Yulia Ayu Pramitasari, S.Pd., M.Pd. Guru MI Khadijah Kota Malang
MALANG POST- Dalam membangun kematangan masa depan anak di era modern menuntut kesadaran kolektif dari seluruh elemen pendidikan. Kematangan masa depan anak tidak hanya diukur dari aspek intelektual
Tetapi harus mampu menyentuh ranah moral agar anak mampu memiliki karakter yang perhatian terhadap emosional dan sosial. Dengan demikian diperlukan sinergitas peran yang intensif dari orang tua (ortu), guru dan pemerintah.
Sinergitas tiga pilar itu menjadi kunci utama dalam membangun karakter intelektual dan moral anak bangsa. Mengingat fase anak atau usia dini adalah masa keemasan untuk menerima hal yang baru.
Maka hendaknya orang tua dan guru menjadi pilar yang secara konsisten memberikan teladan, begitupun dengan pemerintah.
Pemerintah harus senantiasa memberikan kontribusi moril kepada anak bangsa dengan secara konsisten menghadirkan kebijakan dan dukungan yang berpihak pada pendidikan karakter sebagaimana amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
POTRET ANAK BANGSA DITENGAH ARUS DIGITAL
Zaman tentunya semakin berubah dan semakin berkembang. Kita sebagai orang tua, baik di rumah maupun di sekolah, hendaknya menyadari bahwa anak-anak tidak bisa berjalan sendiri. Mereka belum memahami dunia seluruhnya dan belum mengerti dampak dari apa yang dilakukannya.
Fakta di lapangan menunjukkan kerentanan luar biasa dalam paparan dunia digital. Paparan media sosial dan game online yang tidak terkendali pada anak ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan edukasi dan hiburan, namun di sisi lain menyimpan bahaya laten yang dapat merusak tumbuh kembang anak.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa kasus kekerasan terhadap anak didunia siber, termasuk perundungan di lingkungan pendidikan, masih terus terjadi.
Hingga pertengahan tahun 2024, KPAI menerima 1.193 laporan pelanggaran perlindungan anak. Dari jumlah tersebut, terdapat puluhan kasus yang berkaitan dengan kekerasan fisik, psikis dan permasalahan di lingkungan pendidikan.
KPAI juga menegaskan bahwa kasus yang tercatat adalah “fenomena gunung es”. Lantaran masih banyak korban yang memilih diam akibat rasa takut dan tekanan sosial.
Fenomena ini adalah alarm keras. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan aman justru menghadapi ancaman yang datang dari ruang digital maupun lingkungan sosial di sekitarnya.
Perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, kini menjadi salah satu persoalan serius yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda Indonesia.
Tidak sedikit anak yang mengalami tekanan psikologis, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami depresi akibat bullying yang terus-menerus.
PENDIDIKAN KARAKTER TAK CUKUP di RUANG FORMAL
Kritik tajam patut dilayangkan pada kondisi kita saat ini yang sering terjebak dalam “formalisme agama”—rajin secara ritual namun gagap secara sosial.
Banyak anak-anak yang memahami agama, tetapi tetap melakukan perundungan. Ada kegagalan dalam menerjemahkan nilai agama ke dalam tindakan nyata.
Padahal, Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
“Lemah” dalam ayat ini mencakup lemah mental dan integritas.
Ayat ini adalah mandat teologis yang selaras dengan Sila Kedua Pancasila (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), bahwa menyiapkan generasi kuat adalah bentuk ketakwaan dan keadilan bagi bangsa.
Serta menekankan kewajiban orang tua menyiapkan masa depan keturunan agar tidak lemah secara iman, fisik, dan ekonomi, serta pentingnya bertakwa dan berucap benar.
Guru sebagai pendamping adab di sekolah. Di lingkungan sekolah, guru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang pembentukan sikap dan perilaku.
Sosok guru yang hadir setiap hari bersama siswa memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pendamping yang memahami perkembangan emosi dan sosial anak.
Sikap penuh kasih sayang, kesabaran, dan integritas yang ditunjukkan guru akan menjadi contoh nyata bagi peserta didik. Dalam tradisi pendidikan, adab bahkan sering ditempatkan lebih dahulu daripada ilmu karena karakter yang baik menjadi dasar dalam menggunakan ilmu secara bijaksana.
Orang tua sebagai madrasah pertama. Namun, peran guru akan pincang tanpa dukungan rumah. Orang tua adalah pemegang kunci pengaruh terbesar. Dalam Islam, orang tua adalah Al-Ummu Madrasatul Ula (ibu/orang tua adalah sekolah pertama).
Kesalahan fatal masyarakat modern adalah menganggap pendidikan selesai saat anak dititipkan di sekolah. Orang tua sangat mempengaruhi karakter anak karena ikatan emosional dan intensitas pertemuan di rumah.
Orang tua harus menjadi filter pertama terhadap pengaruh luar (media sosial). Bimbingan orang tua dalam mengenalkan mana yang hak (benar) dan mana yang batil (salah) adalah fondasi awal sebelum anak berinteraksi dengan dunia luar.
Tanpa keteladanan orang tua yang jujur dan religius, anak akan mencari figur lain di media sosial yang belum tentu membawa nilai-nilai positif.
PENTINGNYA DUKUNGAN KEBIJAKAN dan LITERASI DIGITAL
Upaya membangun generasi yang sehat juga perlu didukung oleh kebijakan pemerintah, termasuk dalam pengawasan ruang digital.
Langkah-langkah edukasi dan pembatasan akses terhadap konten yang tidak sesuai usia menjadi bagian penting dalam melindungi anak-anak.
Namun, kebijakan saja tidak cukup tanpa keterlibatan masyarakat. Orang tua perlu menerapkan pendampingan penggunaan teknologi di rumah.
Sementara guru dapat memberikan literasi digital agar anak memahami manfaat sekaligus risiko dunia maya. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan secara lebih bijak dan produktif.
PANCASILA dan NILAI AGAMA FONDASI BERSAMA
Pancasila dan nilai-nilai agama sejatinya memiliki tujuan yang selaras dalam membentuk manusia yang berakhlak, menghargai sesama, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral.
Di tengah keberagaman Indonesia, pendidikan karakter yang berpijak pada nilai kemanusiaan, toleransi, dan akhlak mulia perlu terus diperkuat agar anak-anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang bijak dan berdaya saing.
Masa depan generasi emas Indonesia tidak boleh digadaikan kepada algoritma media sosial yang tuna-adab atau candu game online yang destruktif. Oleh sebab itu, kita harus berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi benteng.
Bahwa orang tua kembali menjadi madrasah utama, guru hadir sebagai pendamping adab yang nyata dan negara melalui Komdigi bertindak sebagai perisai regulasi. (Penulis: Yulia Ayu Pramitasari, S.Pd., M.Pd.)




