menjadi simbol nilai kemanusiaan, kepedulian, dan upaya penyembuhan.
Bagi Agus, pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan program dan pembangunan fisik. Lebih dari itu, diperlukan kepekaan nurani serta keberanian untuk mendengarkan suara masyarakat.
“Harapannya, publik bisa merenung lewat karya ini. Membangun negeri tidak cukup dengan infrastruktur dan berbagai program, tetapi juga membutuhkan nurani dan akal sehat,” imbuhnya.
Patung tersebut akan dipamerkan bersama puluhan karya seniman lainnya dalam pameran seni di Galeri Raos Kota Batu yang dibuka mulai 11 Juli hingga akhir Juli 2026.
Selama ini, Galeri Raos memang dikenal sebagai ruang ekspresi bagi para seniman di Kota Batu untuk menyampaikan gagasan, kritik sosial, hingga refleksi atas berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat.
Agus berharap pameran kali ini tidak sekadar menjadi ajang menikmati karya dari sisi estetika. Lebih jauh, ia ingin ruang seni dapat menjadi jembatan dialog antara seniman, pemerintah, dan masyarakat.
“Kalau ada pejabat yang melihat dan memahami karya ini, berarti pesannya sampai. Kalau merasa tersentuh, berarti masih ada akal sehat yang bekerja,” pungkasnya. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




