MALANG POST – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu, secara resmi menerjunkan tim taktis berkekuatan 98 Juru Sembelih Halal (Juleha) berkompetensi nasional, guna mengawal ketat jalannya proses eksekusi pemotongan hewan kurban Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di seluruh wilayah Kota Batu, Rabu (27/5/2026). Langkah masif bermodel patroli bergerak (mobile) yang diinisiasi oleh Kepala Distan-KP, Hendry Suseno, bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan MUI ini, sengaja menyasar sekitar 300 titik penyembelihan di masjid dan musala. Guna menjamin produk daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat, murni memenuhi standar syariat, higienis, dan aman dari risiko penularan penyakit hewan.
Urusan menyembelih sapi dan kambing kurban itu, bukan sekadar modal pisau tajam dan otot yang kuat. Jauh dari itu. Ini adalah urusan fikih, urusan kesehatan, dan urusan martabat konsumsi rakyat.
Selama ini, Anda sudah sering melihat pemandangan klasik saban Iduladha di kampung-kampung. Sapi mengamuk karena panik, atau proses pemotongan yang serampangan akibat pisau yang kurang mumpuni.
Bagi Kota Batu yang memosisikan diri sebagai kota wisata internasional, kebiasaan amatir seperti itu sudah harus ditinggalkan. Penanganan pangan asal hewan wajib naik kelas. Harus presisi.
Logika standardisasi inilah yang dikebut oleh Kepala Distan-KP Kota Batu, Hendry Suseno. Dia tidak mau kualitas daging kurban di wilayahnya ditentukan oleh faktor kebetulan.
Rabu pagi tadi, saat takbir masih berkumandang, Hendry melepas “pasukan khusus”. Bukan tentara, melainkan 98 orang Juleha yang penampilannya rapi dan membawa perlengkapan standar medis dan syariat.

BERSERTIFIKAT: Pemkot Batu menyiapkan sebanyak 98 juleha bersertifikat di momen Idul Adha tahun ini. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Hebatnya lagi, puluhan juru sembelih ini bukan bentukan instan. Mereka adalah produk investasi jangka panjang yang dibiayai murni dari kantong APBD Kota Malang dan Batu secara berkala, lewat program pendidikan dan latihan (diklat) khusus.
“Setiap tahun kami menganggarkan diklat Juleha untuk masyarakat. Jadi saat pelaksanaan Iduladha seperti sekarang, tenaga penyembelih yang bertugas di lapangan sudah memiliki bekal kompetensi yang matang sesuai standar nasional,” ujar Hendry Suseno taktis, Rabu (27/5/2026).
Gerakan tim Juleha ini dibuat sangat dinamis. Bergerak cepat dari satu titik ke titik lain.
Kapasitas operasi mereka dibongkar oleh Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Distan-KP Kota Batu, Sri Nurcahyani Rahayu.
Perempuan yang akrab disapa Yani ini menegaskan, 98 personel Juleha tersebut bukan sekadar mengantongi sertifikat pelatihan lokal. Status mereka mentereng: berlisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Mereka kami sebar secara mobile untuk mengover sekitar 300 titik penyembelihan di seluruh masjid dan musala di tiga kecamatan.”
“Tugas mereka berat: memastikan kesejahteraan hewan terpenuhi sebelum disembelih, pisau yang digunakan lolos uji ketajaman, hingga penanganan daging pasca-potong tidak terkontaminasi kotoran,” urai Yani.
Anda sudah tahu: menyembelih dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (animal welfare) adalah kunci utama menghasilkan daging yang empuk dan sehat.
Sapi yang stres sebelum disembelih, akan memproduksi asam laktat tinggi, yang membuat dagingnya cepat membusuk dan keras. Juleha bersertifikat paham betul sains di balik urusan dapur ini.
Sembari memelototi kehalalan proses, meja administrasi Distan-KP juga terus memantau pergerakan data populasi ternak yang masuk ke Bumi Batu hingga Hari Tasyrik berakhir nanti.
Kalkulasi sementara, jumlah pasokan kurban tahun 2026 ini diprediksi stabil, mengimbangi rekor tahun lalu yang menembus angka 782 ekor sapi, 2.200 ekor kambing, dan 3.000 ekor domba. Jembatan pasokan yang segini raksasa, tentu rawan menjadi kluster penyakit jika tidak dikawal oleh ahli yang kompeten.
Kolaborasi antara ulama (MUI), takmir masjid (DMI), dan birokrasi teknis (Distan-KP) di Kota Batu telah melahirkan sebuah ekosistem kurban yang modern.
Ibadah kurban tidak lagi dipandang sebagai rutinitas jagal tahunan yang berdarah-darah, melainkan sebuah industri pangan berbasis religi yang bersih dan terukur.
Rakyat Kota Batu kini bisa menerima jatah bungkusan daging mereka dengan perasaan tenang tanpa waswas.
Pisau tajam para Juleha BNSP telah menuntaskan tugas spiritualnya di 300 altar masjid, membuktikan bahwa di bawah pengawalan negara yang presisi, daging kurban yang mengalir ke piring rakyat kecil terjamin suci lahir dan batin. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




