MALANG POST – Mantan gelandang legendaris Timnas Indonesia dan ikon Arema, Ahmad Bustomi, secara resmi ditunjuk PSSI untuk mengemban tugas baru, sebagai asisten pelatih Timnas U-17 Indonesia guna mendampingi juru taktik utama asal Portugal, David Nascimento, dalam mempersiapkan tim menghadapi berbagai agenda kompetisi internasional. Kabar penunjukan staf kepelatihan baru yang dirilis akhir pekan ini, langsung diikuti dengan ujian perdana di lapangan, saat skuad Garuda Muda ditahan imbang 1-1 oleh Malaysia dalam laga uji coba Garuda Championship Series 2026 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (4/7/2026) malam WIB.
Mengasah bakat-bakat muda di level usia dini itu tidak cukup hanya dibekali dengan modul taktik impor berskala Eropa. Berkas di atas kertas bisa mental. Dibutuhkan sosok mentor lokal yang paham betul seluk-beluk atmosfer kompetisi domestik, memiliki rekam jejak kepemimpinan yang disegani, serta mampu menularkan ketenangan mental di atas lapangan.
Kepingan guru spiritual sepak bola itulah yang kini dihadirkan PSSI di dalam ruang ganti Garuda Muda.
Guna menyongsong ketatnya persaingan internasional, PSSI resmi merombak jajaran staf kepelatihan Timnas U-17. Kursi pelatih kepala memang diserahkan kepada David Nascimento, arsitek berlisensi UEFA Pro asal Portugal yang pernah menjadi tangan kanan Louis van Gaal.
Namun, keputusan paling menarik justru ada pada penunjukan pendampingnya. PSSI resmi memanggil pulang salah satu dirigen lapangan tengah terbaik yang pernah dimiliki negeri ini: Ahmad Bustomi.
Pemain kelahiran Jombang, 13 Juli 1985 ini akan bahu-membahu bersama legenda sepak bola lainnya, Simon Tahamata, di jajaran asisten pelatih.
Bagi pencinta sepak bola nasional, nama Bustomi adalah jaminan mutu. Selama lebih dari satu dekade menghuni lini tengah Timnas, dia dikenal sebagai sang pengatur ritme pertandingan. Visi bermainnya tajam, akurasi umpan pendek dan panjangnya mematikan, serta memiliki kemampuan langka dalam mengendalikan tensi laga.
Publik tentu belum lupa bagaimana magis duet Bustomi bersama Firman Utina di bawah asuhan Alfred Riedl yang berhasil membawa Indonesia melaju hingga ke babak final Piala AFF 2010. Puncak kejayaan yang melahirkan standar tinggi bagi gelandang modern Indonesia.
Kini, setelah gantung sepatu, Bustomi dituntut membagikan seluruh sari pati pengalaman batinnya kepada anak-anak muda usia 17 tahun. Karakter keras sepak bola tanah air harus dia transformasi menjadi motivasi bertanding yang sehat.
Bustomi tidak sendirian mengawal pembinaan menyeluruh ini. PSSI juga melengkapi skuad di balik layar dengan menunjuk Muhamad Alimudin sebagai pelatih fisik, Arief Priyadhi di pos pelatih penjaga gawang, serta Taufik Nur Hidayat sebagai analis video.
Ujian perdana dari racikan kombinasi Eropa-Lokal ini langsung tersaji di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (4/7) malam. Menghadapi rival abadi Malaysia dalam ajang Garuda Championship Series 2026, laga ini sekaligus menandai debut resmi David Nascimento di pinggir lapangan.
Nascimento langsung menurunkan pakem andalannya: formasi agresif 4-3-3. Menuntut penguasaan bola dominan dan organisasi permainan yang rapi dari kaki ke kaki.
Pertandingan berjalan ketat. Kebuntuan baru pecah pada menit ke-80. Berawal dari penetrasi tajam Chico Jericho, bola muntah hasil tepisan kiper Malaysia langsung disambar dengan sepakan cepat oleh Dhamar Try Kusuma. Gol! Stadion Manahan bergemuruh. Indonesia memimpin 1-0. Kemenangan sudah di depan mata.
Apes. Tepat pada detik-detik akhir sebelum wasit meniup peluit panjang, petaka datang dari skema pojok Malaysia. Bek Indonesia, Valdo Putra, melompat berniat menghalau bola udara dengan sundulan kepalanya.
Niat baik itu berujung tragi-komedi. Arah si kulit bundar justru berbelok tajam menipu kiper sendiri dan masuk ke dalam gawang. Gol bunuh diri yang menyakitkan. Skor berubah imbang 1-1 dan bertahan hingga laga bubar. Kemenangan yang sudah digenggam buyar seketika akibat kurangnya konsentrasi di menit krusial.
Era baru kepelatihan sudah dimulai dengan hasil imbang yang menyesakkan dada, formasi 4-3-3 sudah diujikan, dan jajaran pelatih baru sudah diperkenalkan. Sekarang tinggal Ahmad Bustomi ditantang dengan tugas barunya: sanggupkah sentuhan mentormu menghapus kecerobohan lini belakang dan membentuk mentalitas pemenang pada diri para pemain muda di laga berikutnya? Kita tunggu buah kerjanya. (Ra Indrata)




