KOMPAK: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, bersama peserta pelatihan dan sertifikasi Si Jules, Senin (18/5/2026). (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, resmi membuka pelatihan sekaligus sertifikasi “Si Jules” (Sistem Integrasi Juru Sembelih dan Layanan Halal Syariah) dan meluncurkan program katalog digital “Kurbania” di Hotel Aliante, Kota Malang, pada Senin pagi (18/5/2026).
Langkah strategis yang berlangsung hingga Selasa (19/5) ini, sengaja digeber demi memperkuat ekosistem halal value chain (rantai pasok halal) di wilayah Malang Raya, Pasuruan, hingga Probolinggo menjelang Hari Raya Iduladha.
Bulan Mei ini adalah bulan yang unik. Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, bahkan menyebutnya sebagai bulan paling work-life balance.
Bagaimana tidak? Hitung-hitungannya lucu: 16 hari kerja, 15 hari libur. Banyak hari terjepit.
Namun di antara jeda liburan yang panjang itu, Bank Indonesia justru memilih tancap gas. Mereka mengumpulkan para juru sembelih, perwakilan Kementerian Agama, Dinas Pertanian, hingga Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Ada barang baru yang mereka perkenalkan. Namanya keren: Si Jules. Ini adalah evolusi dari program Juleha (Juru Sembelih Halal) yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
”Dulu namanya Juleha. Sekarang oleh teman-teman dibuat inovasi baru, ditambah fiturnya, diintegrasikan dari hulu ke hilir menjadi Si Jules. Ini garda terdepan kita,” ujar Indra Kuspriyadi dalam sambutannya, disambut anggukan ratusan peserta.
Mengapa Bank Sentral Urus Daging?
Mungkin banyak orang heran. Mengapa Bank Indonesia—yang biasanya sibuk mengurus cetak uang, suku bunga, dan nilai tukar rupiah—tiba-tiba ikut sibuk mengurus pisau jagal dan sertifikasi daging halal?

PIMPINAN: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Indra sudah kenyang mendapat pertanyaan sinis seperti itu. Jawabannya benderang: ini soal tugas pokok bauran ekonomi.
BI memang bertugas menjaga inflasi dan kestabilan kurs rupiah. Namun, ada amanat lain yang tidak kalah penting, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi riil melalui UMKM.
Caranya ada tiga koridor: korporatisasi, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, dan fasilitasi akses pembiayaan.
“Nah, ekonomi syariah adalah ladang raksasa yang belum digarap optimal di Indonesia. Kita ini mayoritas muslim, tapi seringkali abai pada rantai pasoknya,” sebutnya.
Indra lalu melempar sebuah komparasi menarik saat dirinya masih bertugas di Medan. Di sana, satu provinsi besar terkadang hanya memiliki satu Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang bersertifikat halal resmi.
Coba bandingkan dengan Provinsi Bali. Mayoritas penduduknya non-muslim. Namun, jumlah RPH dan Rumah Pemotongan Unggas (RPU) yang mengantongi sertifikat halal di Pulau Dewata justru jauh lebih banyak.
Kenapa? Bali tidak melihat halal semata-mata sebagai urusan keimanan ritual. Mereka melihatnya dari kacamata bisnis dan strategi marketing. Turis muslim yang datang ke Bali harus dibuat nyaman saat mengonsumsi makanan.
“Kita memiliki basis massa muslim yang sedemikian besar, tapi layanan halal hulu ke hilir masih menjadi PR besar kita bersama,” tegas Indra.
Kurbania: Solusi Belanja Kurban Tanpa Ragu
Gayung bersambut. Visi besar makro dari BI tersebut langsung diterjemahkan secara taktis di tingkat lapangan oleh tim implementasi. Abidin Abdul Haris, Deputi Kepala KPwBI Malang, membeberkan jurus teknisnya usai pembukaan acara.
Salah satu terobosan konkret tahun ini adalah diluncurkannya program “Kurbania”. Sederhananya, ini adalah sebuah katalog informasi terintegrasi hulu-hilir.
Isinya lengkap: daftar 10 RPH halal di wilayah kerja BI Malang, penyedia hewan kurban yang sah secara syariat, hingga daftar nama juru sembelih yang sudah tersertifikasi secara resmi.

RESMI: Secara simbolis, Kepala BI Malang, Indra Kuspriyadi, menyerahkan sertifikat kepala peserta Si Jules. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
“Kami coba menjembatani agar perkembangan Juleha tidak jalan sendiri-sendiri.”
“Selama ini program Juleha jalan ke mana, sertifikasi halal produk jalan ke mana. Lewat Kurbania, semua dikolaborasikan,” jelas Abidin.
Saat ini, masyarakat sudah bisa mengakses pusat informasi mini ini melalui stan kecil (booth) yang dibuka di Malang Town Square (Matos). Di sana, brosur digital dilengkapi dengan kode QR (QR Code) disebarkan ke pengunjung.
Meski momentumnya mepet menjelang Iduladha, respons publik Malang rupanya sangat positif. Beberapa transaksi langsung bahkan sudah terjadi antara konsumen dengan penyedia hewan yang terdaftar di katalog.
Menaikkan Kelas Juru Sembelih
Pada gelombang sertifikasi kompetensi kali ini, ada 15 orang juru sembelih baru yang didaftarkan untuk naik kelas mendapatkan lisensi resmi.
Secara kumulatif, total Juleha yang berada di bawah binaan langsung BI Malang kini sudah menembus angka lebih dari 40 orang. Minat masyarakat sebenarnya membeludak, namun kuota BNSP masih terbatas.
Manfaat sertifikasi ini bukan main-main. Menurut Abidin, ada dua keuntungan instan bagi para jagal yang memegang sertifikat resmi.
Pertama, nilai jual dan pasar mereka otomatis meluas. Masyarakat modern hari ini tidak hanya mencari daging yang murah, tapi juga mencari jaminan higienitas (thayyin) dan keabsahan syariat (halalan).
Kedua, fleksibilitas profesi. Juru sembelih bersertifikat tidak lagi menjadi pekerja lokal yang terikat pasif di satu RPH saja. Mereka memiliki legitimasi moral dan hukum untuk dipanggil bertugas secara mandiri di masjid-masjid, instansi, atau kepanitiaan kurban masyarakat luas saat hari H penyembelihan.
Melalui integrasi Si Jules dan Kurbania, Malang kini sedang merajut standardisasi baru. Mengubah cara pandang tradisional ladang jagal menjadi sebuah industri halal yang presisi, aman, dan membawa berkah ekonomi bagi semua pihak. (Ra Indrata)




