PAKAIKAN ROMPI: Wali Kota Batu Nurochman saat memakaikan rompi petugas Sensus Ekonomi tahun 2026. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Batu, Nurochman, secara resmi melepas keberangkatan 183 petugas lapangan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Senin (15/6/2026) kemarin. Ratusan petugas terlatih besutan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu tersebut, sengaja diterjunkan langsung ke lapangan guna menyisir seluruh wilayah kecamatan secara door to door demi memotret kondisi riil serta memetakan peta jalan perkembangan dunia usaha, pariwisata, hingga pelaku UMKM lokal untuk satu dekade ke depan.
Data itu barang mahal. Di dunia pemerintahan, data yang keliru itu taruhannya ngeri: kebijakan bisa salah sasaran, anggaran bisa menguap sia-sia, dan nasib rakyat kecil taruhannya.
Apalagi jika data itu hanya dikumpulkan sekali dalam sepuluh tahun. Satu dekade sekali. Sekali salah potret, sengsaranya bisa satu generasi.
Kesadaran krusial itulah yang membuat suasana di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, mendadak riuh kemarin. Sebanyak 183 petugas sensus berkumpul. Menggunakan rompi lapangan, menentang gawai pendataan. Mereka adalah warga asli Kota Batu yang sudah digembleng pelatihan teknis oleh BPS.
Kemarin, mereka resmi dilepas oleh Wali Kota Batu, Nurochman. Tugas mereka berat: menjadi ujung tombak, mengetuk pintu-pintu rumah dan lapak usaha warga.
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu tidak mau main-main. Ia mengingatkan bahwa sensus ekonomi ini bukan sekadar rutinitas birokrasi sepuluh tahunan. Sensus ini adalah kompas pembangunan jangka panjang.
“Ini sangat urgent. Validitas data itu sangat penting, apalagi sensus ini dilaksanakan setiap 10 tahun,” tegas Cak Nur.

Logika Cak Nur lurus. Ekonomi Kota Batu itu hidup dari urusan pariwisata, perdagangan, jasa, ekonomi kreatif, hingga geliat ribuan UMKM. Sektor-sektor ini dinamis sekali. Berubah cepat. Maka, pemerintah wajib punya potret yang jernih dan presisi. Di mana letak kekuatannya, apa tantangan riil di bawah, semua harus terbaca.
Sensus ekonomi adalah instrumen paling konkret untuk menjangkau itu. Data akurat inilah yang nantinya dipakai untuk menyusun anggaran, merayu investor masuk, memperkuat modal UMKM, hingga membuka lapangan kerja baru.
Namun, Cak Nur juga blak-blakan. Jujur. Sensus selama ini sering kali macet di lapangan hanya karena urusan sepele: komunikasi petugas yang kaku. Kurang cair. Akibatnya, warga curiga dan memilih menyembunyikan kondisi aslinya.
Maka, Cak Nur menuntut petugas bekerja profesional, menjaga integritas, dan wajib menggunakan pendekatan yang humanis. Senyum dulu, baru tanya. “Kalau komunikasinya baik, masyarakat juga akan lebih terbuka. Data yang masuk tentu akan lebih maksimal,” imbuhnya.
Harusnya, hasil kerja besar tahun 2026 ini bisa menjadi rujukan sahih sampai tahun 2036 nanti. Tinggal bagaimana BPS merawat mekanisme pemutakhiran datanya di tengah jalan.
Tantangan itu dijawab langsung oleh Kepala BPS Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo. Herlina mengakui, idealnya pemutakhiran data ekonomi memang dilakukan sesering mungkin. Apa daya, keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat sensus kolosal ini hanya bisa digelar satu dekade sekali.
Namun, Herlina memastikan SE 2026 kali ini memiliki senjata baru. Cakupannya dibuat jauh lebih luas dan lintas sektor dibanding periode sebelumnya.
“Harapannya tahun ini datanya bisa lebih lengkap dan komprehensif, sehingga benar-benar mendekati kondisi riil di lapangan,” kata Herlina.
Pasukan rompi lapangan kini sudah menyebar di jalanan Kota Batu. Mereka sedang berburu basis data yang presisi. Nasib arah pembangunan ekonomi bumi pariwisata ini kini berada di ujung pulpen dan ketukan jari mereka di depan pintu rumah Anda. Selamat menyensus! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




