MALANG POST – Pemerintah Kota Batu mulai tancap gas mematangkan persiapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu, 3 Juni 2026. Sasarannya bukan anak sekolah. Bukan pula pekerja. Kali ini, fokusnya sangat spesifik dan krusial: kelompok prioritas yang disebut “3B”. Yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
Mereka inilah yang paling butuh intervensi gizi. Mengapa? Karena masa depan anak Indonesia ditentukan dari sini. Dari dalam kandungan.
Rencana besar ini digodok serius di Rupatama Balai Kota Among Tani. Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, memimpin langsung Rapat Koordinasi Pemenuhan Minimal Pelayanan Kelompok 3B pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Semua dikumpulkan. Mulai dari kepala dinas, camat, lurah, kepala puskesmas, sampai pengelola dapur gizi se-Kota Batu.
Heli ingin semua kepala satu frekuensi. Paham mekanismenya. Mulai dari dapur, cara memasak, standar keamanan pangan, sampai cara mengantar makanan ke rumah warga.
Bagi Heli, menyukseskan program pusat ini adalah harga mati. Tapi dia tidak mau program ini hanya menjadi sekadar bagi-bagi nasi kotak gratis. Kualitas pelayanan adalah segalanya.
“Program ini harus kita sukseskan bersama. Yang paling penting adalah memastikan makanan yang diberikan aman, tepat sasaran, dan benar-benar bergizi,” ujar Heli, tegas.

RAKOR: Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat memimpin rakor pemenuhan minimal pelayanan kelompok 3B pada SPPG. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Dia tidak ingin mendengar ada makanan yang basi. Atau gizi yang asal-asalan. Ini urusan nyawa dan pertumbuhan.
Pertarungan 1.000 Hari Pertama
Heli mengeluarkan instruksi keras: validasi data harus bersih. Jangan sampai ada data siluman. Jangan sampai yang kaya ikut menikmati, sementara yang miskin dan kurang gizi justru gigit jari.
Kolaborasi di lapangan harus dikunci. Puskesmas dan kader posyandu harus menjadi mata dan telinga pemerintah.
Mereka yang tahu persis di gang mana ada ibu hamil yang kekurangan darah, atau di rumah mana ada balita yang berat badannya seret.
“Validasi data harus diperkuat. Di sisi lain, rasa dan kualitas makanan harus dijaga. Ini menyangkut kesehatan langsung penerima manfaat,” imbuhnya.
Mengapa kelompok 3B ini begitu dikeramatkan?
Dalam dunia medis, ada istilah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Itu dihitung sejak anak masih berupa janin di dalam rahim, sampai dia berumur dua tahun.
Ini adalah periode emas. Sekaligus periode kritis. Jika pada masa ini si anak kekurangan gizi, otaknya tidak akan tumbuh maksimal. Fisiknya akan kuntet. Generasi kita akan kalah bersaing.
Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) sudah meluruskan kiblatnya: selamatkan kelompok 3B ini dulu, baru urus yang lain.
Ujung dari proyek raksasa di Kota Batu ini sebenarnya satu: memotong rantai stunting. Kerdil.
Pemerintah Kota Batu ingin memastikan seluruh dapur SPPG di wilayahnya sudah siap tempur. Sesuai standar operasional.
Matahari meninggi di Among Tani. Rapat selesai. Para petugas medis dan pengelola gizi pulang membawa tugas berat.
Makan gratis di Batu kini bukan lagi soal menu makan siang, melainkan investasi paling sakral untuk melahirkan manusia-manusia unggul dari bumi pariwisata. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




