FGD: Prof. Dr. Siswanto, SE, M.Si, membuka FGD riset "JATIM MELAJU" di UIN Malang. FGD diikuti empat perguruan tinggi. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Guna menghadapi persaingan global, perguruan tinggi dituntut untuk terus meningkatkan kualitas kinerja penelitian sebagai bagian dari upaya menuju world class university. Produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah pada jurnal serta forum ilmiah bereputasi menjadi salah satu indikator penting dalam pengakuan internasional tersebut. Oleh karena itu, kolaborasi riset menjadi strategi kunci untuk memperkuat kapasitas keilmuan, memperluas jejaring akademik, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya riset yang dimiliki perguruan tinggi.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi (FE) UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Prof. Dr. Siswanto, SE, M.Si, seusai FGD terkait riset Program “JATIM MELAJU” di FE UIN Malang, kemarin.
Menurutnya, program JATIM MELAJU merupakan wadah kolaborasi penelitian yang melibatkan lima Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dan sembilan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Timur. Program ini diarahkan untuk membangun sinergi riset yang inklusif dan berkelanjutan guna menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, relevan, danberdampak nyata bagi masyarakat. Selain memperkuat kolaborasi antar perguruan tinggi, Program JATIM MELAJU juga membuka peluang kemitraan strategis dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), Pemerintah Daerah, dan/atau Kementerian/Lembaga (K/L) dalam rangka mendorong pemanfaatan dan hilirisasi hasil riset.
Diungkapkan Prof. Siswanto, program JATIM MELAJU juga disusun selaras dengan RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025–2029 yang dibangun atas sembilan misi prioritas Nawa Bhakti Satya, serta sejalan dengan prinsip dan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) sebagai kerangka pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Harapannya bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan penelitian kolaboratif secara efektif, akuntabel, dan selaras dengan kebijakan nasional serta prioritas pembangunan Jawa Timur, sehingga Program JATIM MELAJU dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan daya saing perguruan tinggi, dan kesejahteraan masyarakat.
Program Penelitian JATIM MELAJU yang dilaksanakan diarahkan untuk menghasilkan solusi berbasis riset yang relevan dan aplikatif guna mendukung penyelesaian permasalahan strategis daerah, khususnya di Jawa Timur, serta berkontribusi pada pencapaian pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, lanjut dia, fokus riset Program JATIM MELAJU disusun untuk mendukung arah pembangunan Provinsi Jawa Timur 2025–2029 sebagaimana tertuang dalam RPJMD yang berlandaskan sembilan misi prioritas Nawa Bhakti Satya. Program Penelitian JATIM MELAJU memfokuskan riset pada bidang-bidang prioritas sains, teknologi, dan sosial humaniora yang mendukung kemandirian nasional, peningkatan daya saing, dan pemanfaatan hasil riset untuk pembangunan.
“Kontribusi fokus riset JATIM MELAJU terhadap pembangunan Jawa Timur diwujudkan melalui tema Tanpa Kemiskinan (Jatim Sejahtera). Riset diarahkan untuk mendukung percepatan penurunan kemiskinan melalui penguatan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat rentan, penciptaan lapangan kerja, serta pemerataan akses layanan dasar, terutama di kawasan tertinggal dan perdesaan,” jelasnya.
Peserta FGD diwakili 4 perguruan tinggi yaitu Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang dihadiri oleh Prof Siswanto, SE., M.Si., Dr. Vivin Maharani Ekowati., M.Si., MM beserta tim; Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair yang diwakili oleh Eko Fajar Cahyono S.E., M.E., Ph.D beserta tim; Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (UM), dihadiri oleh Vika Annisa Qurrata S.E., M.E., Ph.D beserta tim dan Fakultas Sosiologi Politik Islam UIN Madura yang dihadiri oleh Prof. Dr. Mohammad Ali Al Humaidy beserta tim.
Adapun tujuan dari Forum Group Discussion kali ini membahas persistennya permasalahan kemiskinan, rendahnya kualitas pekerjaan, serta ketimpangan spasial antarwilayah di Provinsi Jawa Timur, yang tercermin dari disparitas tingkat kemiskinan dan dominasi pekerja informal dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Inti dari kegiatan ini adalah untuk menganalisis keterkaitan spasial antara kemiskinan dan kualitas tenaga kerja, mengidentifikasi sektor unggulan, sektor penyerap tenaga kerja terbesar, serta sektor dengan tingkat upah tertinggi, sekaligus merumuskan model integratif pemanfaatan dana ZISWAF dalam upaya peningkatan kualitas pekerja dan penurunan kemiskinan berbasis karakteristik wilayah.(*/Eka Nurcahyo)




