SULING: Bupati Malang, HM Sanusi, saat menggelar safari salat Subuh keliling tahun ke-5, yang dilaksanakan di Masjid At-Taqwa, Sukorejo, Tirtoyudo. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM Sanusi, memimpin langsung gerakan Safari Salat Subuh Keliling (Suling) tahun ke-5 tingkat kabupaten, yang dipusatkan di Masjid At-Taqwa, Desa Sukorejo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jumat pagi (22/5/2026). Agenda rutin fajar tersebut dihadiri jajaran Forkopimcam, tokoh ulama DMI-MUI, serta ratusan warga setempat, yang kali ini dikemas secara spesial melalui integrasi layanan kesehatan gratis Puskesmas, pengurusan adminduk kilat, hingga fasilitasi panggilan video interaktif (live zoom meeting) bersama delegasi jemaah haji Pemkab Malang yang sedang berada di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah.
Gerakan Suling Kabupaten Malang ini, sudah memasuki usia lima tahun. Konsisten. Bukan perkara mudah mengajak para pejabat teras daerah untuk melepas selimut saat fajar, lalu menembus dinginnya jalur perbukitan, menuju ujung timur Malang Selatan di Tirtoyudo.
Namun, Abah Sanusi—sapaan akrab Bupati—punya rumus sendiri. Baginya, subuh bukan sekadar urusan ritual privat antara hamba dan Sang Pencipta. Subuh keliling adalah instrumen birokrasi sosiologis yang paling ampuh, untuk merajut kembali rajutan gotong royong yang mulai melonggar di tingkat desa.
Subuh Jumat kali ini terasa sangat berbeda. Ada aura spiritual yang melompat melintasi samudera.
Usai zikir bersama menggema di dalam Masjid At-Taqwa, panitia memasang sebuah layar proyektor besar di dekat mimbar. Jaringan internet dinyalakan. Aplikasi Zoom Meeting dihubungkan.
Seketika, ruang masjid yang dingin di lereng Tirtoyudo itu, terhubung langsung dengan benderangnya Kota Suci Makkah Al-Mukarramah.
Di seberang layar digital, tampak Ketua DPRD Kabupaten Malang, Darmadi, bersama Ketua Baznas Kabupaten Malang, KH. Khoirul Hafidz Fanani, menyapa hangat dari tanah suci. Mereka sedang menunaikan rukun Islam kelima di sana.
Maka, terjadilah dialog fajar yang magis. Ratusan jemaah di Tirtoyudo bisa bertatap muka secara digital, saling melempar senyum, dan meminta didoakan langsung di depan Ka’bah agar Kabupaten Malang dijauhkan dari marabahaya. Jarak ribuan kilometer mendadak runtuh oleh teknologi.
Logika Sedekah Fajar dan Definisi Rezeki
Abah Sanusi, yang didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Budiar Anwar, langsung naik ke podium begitu layar digital ditutup. Ia mengajak warga Sukorejo untuk meluruskan niat dalam menegakkan tiang agama.
“Marilah kita bersama-sama memperkuat iman kita kepada Allah dengan salat lima waktu. Melaksanakan kegiatan suling ini harus dengan rasa yang ikhlas. Siapa yang menegakkan salat, dialah yang telah menegakkan agama Allah,” tutur Sanusi dengan intonasi bertenaga, Jumat (22/5/2026).
Sanusi, yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat, kemudian membedah teologi kemakmuran mikro. Ia mengingatkan jemaahnya untuk membiasakan diri membuka dompet begitu salam salat subuh selesai diucapkan. Siasat menjemput rezeki lewat sedekah subuh.
Logika hadisnya benderang. Sedekah di waktu subuh, dinilai paling cepat mengundang malaikat kebaikan untuk mendoakan pelapangan rezeki si hamba.
Namun, Sanusi buru-buru mengubah cara pandang umum masyarakat yang sering kali menyempitkan arti kata rezeki, hanya pada hitungan lembaran uang kertas di dalam laci toko.
“Rezeki itu bentuknya banyak. Kesehatan yang prima, anak yang soleh dan solehah, istri dan suami yang taat dan setia, hingga kawan lama yang menyenangkan. Itu semua adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Jadi, mari terus subuh berjamaah dan jangan lupa bersedekah,” pungkasnya, disambut anggukan takzim para jemaah.
Birokrasi Jemput Bola: Suling Sakti Adminduk
Suling di tangan Sanusi, tidak pernah membiarkan warga pulang dengan tangan hampa. Begitu khotbah selesai, giliran aksi nyata pemerintah daerah diturunkan ke lapangan.
Bupati menyerahkan bantuan dana hibah tunai sebesar Rp20 juta yang dialokasikan khusus untuk renovasi dan perawatan fasilitas ibadah Masjid At-Taqwa Desa Sukorejo. Bantuan ini diserahkan langsung kepada takmir masjid setempat.
Di luar halaman masjid, suasananya sudah mirip pasar pelayanan publik mini. Pemkab Malang tahu betul, jarak Tirtoyudo ke pusat administrasi di Kepanjen itu sangat jauh. Memakan waktu berjam-jam dan ongkos bensin yang tidak sedikit bagi warga miskin.
Maka, dua dinas teknis langsung pasang badan di teras masjid.
Pertama, pasukan medis dari UPT Puskesmas Tirtoyudo menggelar meja pemeriksaan kesehatan gratis. Jemaah lansia yang baru keluar masjid langsung diarahkan untuk cek tensi darah, pemeriksaan kadar gula, hingga konsultasi kesehatan tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Kedua—ini yang paling diminati warga—adalah program Suling Sakti Adminduk (Subuh Keliling Sukseskan Administrasi Kependudukan Terintegrasi) yang digawangi oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Malang.
Mesin cetak KTP dan Kartu Keluarga (KK) dibawa langsung menggunakan mobil layanan keliling. Warga Sukorejo yang selama ini mengeluh tidak punya waktu mengurus akta kelahiran anak atau pembaharuan KK karena sibuk bertani di ladang, pagi itu bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan menit sambil menunggu matahari terbit.
Gerakan Suling tahun ke-5 ini membuktikan satu hal: wajah kekuasaan yang paling humanis adalah ketika bupati dan para kepala dinas mau turun gunung menemui rakyatnya di barisan shaf shalat yang sama, mendengarkan doa mereka, lalu memberesi urusan dapur administratif mereka sebelum hari beranjak siang. (PKP/Ra Indrata)




