MALANG POST – Klub kebanggaan masyarakat Kota Batu, Persikoba, harus mengubur mimpi mereka untuk melaju ke babak 16 besar Liga 4 Piala Presiden 2026 putaran nasional, usai ditahan imbang 1-1 oleh Persemay Maybrat pada laga pamungkas Grup W. Bertanding di hadapan publik sendiri di Stadion Brantas, Kota Batu, Selasa (16/6/2026) sore, skuad berjuluk Laskar Elang Putih besutan pelatih Arif Suyono tersebut, gagal mengamankan poin penuh, sehingga terpaksa finis di peringkat ketiga dengan raihan total hanya 2 poin.
Dalam sepak bola, penyesalan itu selalu datang di menit akhir. Saat peluit panjang sudah ditiup wasit. Berteriak sekencang apa pun, meratap sehebat apa pun, papan skor tidak akan pernah berubah. Waktu tidak bisa diputar kembali.
Nasib getir itulah yang sore ini resmi mengetuk pintu ruang ganti Persikoba Kota Batu. Tragis. Main di kandang sendiri, di Stadion Brantas, mereka harus menyudahi mimpi.
Menghadapi tantangan Persemay Maybrat di laga hidup-mati Grup W, Laskar Elang Putih hanya bisa bermain imbang. Skornya: 1-1. Hasil satu angka yang langsung membunuh asa mereka untuk terbang ke babak 16 besar Liga 4 Piala Presiden 2026.
Sebenarnya, sebelum peluit sepak mula berbunyi, posisi Persikoba sudah terjepit. Sangat kritis. Anak asuh legenda Arema, Arif Suyono, ini mengawali babak 32 besar dengan langkah tertatih-tatih: imbang 0-0 lawan Persigar Garut, lalu keok 0-1 dari Persepam Pamekasan.
Maka, syarat sore ini tidak boleh ditawar: wajib menang atas tim asal Papua Barat Daya itu.

DUEL SENGIT: Pemain Persikoba (biru muda) saat berduel dengan pemain Persemay dalam lanjutan pertandingan babak 32 besar Liga 4 putaran nasional. (Foto: Persikoba Official)
Beban berat di pundak justru membuat Persikoba mengamuk sejak menit awal. Agresif. Menit ke-19, Stadion Brantas bergemuruh hebat. Melalui skema serangan yang rapi, sontekan terukur Cristian R sukses merobek jala Persemay. Unggul 1-0, mental tuan rumah melambung.
Tapi Persemay bukan tim kemarin sore. Mereka tipikal tim Papua: fisiknya kuda, pressing-nya tinggi. Pelan tapi pasti, Persemay mulai mengajak duel fisik.
Petaka itu datang di menit ke-33. Akibat lengah, pemain nomor punggung 88, Rinfa Murafer, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Di babak kedua, tensi pertandingan naik kelas. Panas. Wasit Rabbani sampai harus bekerja keras mengendalikan emosi kedua tim. Jual beli serangan terjadi. Peluang emas lahir silih berganti di mulut gawang. Tapi, hingga peluit panjang berbunyi, dewi fortuna emoh mampir ke Batu. Skor 1-1 mengunci laga.
Di saat bersamaan, kabar buruk lain datang dari Stadion Cakrawala UM. Duel Persepam Pamekasan kontra Persigar Garut berakhir kacamata, 0-0. Skor yang otomatis meloloskan keduanya ke babak 16 besar dengan koleksi 5 poin. Sementara Persikoba dan Persemay harus puas jadi penonton di peringkat tiga dan empat dengan modal 2 angka.
Arif Suyono tidak bisa menyembunyikan wajah kecewanya. Lesu. Namun, ia tetap berjiwa besar mengapresiasi anak asuhnya.
“Terima kasih untuk para pemain atas perjuangannya hari ini. Permainan hari ini sangat luar biasa. Sayangnya, spirit seperti ini terlambat muncul. Seandainya performa seperti ini sudah terlihat sejak pertandingan pertama dan kedua, mungkin ceritanya bisa berbeda,” urai Arif Suyono, Selasa (16/6).
Bagi pria yang akrab disapa Keceng ini, sepak bola adalah misteri. Kadang yang dikira mudah ternyata berujung rumit.
Arif jujur mengakui kelemahan mendasar timnya. Persikoba selalu kedodoran jika bertemu lawan yang menerapkan high pressing ketat sepanjang laga. Karakteristik khas anak-anak Papua itu sukses membuat skema permainan Batu macet. “Itu jadi pekerjaan rumah kami ke depan,” pungkasnya.
Turnamen telah usai bagi Elang Putih. Beruntung tidak ada pemain yang cedera. Pelajaran berharga dari Stadion Brantas sore ini sangat mahal harganya: bahwa di panggung nasional, spirit bertarung itu harus dinyalakan sejak menit pertama laga pertama, bukan di laga sisa. Selamat berbenah, Persikoba! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




