SURABAYA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di seluruh SMA, SMK, dan SLB negeri di Jawa Timur dipastikan berlangsung tanpa perpeloncoan, intimidasi, maupun atribut yang tidak relevan. Dinas Pendidikan Jawa Timur mengarahkan MPLS menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan literasi digital, serta lingkungan belajar yang aman dan ramah bagi siswa baru.
Hari pertama masuk sekolah semestinya menjadi awal yang menyenangkan. Bukan hari yang membuat siswa baru cemas karena perpeloncoan, intimidasi, atau tugas membawa barang-barang yang tidak masuk akal. I
tulah wajah baru MPLS yang ingin diwujudkan Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur pada tahun ajaran 2026/2027.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan seluruh SMA, SMK, dan SLB di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur wajib menerapkan MPLS Ramah sesuai pedoman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menurutnya, masa transisi menuju jenjang pendidikan baru harus menjadi pengalaman yang membangun rasa percaya diri peserta didik, bukan meninggalkan trauma.
“Kami memastikan tidak ada lagi atribut aneh-aneh, intimidasi, apalagi perpeloncoan selama MPLS 2026. Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan adaptif sejak hari pertama anak melangkah masuk,” tegas Aries, Jumat (3/7/2026).

SAPA SISWA: Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai saat menyapa siswa. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Komitmen tersebut tidak berhenti pada instruksi. Dindik Jatim juga mulai mematangkan kesiapan sekolah, termasuk melakukan pemantauan di wilayah Malang Raya.
Aries menjelaskan, orientasi MPLS kini tidak lagi sebatas memperkenalkan lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut diarahkan menjadi sarana membangun karakter, menanamkan budaya sekolah yang positif, sekaligus membekali siswa menghadapi tantangan di era digital.
Karena itu, materi MPLS diperluas dengan berbagai isu yang dekat dengan kehidupan remaja. Mulai dari kampanye anti-perundungan (bullying), pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga edukasi literasi digital untuk mengantisipasi ancaman judi online dan pinjaman online yang semakin banyak menyasar pelajar.
Selain pembentukan karakter, sekolah juga diminta mulai memetakan potensi peserta didik sejak pekan pertama. Pengenalan budaya belajar, fasilitas sekolah, serta identifikasi minat dan bakat siswa menjadi bagian penting dalam proses adaptasi.
Di Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, pelaksanaan MPLS akan mendapat pengawasan khusus melalui sinergi Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang-Batu bersama pemerintah daerah.
Pengawasan dilakukan agar seluruh sekolah menjalankan MPLS sesuai ketentuan tanpa membebani siswa maupun orang tua.
Dindik Jatim juga mengingatkan sekolah untuk menghentikan kebiasaan memberikan tugas membawa atribut atau perlengkapan yang tidak memiliki nilai edukatif karena berpotensi memberatkan wali murid.
Sebagai bentuk perlindungan terhadap peserta didik, setiap sekolah diwajibkan menyediakan layanan pengaduan yang mudah diakses oleh siswa maupun orang tua.
Mekanisme tersebut menjadi saluran resmi apabila ditemukan dugaan perpeloncoan, kekerasan fisik, intimidasi verbal, maupun bentuk pelanggaran lainnya selama MPLS berlangsung.
Aries menegaskan, Dindik Jatim tidak akan mentoleransi sekolah yang melanggar pedoman MPLS Ramah. Sanksi mulai dari surat peringatan hingga tindakan tegas terhadap kepala sekolah akan diberikan apabila ditemukan praktik kekerasan atau kegiatan yang menyimpang.
Transparansi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MPLS. Seluruh sekolah wajib menyampaikan susunan kegiatan, materi, narasumber, hingga lokasi pelaksanaan kepada orang tua sejak awal.
Apabila terdapat kegiatan di luar lingkungan sekolah, pelaksanaannya hanya dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan tertulis dari wali murid.
Aries berharap seluruh rangkaian kebijakan tersebut mampu menjadikan MPLS sebagai pengalaman pertama yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa baru.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang harus mampu memberikan rasa aman, membangun karakter, sekaligus menjadi pondasi lahirnya generasi Anak Indonesia Hebat yang sehat, berprestasi, dan berakhlak baik,” pungkasnya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




