MALANG POST – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu, memberlakukan pengawasan berlapis berbasis teknologi pemetaan satelit, guna mengawal pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jalur domisili yang telah dibuka sejak Senin lalu. Penegasan taktis ini disampaikan langsung oleh Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat, di Kota Batu, Selasa (16/6/2026), dengan menyiapkan sanksi radikal berupa pengguguran massal hingga pemblokiran masuk sekolah negeri se-Kota Batu bagi pendaftar yang terbukti nekat memanipulasi titik koordinat tempat tinggal demi mendekatkan jarak ke sekolah tujuan.
Penyakit tahunan setiap musim penerimaan murid baru itu selalu sama: urusan zonasi. Urusan jarak rumah ke sekolah. Demi bisa menembus sekolah favorit, sebagian orang tua kadang gelap mata. Segala cara dihalalkan. Mulai dari titip kartu keluarga, sampai akal-akalan menggeser titik koordinat rumah di aplikasi pendaftaran. Jarak yang aslinya berkilo-kilometer, mendadak ciut jadi ratusan meter saja. Ajaib.
Tapi tahun ini, jangan coba-coba mempraktikkan kelicikan itu di Kota Batu. Risikonya terlalu mahal.
Dinas Pendidikan Kota Batu resmi mengambil posisi siaga satu. Mereka memastikan tidak akan memberi ampun pada para pelaku manipulasi data.

PANTAU LANGSUNG: Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat saat memantau SPMB di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat, bergerak kontan menyiapkan sanksi paling pahit. Sanksi yang dirancang untuk memberi efek jera yang nyata.
“Kalau sampai ketahuan ada manipulasi, kami pastikan akan digugurkan. Bahkan kalau perlu ada sanksi tidak bisa diterima di sekolah se-Kota Batu,” tegas Alfi, Selasa (16/6) hari ini.
Jalur domisili memang selalu menjadi primadona. Peminatnya membeludak paling besar. Nah, untuk mengunci potensi kecurangan itulah, sistem pendaftaran kini dikawal sepenuhnya secara daring dengan teknologi satelit. Jarak rumah calon siswa dihitung otomatis secara presisi. Tidak bisa ditawar-tawar.
Bagi Alfi, sistem digital ini menguntungkan karena urusan pembuktian menjadi sangat transparan.
“Sistem online itu selalu meninggalkan track and trace, ada jejaknya. Hari ini kita tidak lagi mengukur jarak menggunakan meteran, tetapi menggunakan satelit. Semua bisa terlihat dan terpantau,” urainya.
Namun, Alfi juga sadar. Secanggih apa pun sistem buatan manusia, pasti ada saja celah yang dicari oleh para pemburu kuota. Maka, Dindik memilih membuka pintu pengawasan lebar-lebar. Masyarakat dan insan pers diajak ikut memelototi layar pengumuman. Kalau ada koordinat rumah anak pejabat atau warga yang mendadak meloncat misterius ke depan pagar sekolah, silakan langsung dilaporkan.
Dindik tidak akan langsung main hakim sendiri. Begitu ada laporan kejanggalan, tim pengawas internal dan eksternal akan turun langsung melakukan verifikasi fisik di lapangan sebelum palu sanksi dijatuhkan.
Untuk melayani aduan tersebut, posko pengaduan dan layanan hotline khusus kini sudah aktif berdiri. Tersebar merata di seluruh SMP negeri dan di kantor Dindik Kota Batu sendiri.
Pendidikan yang bermutu itu harus dimulai dari proses penerimaan yang jujur. Lewat kawalan satelit dan mata masyarakat, Kota Batu sedang berikhtiar memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh anak daerah. Mau sekolah kok diawali dengan cara menipu. Selamat menjaga integritas, Pak Alfi! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




