MALANG POST – Mengelola urusan air bersih di kota berpenduduk padat tidak bisa lagi menggunakan cara-cara kuno: sekadar menyambung pipa, lalu pasrah menunggu air mengalir. Di era modern, air harus dikelola dengan otak digital yang cerdas.
Lompatan teknologi inilah yang kini sedang dipamerkan oleh Perumda Tugu Tirta Kota Malang. Mengusung konsep raksasa bertajuk Smart Water City, perusahaan pelat merah milik Pemkot Malang ini sukses menyulap manajemen air dari hulu ke hilir berbasis sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi.
Hebatnya, sistem manajemen air arek Malang ini tidak hanya dinikmati warga lokal, melainkan resmi menjadi barang dagangan inovasi yang dilirik banyak kepala daerah di tingkat nasional.
Siasat digitalisasi air dan tantangan kelestarian lingkungan ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Selasa (7/7/2026) hari ini. Otoritas BUMD dan pakar teknik pengairan blak-blakan menakar keandalan sistem ini di tengah ledakan populasi perkotaan.
Direktur Utama Perumda Tugu Tirta sekaligus Ketua PD Perpamsi Jawa Timur, Priyo Sudibyo, membeberkan isi jeroan dari ekosistem Smart Water City tersebut. Di dalamnya, tertanam sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang mampu memantau debit dan distribusi air secara otomatis dan waktu nyata (real-time).
“Kami juga meluncurkan Tania, asisten layanan pelanggan berbasis AI. Melalui sistem ini, konsumen bisa mendeteksi gangguan jaringan secara detail, melihat estimasi waktu perbaikan, hingga memantau proses penyelesaian pipa cukup lewat layar ponsel. Selain itu, kami sediakan 166 titik Anjungan Air Siap Minum (ZAMP) gratis untuk publik,” urai Priyo.
Inovasi ini baru saja dipamerkan Tugu Tirta dalam ajang bergengsi Indonesia City Expo (ICE) 2026 pada Rakernas APEKSI di Kota Medan, Sumatera Utara. Hasilnya memuaskan: sejumlah wali kota dari berbagai wilayah di Indonesia menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi sistem cerdas milik Malang ini di daerah masing-masing.
Ancaman Eksploitasi Air Tanah dan Bom Waktu Pipa Tua
Namun, di tengah gemerlapnya panggung pameran di Medan, catatan kritis tetap ditiupkan dari menara akademis dalam negeri.
Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB), Sebrian Mirdeklis Beselly Putra, mengingatkan bahwa pertumbuhan penduduk Kota Malang berbanding lurus dengan meroketnya permintaan pasokan air bersih. Tantangan terbesarnya bukan hanya menyediakan air minum, melainkan menghentikan kebiasaan buruk warga yang masih gemar menyedot air tanah secara ilegal.
“Eksploitasi air tanah yang ugal-ugalan sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan dan stabilitas struktur tanah perkotaan. Kehadiran Smart Water City harus mampu menjadi magnet yang mengalihkan ketergantungan masyarakat dari air sumur bor ke layanan air perpipaan resmi yang lebih ramah lingkungan,” analisis Sebrian.
Sebrian juga mengingatkan manajemen Tugu Tirta agar tidak terlena dengan kecanggihan aplikasi di atas kertas. Ada bom waktu fisik di bawah aspal jalanan Kota Malang: korosi infrastruktur.
“Teknologi digital seperti SCADA itu sangat bagus. Tapi yang paling krusial di lapangan adalah merawat fisik infrastruktur pipanya. Banyak jaringan pipa di Malang yang usianya sudah uzur. Jika perawatan fisiknya kendur, digitalisasi secanggih apa pun tidak akan mampu membendung kerugian akibat pipa bocor yang berulang,” pungkasnya.
Inovasi Smart Water City telah membuktikan bahwa manajemen air Kota Malang selangkah lebih maju di panggung nasional. Aplikasi Tania sudah diaktifkan, ratusan anjungan ZAMP sudah disebar. Kini, ujian sesungguhnya berada di tangan konsistensi Perumda Tugu Tirta: mampukah kecanggihan sistem AI ini berbanding lurus dengan kecepatan penambalan pipa tua di lapangan, sekaligus menyadarkan warga untuk menyetop sedotan air tanah demi masa depan lingkungan kota. (Wulan Indriyani / Ra Indrata)




