MALANG POST – Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menghadiri kegiatan Open House di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu, untuk meninjau langsung program pembentukan karakter dan kemandirian siswa prasejahtera. Sekolah berasrama gratis milik negara ini, merupakan realisasi arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial RI yang beroperasi sejak 14 Juli 2025 demi mengentaskan anak putus sekolah di Jawa Timur.
Memutus rantai kemiskinan itu tidak bisa setengah-setengah. Harus ekstrem. Jalur terbaiknya: lewat pendidikan. Tapi bukan sekadar sekolah biasa. Harus sekolah yang mampu mengubah mental.
Itulah yang terlihat di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu.
Saat Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, datang ke acara Open House di sana, pemandangan di lapangan sangat kontras. Ada latihan baris-berbaris yang kaku dan disiplin. Di sudut lain, ada anak-anak bermain egrang, seni bantengan, membatik, menulis kaligrafi, hingga sibuk bercocok tanam tanaman pangan.
Lengkap. Ini bukan sekadar tempat menghafal rumus. Ini bengkel pembentukan karakter dan kemandirian.
Bagi Heli, Sekolah Rakyat ini adalah bukti konkret. Bukti bahwa negara benar-benar hadir untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera. Di sini, mereka tidak hanya diberi buku gratis, tapi juga diberi keberanian untuk berani bermimpi.

MENYAPA: Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat menghadiri open house SRMP 14 Kota Batu, ia menyapa siswa dan wali murid. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sejarah sekolah ini masih muda. Baru mulai beroperasi pada 14 Juli 2025 lalu. Kelahirannya pun istimewa: atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Fasilitas asramanya sudah relatif memadai. Negara menanggung semuanya. Namun, Heli mencatat satu kekurangan yang harus segera dibereskan. Fasilitas pendukung sudah tercukupi, tapi sekolah ini belum punya laboratorium. Urusan ini penting untuk praktik sains siswa.
Tahun ajaran 2026 ini, SRMP 14 Kota Batu kembali membuka pintu. Kuotanya 90 siswa baru. Uniknya, metode pencariannya tidak memakai ujian tulis yang rumit. Polanya adalah penjangkauan langsung. Detil. Agar bantuan negara ini tidak salah sasaran.
Bahkan, sistem sosialisasinya masih sangat membumi: mengandalkan getok tular. Lewat obrolan antar-siswa aktif. Siapa tahu ada teman atau tetangga mereka yang putus sekolah karena tidak ada biaya, langsung diajak masuk.
Kepala Sekolah SRMP 14 Batu, Yuliana, tersenyum bangga melihat perkembangan sekolahnya. Baru satu tahun berjalan, dampaknya sudah meluas ke seantero Jawa Timur. Saat ini, ada 148 siswa yang tinggal di asrama. Mereka bukan cuma arek Batu. Ada yang datang dari Kabupaten Malang, Jombang, hingga Kediri.
Sasarannya memang kluster terbawah. Yuliana menjelaskan, seluruh pembiayaan ditanggung penuh oleh negara. Dasarnya adalah Data Tunggal Sensus Ekonomi Nasional (DTSEN) pada desil 1 dan 2. Yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Maka jangan harap ada jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Murid Baru) yang reguler di sini. Sekolah ini berkolaborasi dengan petugas Program Keluarga Harapan (PKH) Kemensos untuk berburu siswa. Target utamanya justru anak-anak yang motivasi belajarnya sudah rontok, atau mereka yang telanjur putus sekolah.
Semua ditampung. Diperbaiki mentalnya.
Meski berstatus sekolah khusus berasrama prasejahtera, urusan otak tetap dijaga. Sistem pembelajarannya tetap patuh pada Kurikulum Nasional. Mata pelajarannya sama persis dengan SMP reguler di luar sana.
Pembedanya hanya satu, tapi krusial: penekanan pada fondasi karakter. Bagi Yuliana, disiplin total selama di asrama adalah kunci utama untuk menjemput kesuksesan masa depan anak-anak ini. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




