Dirut POMINDO, Yahya Sumantri, Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi beserta Owner Depo POMINDO Bukirsari, Lowokwaru Dian Permatasari. Foto bersama seraya menunjukkan perizinan usahanya depo minyak goreng, Senin (18/05/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Direktur Utama POM Minyak Goreng Indonesia (POMINDO), H. Yahya Sumantri, meresmikan operasional Depo Bukirsari di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Senin (18/5/2026).
Kehadiran jaringan distribusi di bawah naungan PT Parama Artha Buwana (PT Parabu) ini, dirancang khusus untuk memotong jalur distribusi yang panjang. Sekaligus melayani pembelian minyak goreng curah premium secara eceran ketengan bagi warga biasa, pelaku UMKM, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Merah Putih.
Zaman sedang berubah. Cara menjual minyak goreng pun ikut bermutasi. Kini, membeli minyak goreng bisa semudah membeli bensin di pertamini: bisa diketeng sesuai isi kantong.
Inilah yang dibawa oleh POMINDO ke bumi Arema. Mereka memajang konsep radikal. Mengizinkan rakyat kecil membeli minyak goreng dengan nominal yang tidak biasa.
“Kita siap melayani dalam jumlah ukuran kecil maupun besar. Pun, memberikan kesempatan harga eceran ketengan kepada warga biasa.”
“Misalnya beli senilai Rp1.000, Rp2.000, atau Rp3.000. Untuk harga per liternya, kita jual Rp22.000 ke konsumen,” ujar Yahya Sumantri saat berbincang dengan Malang Post, Senin (18/5/2026).
Logika bisnisnya sederhana namun menukik ke bawah. Urusan pemenuhan perut rakyat tidak boleh rumit.
Untuk urusan pasokan, POMINDO tidak main-main. Mereka disokong oleh para raksasa: PT Wilmar, PT Mahesa, PT Pelindo Energy Logistic, hingga Sinar Mas. Pusat operasional hilirnya dipusatkan di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.
Jurus Pangkas Jalur dan Manajemen Satu Komando
Yahya sadar, tata niaga minyak goreng di Indonesia sering kali ruwet. Rantai distribusinya terlalu panjang. Akibatnya, harga di tingkat hilir sering melonjak tak keruan.
POMINDO memotong gurita itu. Dari pabrik langsung ke depo di tingkat kecamatan, lalu bergeser ke outlet di tingkat kelurahan, baru mendarat di tangan pengecer atau konsumen akhir.
Depo Bukirsari di Lowokwaru ini adalah mata rantai ke-252 di seluruh Indonesia. Rencana ekspansinya agresif: satu kecamatan satu depo, satu kelurahan satu outlet.
Bagaimana menjaga agar tidak ada spekulasi harga di lapangan? Yahya punya jurus satu komando. Selisih harga dari depo ke outlet dikunci di angka Rp1.000. Dari outlet ke pengecer dibatasi Rp1.000 hingga Rp1.500.
Sistem ini kaku. Tidak boleh ditawar. Konsumen di kelurahan tidak diizinkan melompati jalur dengan membeli langsung ke depo kecamatan. Tujuannya agar kue keuntungan terbagi rata dan distribusi tertata.
“Bilamana ada depo atau outlet melakukan pelanggaran, penyimpangan, atau kecurangan di lapangan, kita tidak pakai ragu. Langsung putus kontrak kerja,” tegas pria asal Kuningan, Jawa Barat tersebut.
Apresiasi Pemerintah dan Solusi Banjir Lowokwaru
Pemerintah Kota Malang langsung menangkap sinyal positif ini. Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, yang hadir di lokasi memberikan apresiasi tinggi.
Minyak goreng adalah komoditas sensitif. Sedikit saja harganya bergejolak, angka inflasi daerah bisa langsung merah.
“Kami melihat kehadiran POMINDO secara tidak langsung bakal membantu masyarakat, baik warga biasa maupun pelaku usahanya.”
“Ke depannya, kami berharap POMINDO bisa lebih jitu lagi strateginya agar bisa kompetitif,” kata Eko.
Peluang kemitraan di Kota Malang kini dibuka lebar untuk kecamatan lain yang masih kosong. Nilai investasinya terukur: Rp72 juta untuk hak kelola satu depo kecamatan, dan Rp26 juta untuk satu outlet kelurahan.
Dian Permatasari, Direktur Depo POMINDO Bukirsari Lowokwaru, mengaku butuh waktu persiapan satu bulan, sebelum berani membuka kran penjualan.
Sebagai pengusaha lokal, ia paham betul dinamika wilayahnya. Lokasi deponya kebetulan berada di kawasan rawan genangan air.
Namun, tantangan alam itu dihadapi dengan taktis. Tanggul pagar besi sistem bongkar pasang disiapkan demi melindungi investasi berharga tersebut.
“Harapan kami, usaha depo minyak goreng ini bisa membantu program pemerintah sekaligus memberikan nilai manfaat nyata yang instan bagi masyarakat Malang,” tutur Dian optimistis. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




