DARI KIRI: Andre Caldas dan Carlos Airon (asisten pelatih), Yusrinal Fitriandi (General Manager) dan Marcos Santos (Head Coach), saat berdiskusi di sela-sela latihan tim di musim kemarin. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi memperpanjang kontrak juru taktik asal Brasil, Marcos Santos, untuk mengomandoi skuad Singo Edan mengarungi kompetisi Super League 2026/2027. Langkah taktis mempertahankan pelatih berlisensi CONMEBOL Pro berusia 46 tahun ini, diikuti dengan pemberian hak veto penuh tanpa cawe-cawe manajemen, dalam menyusun komposisi tim. Termasuk perburuan 11 legiun asing, demi menebus kegagalan menembus papan atas pada musim lalu.
Di panggung sepak bola kita, memecat pelatih setelah gagal memenuhi target itu hal biasa. Lumrah sekali. Tapi, mempertahankan pelatih yang gagal membawa tim finis di posisi lima besar, lalu memberinya kekuasaan penuh untuk merombak skuad, itu cerita lain.
Butuh keberanian. Butuh kepercayaan tingkat tinggi dari dewan direksi.
Itulah perjudian indah yang kini sedang dimainkan oleh manajemen Arema FC. Mereka resmi memperpanjang napas Marcos Santos untuk satu musim ke depan. Juru taktik asal Brasil itu diberi kesempatan kedua, untuk melunasi utang prestasinya pada musim Super League 2025/2026 lalu.
Marcos tahu diri. Kontrak baru ini adalah ajang penebusan dosa. Pria berusia 46 tahun itu langsung memasang target tinggi: membawa Arema terbang ke papan atas.
Siasat pertamanya unik. Bukan cuma membenahi taktik di atas rumput. Marcos ingin belajar lebih dalam. Dia sadar, semusim di Indonesia belum cukup menjadikannya khatam.
“Saya akan mempelajari komunikasi. Saya harus lebih memahami liga ini secara menyeluruh. Memahami regulasi dengan baik,” ungkap Marcos jujur.
Manajemen Arema rupanya sangat menghargai proses belajar itu. Buktinya konkret: Marcos diberi hak penuh. Mutlak. Manajemen emoh cawe-cawe dalam urusan belanja pemain baru untuk musim 2026/2027.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi—akrab disapa Inal—membuka kartu itu. Marcos yang memegang kendali penuh untuk memantau, menyaring, dan merekomendasikan siapa saja yang layak memakai jersi Singo Edan.
“Dia sudah memahami kompetisi Indonesia, karakter pemain, dan kebutuhan tim. Bahkan ikut membantu proses pencarian pemain. Itu pertimbangan kami melanjutkan kerja sama,” jelas Inal, Senin (29/6/2026), melansir dari Surya.
Inal meniupkan bocoran panas. Urusan belanja pemain asing sebenarnya sudah rampung. Senyap. Pendekatan dan negosiasi di bawah tanah ternyata sudah digeber sejak empat bulan lalu, jauh sebelum kompetisi musim lalu bubar.
Arema dipastikan akan memaksimalkan kuota 11 legiun asing untuk musim depan. “Semua sudah tuntas. Tinggal diperkenalkan saja. Untuk pemain asing, semua yang milih adalah pelatih,” tambah Inal. Beberapa nama baru yang didatangkan bahkan belum pernah mencicipi rumput stadion di Indonesia.
Mari kita hitung kekuatannya. Sejauh ini, tiga pemain asing lama sudah aman diikat perpanjangan kontrak: Julian Guevara, Matheus Blade, dan Betinho.
Melihat klausul lama, Arema juga masih mengantongi nama Gustavo Franca, Walisson Maia, Joel Vinicius, dan Gabriel ‘Gabi’ Silva. Sisanya? Tinggal menunggu kejutan rilis resmi dari kantong Marcos Santos.
Gebrakan Arema di bursa transfer awal musim ini memang layak dinanti. Sebelum berburu legiun impor, mereka sudah sukses mengamankan dua kiper lokal berlabel Timnas: Erlangga Setyo dari PSPS Pekanbaru dan Syahrul Trisna dari Borneo FC.
Panggung kekuasaan sudah diserahkan total ke tangan pelatih Brasil, modal pemain lokal berkualitas sudah dicari, dan 11 pemain asing sudah dikunci. Sekarang tinggal Marcos Santos ditantang: sanggupkah ramuan penuhnya ini membawa Singo Edan mengaum di posisi teratas musim depan? Kita lihat saja pembuktiannya. (Ra Indrata)




