MALANG POST – Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis.
Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan.
Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer.
Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE).
Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety).
Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat.
Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif.

“Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data.
Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko.
Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data.
“Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan,” ungkapnya.
Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam.
“Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




