Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus bersama para pimpinan UIN Malang mengikuti kegiatan "Jum'at Menanam" di kampus 3 UIN Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Wamenkes RI, Benyamin Paulus Oktavianus, mengungkapkan, lokasi rumah sakit pendidikan (RSP) yang berada di kawasan Batu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat rehabilitasi medis.Proses pemulihan pasien setelah penyakit berat dianggap lebih mudah dengan lingkungan yang hangat dan ramah.
“Lokasi ini sangat bagus untuk menangani kasus katastropik seperti rehabilitasi pasca-stroke, fisioterapi, dan pasien kanker yang membutuhkan perawatan berkelanjutan,” ujar dia.
Ia juga menilai RSP milik UIN Malang nantinya perlu memiliki layanan unggulan tersendiri agar mampu memperkuat sistem kesehatan regional tanpa tumpang tindih dengan rumah sakit umum besar yang sudah ada di Malang Raya.
Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP., menyampaikan bahwa FKIK UIN Malang memang dinilai layak memiliki RSP sendiri. Itu tidak lepas dari capaian akademik mahasiswa kedokteran dan farmasi yang dinilai sangat membanggakan.
“Fakultas kedokterannya memang layak mempunyai rumah sakit. Tingkat kelulusan mahasiswa kedokteran saat ujian nasional mencapai seratus persen dan itu jarang sekali. Tidak ada yang mengulang. Farmasi juga seratus persen lulus,” ujarnya.
Bahkan Program Studi Farmasi UIN Malang berhasil masuk 10 besar nasional untuk nilai batas kelulusan profesi apoteker dan mampu bersaing dengan berbagai perguruan tinggi besar di Indonesia.
“Kalau kualitas akademik sudah seperti ini, artinya kualitasnya tidak diragukan lagi. Karena itu kami optimistis izin rumah sakit pendidikan ini nantinya juga akan mendapat dukungan,” tambahnya.
Menurut Ning Ilfi, sapaan akrab Prof Ilfi Nur Diana, keberadaan RSP menjadi kebutuhan mendesak bagi pengembangan pendidikan kedokteran di UIN Malang.Saat ini, keterbatasan kapasitas rumah sakit mitra membuat jumlah mahasiswa kedokteran yang diterima masih terbatas.
“Kita tidak bisa menambah jumlah mahasiswa lebih besar lagi jika tidak punya rumah sakit pendidikan sendiri. Padahal akses pendidikan kedokteran harus dibuka seluas-luasnya untuk masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Saat ini, FKIK UIN Malang menerima sekitar 100 mahasiswa kedokteran setiap tahunnya. Jumlah itu dinilai masih belum ideal jika dibandingkan dengan kebutuhan tenaga kesehatan nasional yang terus meningkat.
Lebih lanjut, Ilfi menegaskan bahwa UIN Malang tidak hanya ingin mencetak dokter yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nilai spiritualitas dan moralitas yang kuat.
“Kami ingin mencetak dokter muda yang punya pelayanan baik, santun, berakhlakul karimah, dan spiritualitas yang bagus. Karena jika moralitasnya baik, mereka akan melayani masyarakat dengan lebih tulus,” tuturnya
Rumah sakit pendidikan yang direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 6,5 hektare tersebut nantinya diproyeksikan bukan sebagai rumah sakit emergensi, melainkan lebih fokus pada layanan geriatri dan rehabilitasi medis
Konsep yang diusung juga cukup berbeda, karena akan menggabungkan layanan kesehatan dengan suasana pemulihan yang nyaman bagi pasien dan keluarga.
“Penanganannya lebih ke rehabilitasi pasca-stroke, pasca-kanker, dan penyakit berat lainnya. Nanti konsepnya ada cottage-cottage juga supaya pasien bisa menjalani proses pemulihan bersama keluarga,” jelas Ilfi.
Untuk tahap awal, rumah sakit itu direncanakan akan dibangun sebagai rumah sakit tipe C dengan konsep rumah sakit bertumbuh.
“Kita mulai dulu, berjalan dulu, ada pasien dulu, lalu berkembang secara bertahap menjadi lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan rumah sakit pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk Kemenkes maupun mitra internasional.
“Kalau kita hanya diam, tentu tidak akan terwujud. Karena itu kami terus membangun jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri demi menciptakan pendidikan yang berkualitas,” katanya.
Kunjungan Wamenkes RI ini sekaligus menjadi sinyal positif adanya dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan layanan kesehatan berbasis pendidikan tinggi di wilayah Malang Raya
Wakil Rektor I Bidang Akademik, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D., menyampaikan rasa bangga atas kunjungan Wamenkes beserta jajaran pejabat tinggi Kemenkes ke Kampus 3 UIN Malang.
“Civitas akademika tidak pernah menyangka sosok sekelas Pak Wamen bersama Ibu Dirjen dan seluruh direktur hadir langsung di kampus 3. Ini menjadi sinyal positif untuk pengembangan kampus ke depannya,” paparnya.
Di sisi lain, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Zainal Habib menjelaskan lebih jauh tentang bagaimana potensi yang dimiliki Fakultas Kedokteran UIN Malang sekaligus anggaran awal yang diajukan untuk pembangunan rumah sakit.
“Kami dari UIN Malang juga sudah mengonsep rumah sakit yang rencananya dinamai Maliki Islamic Hospital. Jadi kami akan membangun rumah sakit yang bagus bertaraf internasional yang nantinya akan bisa dimanfaatkan secara luas, tidak hanya untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran, tapi juga masyarakat Kota Batu bahkan Malang Raya,” katanya.
Sambil menunggu arahan dari Kemenkes, Zainal Habib menyampaikan dari pihak UIN Malang akan terus mematangkan konsep dan mengkaji seluruh kebutuhan secara detail untuk pembangunan rumah sakit di kampus 3. Bahkan, ia memprediksi peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit akan dilaksanakan pada tahun 2027.
Tidak hanya itu, perwakilan dari pihak akademik, Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Maliki Malang, Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M., menyampaikan secara tegas tentang orientasi rumah sakit ke depan secara menyeluruh.
“Membangun Rumah Sakit Pendidikan UIN Malang bukan hanya membangun fasilitas kesehatan, tetapi juga membangun masa depan pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya.(*/Snr/JNS/Eka Nurcahyo)




