MALANG POST – Wali Kota Batu, Nurochman, secara resmi mengawali pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, dengan menerima kunjungan dan memberikan data pribadinya secara lengkap kepada petugas Badan Pusat Statistik (BPS) di Rumah Dinas Wali Kota Batu, Minggu (28/6/2026). Langkah taktis pimpinan daerah ini sengaja dilakukan, sebagai contoh nyata untuk menggerakkan partisipasi aktif warga dan pelaku usaha di tengah diterjunkannya 183 petugas lapangan guna memetakan kondisi ekonomi riil daerah secara akurat.
Menyusun program pembangunan ekonomi tanpa basis data yang valid itu ibarat berjalan di dalam kegelapan. Meraba-raba. Kebijakan yang dilahirkan birokrasi bisa salah sasaran, anggarannya mubazir, dan rakyat kecil yang akhirnya menanggung rugi.
Pemerintah tidak boleh menebak-nebak nasib isi dompet rakyatnya sendiri.
Sadar akan pentingnya kompas penunjuk arah itu, Wali Kota Batu Nurochman langsung memberikan contoh konkret. Minggu (28/6), Rumah Dinas Wali Kota Batu kedatangan tamu penting: para petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu. Mereka datang membawa misi nasional: Sensus Ekonomi 2026.
Tanpa canggung, pria yang akrab disapa Cak Nur ini mengikuti seluruh ritual pendataan. Dokumen dibuka, pertanyaan dijawab dengan lengkap dan jujur. Tindakan ini merupakan instruksi bisu dari wali kota kepada seluruh warganya: jangan ada yang disembunyikan dari petugas sensus.
Bagi politisi PKB tersebut, sensus ini bukan agenda sepintas lalu yang kaku dan administratif. Hasil dari pendataan ini akan menjadi fondasi raksasa dalam merancang cetak biru kebijakan ekonomi Kota Batu untuk tahun-tahun mendatang.
“Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang tepat dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat,” tegas Cak Nur.
Kalkulasi Cak Nur sangat presisi. Struktur ekonomi Kota Batu itu unik sekaligus kompleks. Denyut nadinya bertumpu pada kolaborasi banyak sektor mikro dan makro. Mulai dari industri pariwisata yang masif, sektor pertanian ladang, perdagangan, jasa, industri kreatif, hingga menjamurnya pelaku UMKM.

BERI KETERANGAN: Wali Kota Batu Nurochman saat memberikan keterangan kepada petugas Sensus Ekonomi yang datang ke rumah dinasnya. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Semua sektor itu sedang tumbuh dinamis. Maka, pemerintah daerah membutuhkan potret riil yang bersih dari manipulasi angka di lapangan. Harus dipetakan dengan jelas: bagaimana perkembangan riil pelaku usaha bawah, potensi apa yang masih tertidur, serta tantangan apa yang menghambat pertumbuhan mereka.
Batu membutuhkan basis data ekonomi yang kuat agar arah pembangunan jangka menengah dan panjang tidak meleset dari kebutuhan nyata para pelaku usaha di lapangan. Hasil sensus nantinya menjadi pijakan utama untuk merancang program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Karena itu, keterbukaan warga menjadi harga mati. Kualitas angka statistik ditentukan dari kejujuran lisan masyarakat saat menjawab pertanyaan petugas.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dengan memberikan data yang sebenar-benarnya kepada petugas,” seru Cak Nur.
Sebab, di balik barisan angka statistik yang dikumpulkan nanti, ada nasib riil dan arah masa depan kesejahteraan wong Batu yang sedang dipertaruhkan.
Sebelumnya, genderang perang terhadap data buram ini sudah ditabuh. Sebanyak 183 petugas Sensus Ekonomi 2026 resmi diterjunkan ke jalanan untuk menyisir seluruh sudut wilayah Kota Batu. Ratusan anak muda ujung tombak ini merupakan warga lokal Batu yang telah ditempa melalui pelatihan teknis ketat oleh BPS.
Mereka akan mendatangi satu per satu pintu rumah dan tempat usaha warga. Cak Nur mengingatkan bahwa momentum ini sangat krusial karena sensus model ini hanya digelar sekali dalam kurun waktu 10 tahun.
“Ini sangat urgent. Validitas data itu sangat penting, apalagi sensus ini dilaksanakan setiap 10 tahun,” tutupnya. Petugas sudah bergerak, wali kota sudah memberi contoh, sekarang tinggal kejujuran masyarakat Batu yang ditagih di depan pintu rumah masing-masing. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




