MALANG POST – Membuat produk itu mudah. Menjualnya ke tetangga sebelah juga tidak sulit. Tapi, bagaimana jika produk rumahan itu harus melintasi samudra? Menembus ketatnya pasar Eropa, Amerika, atau Asia?
Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita yang langsung ciut nyali.
Untuk memutus rantai ketakutan itulah, Pemerintah Kota Batu meluncurkan satu senjata baru. Namanya mentereng: Program 365 Up.
Sebuah program inkubasi total yang dirancang untuk menempa pelaku usaha lokal dari nol, dari dapur rumahan, hingga mereka benar-benar siap berhadapan dengan pembeli (buyer) internasional.
Strategi besar membawa produk lokal go global ini dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (6/6/2026) hari ini.
Otoritas perdagangan, akademisi, hingga pelaku ekspor riil duduk bersama. Menghitung peluang di tengah kerasnya pasar bebas.
Sekretaris Diskumperindag Kota Batu, Nurbianto Pujo, tidak memungkiri bahwa musuh terbesar UMKM saat ini bukan modal. Bukan pula bahan baku.
“Tantangan terberatnya adalah mengubah pola pikir (mindset). Dari yang semula merasa cukup dengan status usaha rumahan, dipaksa naik kelas menuju standar global,” urai Nurbianto.
Melalui program 365 Up, Diskumperindag tidak mau setengah-setengah.
Pendampingannya dibuat berjenjang. Mulai dari pembenahan legalitas usaha yang sering kali diabaikan, peningkatan kualitas dan standardisasi produk, hingga penguatan manajemen keuangan bisnis.
“Kami tidak hanya melatih. Kami juga menyiapkan karpet merahnya. Akses pertemuan langsung dengan para buyer luar negeri dan jejaring pemasaran internasional sudah kami siapkan. Asalkan mereka konsisten, produk Batu pasti bisa bersaing,” tegasnya optimistis.
Penyakit Kambuhan: Angot-angotan Memenuhi Kuota
Potensi UMKM Kota Batu sejatinya raksasa. Alamnya subur, manusianya kreatif. Produk olahan makanan hingga kerajinan tangan melimpah.
Guru Besar Manajemen Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Prof. Dr. Boge Triatmanto, membenarkan hal itu.
Namun, dari kacamata akademis, Prof. Boge melihat ada satu lubang menganga yang sering membuat UMKM kita terjungkal di tengah jalan saat melayani pasar ekspor.
Lubang itu bernama: keberlanjutan (sustainability) produksi.
“Menembus pasar global itu baru langkah awal. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menjaga kapasitas barang agar tetap konsisten,” sentil Prof. Boge.
Sering terjadi kisah klasik yang menggelikan sekaligus tragis. Ada UMKM sukses mengirim satu kontainer produk ke luar negeri. Bulan berikutnya, si pembeli asing meminta kiriman tiga kontainer lagi dengan kualitas yang persis sama.
Di sinilah sang UMKM kelabakan. Mesinnya kurang, tenaga kerjanya kedodoran, bahan bakunya tidak siap. Akhirnya? Kontrak diputus. Kepercayaan hilang.
Maka, Prof. Boge mendesak agar sinergi segitiga emas—pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha—bukan sekadar jargon di atas kertas.
“Dunia kampus harus turun tangan. Bantu mereka di sektor digital marketing dan strategi ekspor yang presisi. Pendampingannya harus tanpa putus,” tambahnya.
Sepi Setelah Sempat Berjaya
Suara dari garis depan perbatasan ekspor terdengar lebih realistis. Lebih getir.
Sukirno, pemilik brand Tohu Srijaya sekaligus eksportir kawakan asal Kota Batu, membagikan pengalaman tempurnya.
Produk olahan tahu miliknya sudah telanjur mencicipi gurihnya dolar dari pasar luar negeri. Kualitas produk Batu, di mata Sukirno, tidak kalah saing.
Namun, roda nasib perdagangan dunia kini sedang berputar cepat. Sangat kejam.
”Harus diakui, sekarang situasinya sedang berat. Persaingan di pasar bebas dan perubahan pola perdagangan digital yang luar biasa cepat membuat aktivitas ekspor kami yang sebelumnya lancar, kini justru mengalami penurunan,” aku Sukirno jujur.
Pasar digital global membuat produk dari negara mana pun—termasuk yang harganya rusak-rusakan karena subsidi negara asal—bisa langsung masuk ke layar ponsel konsumen. UMKM lokal terkepung di rumah sendiri.
Sukirno melempar harapan kepada pemerintah. Program 365 Up tidak boleh hanya menjadi proyek seremonial yang hangat-hangat tahi ayam. Pemerintah harus lebih agresif membuka pintu-pintu pasar baru yang lebih luas.
“Perkuat juga ekosistemnya. Koperasi dan asosiasi UMKM lokal harus dihidupkan kembali sebagai perisai bersama. Kalau jalan sendiri-sendiri, UMKM kita akan habis digilas raksasa global. Kita harus berhimpun agar kuat,” pungkas Sukirno.
Program 365 Up sudah digulirkan. Angka 365 seolah mengingatkan bahwa pendampingan harus dilakukan setiap hari, sepanjang tahun.
Jalan menuju pasar internasional memang penuh liku, namun dengan mengubah pola pikir dari sekadar “yang penting laku” menjadi “yang penting bermutu dan konsisten”, produk dari sudut-sudut desa di Kota Batu bukan tidak mungkin akan bertengger megah di rak-rak supermarket dunia. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




