MALANG POST – Saat Iduladha. Stok daging kurban bakal melimpah di kulkas. Sapi dan kambing.
Tapi taruhan, sebagian besar dari Anda pasti akan menuding kambing sebagai biang kerok kolesterol. Kambing selalu disalahkan. Sapi selalu dianggap lebih aman.
Bagi Anda yang telanjur membenci kambing, bersiaplah untuk patah hati.
Fakta medis yang menjungkirbalikkan mitos lama ini dibongkar oleh pakar nutrisi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB), Titis Sari Kusuma, dalam talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Rabu (27/5/2026) hari ini. Titis membuka data gizi yang mengejutkan.
Kadar lemak pada daging kambing itu, sejatinya, jauh lebih rendah. Lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi.
“Karena rendah lemak, daging kambing itu sebenarnya sangat direkomendasikan untuk mereka yang sedang menjalani program diet,” ujar Titis.
Tentu, ada syarat dan ketentuannya. Bukan berarti Anda bisa makan sate kambing sebakul penuh dalam semalam.
Kuncinya ada dua: jumlah konsumsi dan cara olah. Titis mematok angka keramat untuk konsumsi daging merah. Maksimal hanya 65 sampai 100 gram saja per hari. Titik. Tidak boleh lebih.
Cara masaknya juga harus diubah. Mulai sekarang, kurangi penggunaan santan yang kental itu. Hindari pula kebiasaan buruk memanaskan masakan daging secara berulang-ulang sampai kuahnya menghitam. “Sifat gizinya bisa rusak,” tambahnya.
Titis juga membagikan trik penyimpanan di kulkas. Masukkan daging ke dalam wadah dengan takaran per porsi sekali masak. Jangan biarkan daging mengalami drama “keluar-masuk” dari lemari pendingin. Sebentar dicairkan, tidak jadi masak, lalu dimasukkan lagi ke freezer. Itu cara instan mengundang bakteri.
Satu lagi: jangan lupa sandingkan piring daging Anda dengan sayur dan buah sebagai penyeimbang.
Trik Tiga Menit Si Nanas
Lalu, bagaimana agar daging kurban itu tidak alot saat digigit? Dan yang paling penting, bagaimana mengusir bau prengus khas kambing yang sering bikin pusing?
Pemilik Aroma Catering, Chef Avi, punya resep rahasia yang murah meriah. Senjatanya adalah buah nanas.
“Pengin daging kurban empuk instan? Cukup parut nanas, lalu baluri ke daging. Ingat, waktunya singkat saja: 1 sampai 3 menit. Jangan ditinggal tidur, nanti dagingnya hancur,” tutur Chef Avi membagikan tipsnya di acara yang sama.
Urusan bau prengus? Indonesia ini kaya. Cukup jejali masakan Anda dengan kekayaan rempah-rempah nusantara. Jahe, lengkuas, serai, hingga daun jeruk adalah musuh alami bau prengus.
Chef Avi juga menyoroti satu kesalahan fatal yang hampir dilakukan oleh semua ibu rumah tangga setelah menerima kresek daging kurban. Kesalahan itu adalah: mencuci daging dengan air mengalir.
Jangan pernah lakukan itu lagi. Mencuci daging mentah justru akan menyebarkan bakteri ke mana-mana. Plus, membuat tekstur daging menjadi rusak.
Lalu bagaimana alur yang benar? Begitu daging dipotong-potong, langsung masukkan ke dalam kotak thinwall atau plastik klip yang rapat.
Jangan langsung dijebloskan ke dalam freezer yang beku. Taruh dulu di bagian chiller (rak pendingin biasa) beberapa jam. Ini penting agar perubahan suhu tidak mengejutkan otot daging dan mengubah warnanya menjadi pucat.
“Kalau mau bikin masakan berkuah seperti sup atau gulai, langsung rebus saja dagingnya dalam kondisi mentah. Begitu mendidih, buang air rebusan pertama yang kotor itu. Lalu, pakai air rebusan kedua untuk dijadikan kuah kaldu yang segar dan bersih,” pungkas Chef Avi.
Iduladha nanti adalah berkah. Dan sehat itu pilihan. Daging kambingnya sudah bebas tuduhan, trik empuknya sudah di tangan, sekarang tinggal bagaimana Anda mengeksekusinya di dapur masing-masing. Mau diet sehat, atau mau menimbun penyakit? Pilihan ada di jempol dan sendok Anda. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




