MALANG POST – Baru saja serah terima jabatan, Kasat Reskrim Polres Batu yang gres, AKP Zaenal Arifin, langsung tancap gas membongkar tumpukan perkara lama yang menjadi utang penyelidikan. Salah satu kasus besar yang menjadi atensi utamanya di Kota Batu pada Kamis (4/6/2026) ini, adalah misteri penemuan mayat pemuda di Sungai Clumprit, Kelurahan Temas. Meski penyidik sudah memeriksa maraton sebanyak 46 orang saksi dan menemukan motor korban di hilir, tabir penyebab kematian korban hingga kini masih gelap gulita.
Pejabat baru biasanya butuh waktu untuk adaptasi. Pilih-pilih meja. Atau sekadar berkenalan dengan anak buah.
Tapi tidak bagi AKP Zaenal Arifin.
Begitu resmi menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Batu, dia langsung tancap gas. Pekerjaan rumahnya menumpuk.
Salah satu yang langsung menyita perhatiannya adalah tunggakan kasus-kasus lama yang belum tuntas.
“Kami sudah menginventarisir seluruh perkara yang masih berjalan. Salah satu atensi utama kami adalah kasus penemuan mayat,” ujar Zaenal, Kamis (4/6/2026).
Kasus ini memang bukan perkara biasa. Ini soal nyawa yang hilang secara misterius.
Ceritanya kilas balik ke November tahun lalu. Warga Kelurahan Temas, Kota Batu, geger.
Sesosok jasad pria ditemukan mengapung membusuk di aliran Sungai Clumprit. Setelah diidentifikasi, korban adalah K. Usianya masih muda: 26 tahun. Warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.
Sejak hari itu, polisi bekerja keras. Olah TKP dilakukan berkali-kali. Saksi-saksi dipanggil.
Tidak main-main. Sampai hari ini, total sudah 46 orang yang dimintai keterangan.
Mulai dari warga yang pertama kali menemukan jasad, pihak keluarga, teman-teman dekat, hingga siapa saja yang sempat berinteraksi dengan korban sebelum kejadian.
Angka 46 saksi itu besar untuk sebuah kasus penemuan mayat. Tapi, jumlah saksi yang berderet itu belum bisa membuat kasus ini benderang.
Mengapa?
Ini dia kendala terbesarnya: dari 46 orang itu, belum ada satu pun yang melihat atau mendengar langsung bagaimana proses korban bisa sampai berakhir di dalam sungai.
“Belum ada saksi mata yang melihat langsung peristiwa sebelum korban meninggal,” aku Zaenal.
Ditambah lagi, petunjuk digital di sekitar lokasi nihil. Polisi sudah menyisir wilayah sekitar Sungai Clumprit untuk mencari rekaman kamera pengawas. Hasilnya? Zonk. Tidak ada CCTV di sekitar TKP.
Polisi hanya mendapatkan rekaman CCTV dari lokasi lain—lokasi yang mendokumentasikan aktivitas korban jauh sebelum ia menuju sungai.
Namun, bukan berarti penyelidikan ini berjalan di tempat. Penyidik sebetulnya sudah memegang satu bukti krusial: sepeda motor milik korban.
Hanya saja, temuan motor ini justru melahirkan teka-teki baru bagi polisi.
Logikanya, kalau seseorang hanyut, barang-barangnya akan tertinggal di hulu atau ikut terbawa arus ke hilir bersama jasad.
Nah, motor korban ini ditemukan tergeletak sekitar 200 meter dari lokasi penemuan jasad. Anehnya, posisi motor justru berada di bagian hilir sungai. Kok bisa?
Itulah yang kini sedang diputar otak oleh penyidik.
Hasil autopsi kedokteran forensik juga sudah dipegang. Kini, tugas tim Reskrim di bawah komando Zaenal adalah mencocokkan semuanya. Menghubungkan titik demi titik antara hasil autopsi, posisi motor yang janggal, rekaman CCTV luar, dan kesaksian 46 orang tadi.
Zaenal memastikan, kasus Sungai Clumprit ini tidak akan dipeti-eskan. Kasus ini masuk prioritas utama. Dalam waktu dekat, dia akan menggelar Analisa dan Evaluasi (Anev) khusus bersama seluruh tim penyidik.
“Ini menyangkut nyawa masyarakat. Kami akan terus melakukan penyelidikan berdasarkan fakta, keterangan saksi, dan alat bukti yang ada sampai semuanya terang benderang,” tegas perwira tiga balok emas itu.
Bagi Zaenal, ini adalah ujian pembuktian pertamanya di Kota Batu. Apakah di bawah kepemimpinannya, teka-teki rumit di Sungai Clumprit ini bisa terpecahkan, atau tetap menjadi misteri yang hanyut dibawa arus. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




