MALANG POST – Manajemen Rumah Sakit Universitas Islam Malang (RS Unisma) di wilayah Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, kembali dihujani kritik tajam, dari sejumlah pasien peserta BPJS Kesehatan, akibat buruknya pelayanan penebusan obat pasca-pemeriksaan dokter. Keluhan massal yang mencuat pada Kamis (11/6/2026) ini, dipicu oleh sistem pengelolaan apotek rumah sakit setempat yang memaksa pasien rawat jalan menunggu antrean obat kronis dan insulin hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa kepastian, sehingga mengancam keselamatan jiwa para penderita.
Sakit itu sudah penderitaan. Tapi bagi orang kecil, ada yang jauh lebih perih ketimbang rasa sakit itu sendiri: antre obat yang tidak ada ujungnya. Tanpa kepastian.
Kondisi tidak mengenakkan itulah yang kini harus dialami oleh para pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kota Malang. Tepatnya, mereka yang berobat ke Rumah Sakit Universitas Islam Malang. Populer disebut RS Unisma Dinoyo. Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru.
Urusannya seragam: keluhan akut soal pelayanan obat di apotek rumah sakit setempat, setelah mereka keluar dari ruang periksa dokter.
Logika rumah sakit itu harusnya sederhana. Pasien datang, diperiksa dokter, diberi resep, lalu pulang membawa obat. Hari itu juga. Rata-rata rumah sakit lain di Kota Malang bisa melayani seperti itu. Lancar.
Tapi di RS Unisma, rumusnya mendadak macet. Pasien harus menunggu obat sampai berhari-hari. Bahkan sampai minggu depan. Dan celakanya, setelah ditunggu sekian lama, obat yang menjadi hak pasien itu belum juga ada wujudnya.
Salah satu pasien yang berani bersuara adalah Cahyono. Warga Kota Malang.
Hari Kamis (11/6/2026), Cahyono menumpahkan seluruh kekesalannya kepada wartawan. Rutinitas Cahyono sebenarnya biasa saja. Setiap sebulan sekali, dia selalu datang kontrol ke dr. H. RM. Hardadi, Sp.PD., dokter spesialis penyakit dalam di RS Unisma.
Belakangan ini, Cahyono mulai merasa ada yang tidak beres di bagian farmasi. Dan ternyata, yang dongkol bukan cuma dia sendirian. Banyak pasien lain di lorong apotek yang berbisik-bisik, mengeluhkan hal serupa. Obat yang dikover BPJS belum bisa diberikan.
Bayangkan saja kronologinya. Cahyono datang kontrol ke dr. Hardadi pada tanggal 4 Juni 2026 lalu. Resep sudah di tangan. Tapi sampai hari ini, Kamis 11 Juni 2026, dirinya belum juga menerima paket obat dan insulin yang sangat dibutuhkannya itu.
Artinya, sudah seminggu penuh dia tanpa obat.
Keterlambatan ini, menurut catatan ingatan Cahyono, bukan terjadi sekali dua kali saja. Sudah berulang-ulang. Kronis. Dan setiap kali kakinya melangkah ke loket apotek untuk menagih haknya, jawaban dari balik kaca selalu sama, monoton, dan dingin: obat belum datang dari distributor.
“Saya berharap RS Unisma profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Jika pelayanan obat seperti itu, bagaimana pasien yang urgen untuk segera meminum obat, apakah tidak membahayakan kepada pasien, tentunya berpotensi pasien bisa kehilangan nyawanya,” tegas Cahyono dengan nada bicara yang meninggi.
Ucapan Cahyono itu bukan isapan jempol atau sekadar menakut-nakuti. Bagi penderita penyakit dalam, telat menyuntikkan insulin atau absen meminum obat harian bisa berakibat fatal. Tubuh bisa drop dalam sekejap. Taruhannya adalah nyawa.
Nasib pelik yang menimpa Cahyono ternyata juga menimpa pasien BPJS lainnya. Sebut saja Mr. X. Dia emoh namanya ditulis di koran karena takut mempersulit urusan kontrolnya bulan depan.
Mr. X ini nasibnya jauh lebih tragis. Dia datang kontrol ke dr. Hardadi pada tanggal 13 Mei 2026 lalu. Dan tebak apa yang terjadi? Sampai pertengahan Juni ini, obat dan insulin miliknya belum juga diserahkan oleh apotek RS Unisma. Berarti sudah hampir sebulan penuh zonk.
Lalu bagaimana cara dia bertahan hidup?
Karena takut kondisi kesehatannya memburuk atau mendadak ambruk, Mr. X akhirnya terpaksa mengalah pada keadaan. Dia merogoh koceknya sendiri. Membeli obat dan insulin secara mandiri di apotek luar. Pakai uang pribadi yang tidak sedikit nilainya. Padahal, dia adalah pemegang kartu BPJS aktif yang iurannya dibayar tertib.
“Keluhan terkait pelayanan obat pada pasien di RS Unisma tidak hanya dirinya saja, tapi banyak pasien yang mengeluhkan,” tutur Mr. X dengan wajah lesu. (*/Ra Indrata)




