TRIO: Joel Vinicius, Matheus Blade dan Dalberto, saat merayakan gol pertama Arema, dari kemenangan 3-1 atas PSIM. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC sukses menutup kompetisi kasta tertinggi Super League musim 2025/2026, dengan hasil manis setelah menekuk PSIM Yogyakarta dengan skor telak 3-1 di hadapan 6.502 penonton yang memadati Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (22/5/2026) sore. Kemenangan di laga pamungkas ini tidak hanya mengunci posisi tim Singo Edan di peringkat ke-9 klasemen akhir dengan kemasan 48 poin, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi striker asing Dalberto Luan Belo, yang sukses menyabet gelar player of the match lewat donasi satu gol dan dua assist.
Sepak bola Malang malam ini ditutup dengan senyuman. Lebar sekali.
Pertandingan baru berjalan tiga menit. Publik Kanjuruhan belum juga mapan duduk di tribun. Tiba-tiba seisi stadion bergemuruh.
Dalberto menggila di lini tengah. Striker bernomor punggung 94 itu meliuk-liuk, lolos dari sergapan bek Laskar Mataram—julukan PSIM.
Begitu masuk kotak penalti, dia tidak egois. Bola disodorkan ke Joel Vinicius yang berdiri bebas. Sekali kontrol, Vinicius melepas tendangan placing ke pojok kanan gawang. Kiper PSIM, Cahya Supriadi, terbang tapi gagal menjangkau bola. Gol. Arema memimpin 1-0.
Babak pertama berjalan ketat. Masuk babak kedua, menit ke-48, giliran Betinho Filho yang unjuk gigi. Gelandang bertahan asal Brasil itu jeli melihat posisi Dalberto yang lolos dari jebakan offside di sektor kanan.
Dalberto berlari kencang membawa bola ke kotak terlarang. Menembak ke sudut kanan gawang. Cahya Supriadi terkecoh untuk kedua kalinya. Skor 2-0.
Tapi, Anda sudah tahu kelakuan lini belakang Arema musim ini: sering kali terlena usai bikin gol.
Hanya berselang dua menit, gawang Adi Satryo jebol. Pemicunya adalah kemelut di mulut gawang setelah legiun asing PSIM, Ze Valente, mengirim umpan cerdas ke Corfe Deri. Sekali kontrol, Deri menghujamkan tendangan keras ke pojok kiri gawang. Adi Satryo tak berkutik. Kedudukan berubah 2-1.
Pertandingan menjadi menegangkan. Menit-menit akhir berjalan mendebarkan. Sampai akhirnya menit ke-89 datang sebagai pengunci takdir.
Lewat sebuah skema serangan balik cepat (counter attack), Dalberto mendapat umpan lambung dari belakang. Meski dikawal ketat, dia merangsek ke kiri pertahanan lawan.
Dia melihat Valdeci Moreira berlari kencang dari lini kedua. Bola dioper. Valdeci mengecoh satu pemain, lalu melepas tendangan melengkung ciamik ke pojok kanan atas gawang. Gol. Stadion Kanjuruhan meledak. Arema menang 3-1.
Bagi Dalberto, satu gol malam ini menggenapi koleksinya menjadi 19 gol sepanjang musim. Luar biasa.
Usai peluit panjang ditiup, pelatih kepala Arema FC, Marcos Santos, tampak emosional.
Baginya, pertandingan ini sangat sulit karena PSIM dilatih dengan sangat baik. Namun, ada satu hal yang membuat pelatih asal Brasil itu jauh lebih bahagia ketimbang sekadar tiga poin.
“Musim ini kami berhasil mengembalikan ‘Jiwa Kanjuruhan’. Kami membawa kembali kekuatan besar itu, yaitu Aremania.”
“Sangat indah melihat mereka memenuhi stadion lagi. Kehadiran mereka membuat laga ini seperti babak final,” ujar Marcos Santos dengan mata berkaca-kaca.
Marcos blak-blakan. Musim ini berat bagi Arema. Penuh masalah di luar kendali teknis. Dia sendiri mengaku sempat punya dua sampai tiga kali kesempatan untuk hengkang ke klub lain di tengah musim. Tapi dia memilih bertahan karena cinta.
“Selamat kepada pemain atas komitmennya. Kami tidak puas sepenuhnya karena Arema layak di papan atas, tapi setidaknya kita tidak perlu bertarung di papan bawah untuk menghindari degradasi. Arema adalah sebuah keluarga besar,” tambah pelatih berusia 46 tahun itu, yang berencana mudik ke Brasil hari Senin depan, sembari menunggu evaluasi kontrak dari manajemen.
Rasa haru juga melingkupi sang penjaga gawang, Adi Satryo. Laga sore ini adalah debut perdananya setelah absen sangat lama akibat dihantam badai cedera berulang. Cedera yang sempat memukul mental bertandingnya.
Adi mengaku penampilannya yang tenang sore ini tidak lepas dari sentuhan personal sang pelatih sebelum peluit pertama berbunyi.
“Sebelum pertandingan, Coach Marcos menghampiri saya secara personal. Beliau menenangkan saya, memberikan motivasi, dan meminta saya menikmati pertandingan. Pendekatan itu berpengaruh besar pada ketenangan saya di lapangan. Terima kasih juga untuk doa keluarga dan Aremania,” ungkap Adi Satryo.
Super League musim 2025/2026 telah resmi berakhir. Manajemen Arema FC yang dikomandoi Yusrinal Fitriandi dipastikan langsung sibuk mulai besok pagi.
Mereka harus duduk bersama tim pelatih untuk mengevaluasi rapor skuad.
Sebab, posisi ke-9 tentu bukanlah habitat asli bagi tim sebesar Singo Edan. Musim depan, Kanjuruhan harus kembali bersiap untuk tantangan yang lebih besar: berburu gelar juara. (Ra Indrata)




