MALANG POST — Kompetisi kasta tertinggi sepak bola tanah air, Super League 2025/2026, akhirnya resmi ketuk palu. Bagi Arema FC, musim ini adalah pembuktian tentang sebuah keteguhan. Di tengah hantaman badai cedera pemain, performa yang naik turun bak roller coaster, hingga duka mendalam akibat kehilangan sosok legenda, tim berjuluk Singo Edan ini sukses menyudahi kompetisi dengan finis di peringkat ke-9 klasemen akhir lewat raihan 48 poin.
Posisi papan tengah. Bagi sebagian klub, mungkin biasa saja. Tapi bagi Arema? Ini adalah pencapaian terbaik mereka pasca-Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022 lalu.
Jiwa Arema yang sempat redup, perlahan mulai tumbuh kembali.
Di balik layar perjuangan itu, sorot lampu paling terang mengarah ke satu wajah: Marcos Vinicius dos Santos Goncalves.
Pelatih asal Brasil ini tidak hanya menguras otak lewat taktik di lapangan hijau. Dia dipuji karena kesetiaannya. Bertahan di kursi panas pelatih kepala yang penuh tekanan ekstrem bukanlah urusan gampang.
“Untuk saya, sebuah kebanggaan musim ini mulai dan selesai di Arema FC,” ucap Marcos dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya, Marcos punya kesempatan emas untuk angkat kaki. Di tengah musim, saat badai kritik datang, tawaran dari klub lain sempat menghampirinya. Tapi dia memilih setia. Menolak pergi demi menuntaskan perjuangan bersama anak asuhnya.
Satu musim di Indonesia mengubah cara pandangnya tentang hidup. Marcos mengaku belajar banyak hal di luar sepak bola dari orang-orang Indonesia: kerendahan hati dan kesederhanaan.
Kini, setelah peluit panjang kompetisi berakhir, pelatih berusia 47 tahun itu memilih pulang kampung ke Brasil. Mudik. Sambil menunggu keputusan dewan direksi mengenai kelanjutan masa depannya, Marcos menyelipkan doa agar jalinan asmaranya dengan Singo Edan bisa berlanjut.
Dia merasa ada utang tugas yang belum lunas. Target menembus lima besar musim ini meleset. Penyebabnya pelik. Tim dihantam badai cedera panjang yang memaksa pilar penting seperti Achmad Maulana, Luiz Gustavo, hingga Pablo Oliveira harus masuk ruang perawatan.
Ditambah lagi pukulan psikologis yang berat saat asisten pelatih sekaligus legenda Arema, Coach Kuncoro, berpulang ke Yang Maha Kuasa.
Namun, Marcos bangga. Di ujung kompetisi, magis Stadion Kanjuruhan kembali bergelora. Suporter kembali percaya.
“Indah melihat Aremania hadir di stadion dan itu memotivasi kami sampai akhir pertandingan,” tuturnya.
Baginya, Arema bukan sekadar klub sepak bola. Arema adalah keluarga yang melibatkan emosi seluruh isi Kota Malang.
Di Brasil, gairah Arema itu disamakannya dengan klub raksasa Corinthians atau Palmeiras. Harus selalu bertarung di papan atas.
Sinyal dari manajemen sebenarnya sudah hijau. Gayung bersambut. Namun, kepastian akhir tetap harus menunggu ketukan palu rapat direksi.
“Mulai sekarang kami harus memikirkan masa depan. Manajemen harus duduk bersama mengevaluasi apa yang berjalan baik dan apa yang salah,” kata Marcos.
Pandangan ke depan juga diembuskan oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi. Pria yang akrab disapa Inal itu menegaskan, tiga musim terakhir pasca-tragedi kelam adalah fase krusial bagi Arema untuk sekadar “bertahan hidup”.
Manajemen telah memeras keringat melakukan segala cara agar logo Singo Edan tidak lenyap dari peta sepak bola nasional.
Kini, fase bertahan hidup itu sudah lewat. Progresnya nyata. Saatnya mengubah gigi persneling.
“Musim depan itu waktunya kita take off (lepas landas). Setelah tiga tahun pasca-tragedi itu kita terus berprogres. Jangan jalan di tempat. Mau tidak mau kita harus terus berkembang dan terbang tinggi,” tegas pria asal Bogor tersebut.
Peringkat ke-9 jelas tidak membuat Inal puas. Papan tengah bukan tempat asli Singo Edan. Target untuk musim depan langsung dikerek tinggi-tinggi. Tidak tanggung-tanggung: bidik tiga besar atau sekalian angkat trofi juara!
Waktu persiapan menuju musim baru masih panjang. Evaluasi total segera dimulai. Manajemen siap berbenah, pelatih sudah melempar janji manis kebangkitan, dan Aremania sudah mulai kembali memadati tribune.
Jika semua elemen ini satu suara, musim depan tirai pembatas papan atas itu harusnya bisa didobrak dengan mudah. (Ra Indrata)




