PERDANA: Alfreandra Dewangga saat berlatih bersama Bayu Setiawan, ketika awal datang ke Malang. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Alfreandra Dewangga datang ke Arema FC dengan target besar. Bek yang sebelumnya bermain di Persib Bandung itu ingin membawa Singo Edan bersaing di papan atas Super League 2026-2027, bahkan menyebut peluang tim barunya menjadi juara mencapai 80 persen.
Namanya Dewa. Lengkapnya Alfreandra Dewangga.
Begitu datang ke Arema FC, pemain berusia 25 tahun itu langsung ditanya soal target. Jawabannya tidak berputar-putar: juara.
“Juara dong, pasti itu target utama. Semua pemain pasti target utamanya juara,” kata Dewangga, dalam sesi wawancara yang tayang di kanal Arema FC Official TV.
Kalaupun harus menyebut batas minimal, Dewa juga sudah punya angka. Arema harus berada di papan atas. Setidaknya masuk lima besar Super League 2026-2027.
“Kita berusaha untuk tim kebanggaan kita berada di papan atas. Minimal papan atas, satu, dua, tiga sampai lima. Itu target utama,” ujarnya.
Dewangga bahkan berani memberi angka untuk peluang Arema menjadi juara: 80 persen.
Mengapa tidak 100 persen?
“Kalau 100 persen enggak mungkin. Kesempurnaan milik Tuhan,” jawabnya.
Dewa memang tidak datang ke Malang hanya untuk berganti seragam. Ia ingin membayar kepercayaan Arema dengan performa dan prestasi. Target pribadinya sederhana, tetapi tidak ringan: bermain sebaik mungkin, membantu tim, membuat Aremania senang, dan membawa Singo Edan kembali ke papan atas.
Ada satu hal lain yang langsung dirasakannya begitu mulai berlatih bersama Arema: dingin.
Sebelumnya, ketika berlatih di Bandung, Dewa terbiasa memulai latihan sekitar pukul 09.00 WIB. Udara sudah cukup panas. Di Malang, ceritanya berbeda.
“Kalau tadi berangkat latihan, rasanya muka seperti di lemari es, kulkas. Aduh, dingin banget,” katanya.
Mandi pagi dengan air dingin pun menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan udara Malang.
Namun, soal situasi di dalam tim, Dewa sudah mencari informasi sebelum datang. Pertanyaan pertamanya justru bukan soal sepak bola. Ia mencari rumah.
Maklum, Dewa datang bersama keluarga. Ia sudah memiliki istri dan anak.
“Pertama yang saya tanya rumah karena saya punya istri, punya anak. Jadi pertama kali rumah. Kedua, kondisi tim seperti apa, targetnya seperti apa, terus situasi teman-temannya seperti apa,” tuturnya.
Dari informasi yang diperolehnya, kondisi internal Arema dinilai bagus. Suasana kekeluargaan di dalam tim juga menjadi salah satu hal yang membuatnya nyaman.
Dewa membandingkannya dengan suasana ketika bermain di Semarang. Kekeluargaan yang kuat menjadi sesuatu yang sudah dikenalnya.
Kini, tantangan lain menunggu. Bermain di Malang berarti harus siap menghadapi tuntutan Aremania. Tekanan dari tribun, menurut Dewa, jauh lebih terasa daripada komentar netizen di media sosial.
Kalau komentar di media sosial, ia memilih tidak melihatnya. Berbeda dengan suara Aremania yang datang langsung ke stadion. Tidak ada tombol untuk mematikannya.
“Kalau medsos enggak usah dilihat, kan bisa jadi enggak stres. Kalau Aremania langsung di stadion, itu yang bikin pikiran buyar, yang bikin susah seperti itu,” ujarnya.
Di luar sepak bola, Dewa juga mulai belajar bahasa walikan khas Malang. Baru sedikit. Belum banyak. Namun, setidaknya ia sudah mulai mengenal kosakata yang akrab di telinga arek Malang.
Dewa juga sempat berbicara tentang Piala Dunia. Ia menjagokan Inggris karena menyukai karakter permainan cepat dan efektif.
Namun, untuk saat ini, fokus terdekatnya tetap Arema. Ia datang membawa target tinggi dan harapan untuk mengembalikan Singo Edan ke barisan elite liga.
Pesannya kepada Aremania pun singkat. Kali ini dengan sentuhan bahasa Jawa.
“Bareng-bareng, Le, berjuang. Mugo-mugo Arema iso papan atas.”
Salam satu jiwa. (Ra Indrata)




