MALANG POST – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu secara resmi mencanangkan komitmen total pemenuhan hak dasar anak dan perwujudan ekosistem Sekolah Ramah Anak, yang bebas dari praktik perundungan (bullying) dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Balai Kota Among Tani, Sabtu (20/6/2026) pagi ini. Agenda massal yang dihadiri langsung Wali Kota Batu Nurochman bersama Kepala Dinas Pendidikan Alfi Nurhidayat tersebut melibatkan 1.865 peserta didik dari jenjang PAUD hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Batu, guna menguatkan kolaborasi lintas sektor dalam melindungi karakter generasi masa depan kota.
Menilai kehebatan seorang anak itu jangan hanya melihat deretan angka di dalam buku rapor. Jangan pula hanya terpaku pada piala juara lomba. Cara pandang seperti itu sudah kuno. Di era digital yang bergerak secepat kilat ini, kepintaran otak tanpa kekuatan karakter itu berbahaya.
Anak hebat itu sederhana: jujur, disiplin, hormat pada orang tua dan guru, serta punya empati pada sesama.
Sudut pandang segar itulah yang diledakkan dari Parkir Timur Balai Kota Among Tani, Sabtu pagi ini. Suasana mendadak berubah penuh warna. Riuh. Cerita keceriaan terpancar dari wajah ribuan anak. Mereka datang dari berbagai penjuru: mulai dari PAUD, TK, Kelompok Belajar, hingga anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Semua melebur merayakan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tingkat Kota Batu.
Bagi Wali Kota Batu, Nurochman, momentum ini haram hukumnya jika hanya berhenti sebagai ritual seremonial tahunan. Harus ada janji konkret dari negara.

MERIAH: Peringatan Hari Anak Nasional ke 42 di Kota Batu sangat meriah, jadi momentum wujudkan sekolah ramag anak. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu berdiri di podium dengan raut bahagia. Dia mengapresiasi peluh keringat para orang tua dan guru yang menjadi fondasi utama peradaban kota. Di hadapan anak-anak, Cak Nur melemparkan bahan bakar motivasi yang membakar semangat.
“Mungkin hari ini kalian masih duduk di pangkuan ayah dan ibu, masih diantar ke sekolah. Tapi percayalah, di antara kalian ada yang kelak menjadi guru, dokter, atlet, pengusaha, bahkan pemimpin Kota Batu. Karena itu jangan pernah berhenti bermimpi,” tegas Cak Nur.
Mari kita bedah detail angka di lapangan yang dilaporkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat. Angkanya masif.
Ada 103 lembaga Kelompok Belajar (KB) yang turun gelanggang, masing-masing mengirim tujuh siswa. Lalu ada 98 lembaga Taman Kanak-Kanak (TK) yang menerjunkan masing-masing 10 murid untuk adu kreativitas di berbagai cabang lomba.
“Jadi total peserta yang ikut ada sekitar 1.865 peserta. Tapi kalau melihat antusias masyarakat, jumlahnya lebih,” urai Alfi.
Dinas Pendidikan Kota Batu rupanya sedang mengejar target besar. Alfi menegaskan, ekosistem pendidikan di Kota Apel ini harus berputar penuh pada kepentingan anak. Sasarannya radikal: seluruh sekolah di Batu wajib menjelma menjadi Sekolah Ramah Anak yang nyata. Bukan sekadar pemanis spanduk di pagar sekolah.
Bagaimana wujud nyatanya? Lingkungan belajar harus steril dari praktik perundungan atau bullying. Tidak boleh ada diskriminasi. Keunikan cara belajar setiap anak wajib dihargai tanpa terkecuali.
“Kita ingin sekolah menjadi tempat yang aman. Tidak ada bullying, tidak ada diskriminasi. Semua anak harus merasa dihargai,” kata Alfi.
Tentu, Dinas Pendidikan tidak bisa menjadi pahlawan kesiangan yang bekerja sendirian. Alfi mengetuk pintu hati keluarga, komunitas, hingga dunia usaha untuk ikut keroyokan. Investasi terbaik bagi masa depan daerah adalah dengan memastikan hak anak untuk hidup, tumbuh, dilindungi, dan didengar suaranya terpenuhi secara utuh.
Kemeriahan di Among Tani siang ini berjalan sukses, dikawal ketat oleh jajaran elit kota. Tampak hadir Bunda PAUD Kota Batu, Wakil Wali Kota, Ketua Perwosi, hingga pimpinan DPRD. Barisan organisasi profesi seperti IGTKI, IGRA, Himpaudi, GOPTKI, dan PGRI juga kompak satu saf di lokasi.
Anak-anak adalah pemilik sah masa depan Kota Batu. Perayaan hari ini menguji komitmen kita semua: apakah kita sanggup menyediakan lingkungan yang aman bagi mimpi-mimpi mereka, atau kita justru sibuk dengan urusan orang dewasa dan melupakan hak bermain mereka. Selamat Hari Anak Nasional, anak-anak Kota Batu! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




