MALANG POST – Di era serbadigital seperti sekarang, listrik bukan lagi sekadar urusan penerangan lampu di malam hari. Listrik adalah jantungnya ekonomi. Begitu sakelar padam, mati pula seluruh urusan isi perut bisnis modern.
Gelombang pemadaman listrik tanpa informasi yang jelas di Kota Malang belakangan ini, sukses memicu badai kerugian bagi pelaku usaha.
Akibat jadwal dan durasi pemadaman yang mendadak, ratusan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kelabakan karena tidak memiliki infrastruktur penunjang darurat seperti generator set (genset).
Dampak mengerikan dari “mati lampu” ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM pada Rabu (24/6/2026). Otoritas pengusaha dan akademisi blak-blakan merinci kerugian materiil akibat hilangnya pasokan setrum.
Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, membeberkan bahwa sektor kuliner (Food and Beverage/FnB) menjadi korban paling babak belur dalam fenomena ini.
”Mayoritas kerugian besar terjadi di bisnis FnB. Mulai dari bahan baku makanan yang membusuk di dalam kulkas mati, hingga gerai-gerai luring (offline) yang lumpuh total tidak bisa melayani pembeli.”
“Peralatan modern seperti blender, oven, mixer, sampai mesin kopi espresso itu semuanya pakai listrik. Kalau padam, orderan pelanggan terpaksa ditolak,” keluh Hendi.
HIPMI mendesak pemerintah tidak tinggal diam melihat rapuhnya ekosistem bisnis ini. Hendi mengusulkan solusi jangka panjang yang progresif: pengadaan cadangan energi (backup power) di titik-titik pusat kuliner rakyat.
”Pemerintah bisa menginisiasi pengadaan mesin UPS (Uninterruptible Power Supply) raksasa atau genset komunal. Anggarannya bisa dimasukkan lewat jalur Musrenbang atau pokok-pokok pikiran (pokir) anggota dewan. Ini penting untuk mengantisipasi jika pemadaman menjadi ritual tahunan,” tegasnya.
Dari Bayar QRIS Hingga Pemasaran Digital yang Lumpuh
Sinyal darurat ini diamini oleh menara akademis. Guru Besar FEB Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Dr. Sudarmiatin—yang akrab disapa Prof. Mia—mengingatkan bahwa ketergantungan bisnis modern terhadap listrik sudah mencapai level akut.
”Hari ini, semua lini bergantung pada setrum. Mulai dari sistem pembayaran digital lewat QRIS, mesin kasir, proses produksi, hingga pemasaran digital via media sosial. Sekali listrik macet, mata rantai bisnis langsung putus,” urai Prof. Mia.
Di tengah situasi yang serbaterbatas dan minimnya transparansi informasi, Prof. Mia menuntut para pelaku UMKM di Malang tidak manja. Mereka harus dipaksa melakukan adaptasi dan inovasi mandiri melalui strategi alternatif. Jangan menggantungkan nasib 100 persen pada kabel tunggal.
Namun, kritik paling tajam tetap dialamatkan kepada penyelenggara negara dan otoritas penyedia listrik. Negara diminta bersikap jujur dan transparan menyampaikan kendala riil di lapangan, bukan malah sembunyi di balik alasan teknis.
”Negara wajib hadir memberikan informasi yang jujur. Sampaikan apa kendala sebenarnya di lapangan. Jangan biarkan pelaku usaha menebak-nebak dalam gelap. Kalau informasinya klir, masyarakat bisa mempersiapkan diri, mengatur jadwal produksi, dan memitigasi risiko kerugian sejak awal,” pungkas Prof. Mia.
Listrik padam mungkin masalah teknis biasa bagi korporasi besar, namun bagi sebiji kedai kopi lokal, itu adalah urusan hidup dan mati omzet harian. Usulan backup power dari HIPMI sudah di meja, wejangan inovasi dari kampus sudah ditiupkan, kini publik Kota Malang tinggal menunggu tanggung jawab transparansi dari penguasa setrum daerah. (Yolanda Oktaviani / Ra Indrata)




