SANTUNAN: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, disaksikan Kepala Kemenag dan Ketua BAZNAS, menyerahkan santunan kepada penyandang disabilitas, saat acara 10 Muharram 1448 H, atau lebaran anak yatim-piatu, di MAN 2 Kota Malang, Kamis (25/07/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Pemerintah Kota Malang bersama Kementerian Agama (Kemenag) dan BAZNAS Kota Malang, menyalurkan dana santunan umat sebesar Rp193.475.000 kepada 650 anak yatim piatu dan penyandang disabilitas dalam rangka memperingati Lebaran Muharram 1448 Hijriyah di Aula MAN 2 Kota Malang, Kamis (25/6/2026). Kegiatan sosial keagamaan yang dibuka langsung oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat ini, ditujukan sebagai bentuk pemerataan jaminan sosial sekaligus momentum kampanye gerakan sadar wakaf nasional.
Memuliakan anak yatim itu tidak boleh musiman. Apalagi jika hanya dijadikan panggung pencitraan tahunan yang kaku.
Menaruh kepedulian pada nasib mereka adalah urusan mengetuk nurani. Sekaligus menguji seberapa peka kesalehan sosial sebuah kota.
Spirit kemanusiaan itulah yang kemarin berdenyut kencang di lingkungan pendidikan Kota Malang.
Kamis (25/6/2026), Aula MAN 2 Kota Malang mendadak riuh oleh tawa anak-anak. Mereka adalah para tamu istimewa: 650 anak yatim piatu yang datang didampingi rekan-rekan penyandang disabilitas.
Hari itu adalah hari besar mereka. Lebaran Muharram 1448 Hijriyah.
Acara massal ini dibuka langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Di hadapan para hadirin, Wahyu memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi nyata ini.

CERIA: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat foto bersama dengan semua tamu undangan yang hadir, pada acara 10 Muharram 1448 H. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Menurutnya, esensi bulan Muharram bukan terletak pada megahnya perayaan, melainkan pada ketulusan untuk saling berbagi.
“Kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak yatim, sekaligus membersamai anak-anak yang disabilitas. Kita bahagiakan sekalian pada bulan penuh keberkahan ini,” ujar Wahyu Hidayat.
Politisi Gerindra ini juga menitipkan pesan tajam, khususnya bagi internal ASN di lingkungan Pemkot Malang.
Wahyu menggugat kepekaan mereka. Kepedulian, katanya, harus dimulai dari lingkungan terdekat. Tidak perlu menunggu acara seremonial besar.
Tengok kanan-kiri rumah dinas atau rumah pribadi, pastikan tetangga yang yatim atau kurang mampu ikut mendapatkan perhatian. “Mengingat nasib mereka, siapa lagi kalau bukan kita bersama,” imbuhnya.
Manajemen pengumpulan dana umat kali ini dikelola secara modern dan transparan. Kepala Kemenag Kota Malang, Achmad Shampton, membeberkan dapur bisnis sosialnya.
Ini adalah tahun ketiga Kemenag berduet dengan BAZNAS setempat untuk menggelar lebaran anak yatim.
Sebelumnya, acara serupa sukses digelar di Masjid Agung Jami’ dan lingkungan Balai Kota.
Gus Shampton—sapaan akrabnya—menyebut uang amal yang berhasil dihimpun dari gotong royong para ASN Kemenag, BAZNAS, dan organisasi sosial kali ini menembus angka Rp193.475.000.
Duit ratusan juta itu ditashorrufkan alias didistribusikan secara merata ke lima kecamatan di Kota Malang.
Agar tidak meleset, Kemenag memakai sistem pendataan digital yang ketat. “Sudah terdata lewat sistem secara tepat sasaran,” tegas Gus Shampton.
Menariknya, momentum ini tidak dilepas begitu saja. Kemenag ikut menyelipkan misi strategis: mengampanyekan gerakan Bulan Wakaf. Tujuannya agar masyarakat melek bahwa wakaf bukan cuma urusan kuburan atau masjid, melainkan instrumen pemberdayaan ekonomi umat yang dahsyat.
Di tempat yang sama, Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd, tersenyum lebar. Menjadi tuan rumah bagi ratusan anak yatim adalah berkah barokah raksasa bagi madrasah yang dipimpinnya.
Samsudin berharap, doa-doa tulus dari para anak yatim hari itu bisa membawa kemudahan bagi MAN 2 yang kini sedang gencar melakukan upgrade layanan pendidikan.
Targetnya tinggi dan berkelas: mengejar layanan prima berpredikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) hingga Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Duit amal sudah disalurkan secara digital, doa-doa terbaik sudah dipanjatkan ke langit. Kini tinggal satu pekerjaan rumah: memastikan konsistensi kepedulian itu tetap menyala setelah bulan Muharram berlalu. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




