MALANG POST – Di tengah peringatan terjadi El Nino ekstrem pertengahan tahun ini, Kota Malang menghadapi persoalan karena tidak memiliki sumber air sendiri. Selama ini kebutuhan air bergantung pada pasokan sumber air dari Kota Batu dan Kabupaten Malang.
Dosen prodi Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Dr. Ir. Ery Suhartanto, ST., MT., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan “Godzilla El Nino” sebenarnya bukan istilah ilmiah.
Melainkan istilah populer untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat seperti pada 2015–2016. Namun menurutnya, saat ini yang lebih penting adalah terkait mitigasi menghadapi dampak kekeringan karena fenomena tersebut.
“Mitigasi tidak bisa dilakukan saat krisis sudah terjadi. Justru harus dilakukan sejak awal, bahkan sebelum tanda-tanda kekeringan muncul,” ujarnya.
Bagi Kota Malang yang tidak memiliki sumber mata air, fenomena ini bisa membawa dampak yang lebih besar dibanding Kota Batu dan Kabupaten Malang. Karena dua wilayah tetangganya memiliki sumber mata air sendiri.
“Kalau terjadi gangguan distribusi, Kota Malang akan sangat rentan karena tidak punya sumber air sendiri (Water Scarcity),” ungkapnya.
Selain itu, penggunaan air tanah secara berlebihan juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Air tanah membutuhkan waktu lama untuk pulih, sehingga eksploitasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan muka tanah.
Ia menjelaskan bahwa kekeringan terjadi secara bertahap, dimulai dari kekeringan meteorologis akibat penurunan curah hujan, kemudian berkembang menjadi kekeringan hidrologis ketika ketersediaan air di sungai, waduk, danau dan sumur mulai berkurang.
“Yang harus dicegah itu jangan sampai masuk ke kekeringan hidrologis, ketika air di sungai, waduk, danau dan sumur mulai habis,” katanya.
Karena itu, menurutnya, langkah mitigasi harus mulai dilakukan sejak musim hujan, bukan ketika kekeringan sudah terjadi.
Ia menyampaikan salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah menerapkan konsep “Gerakan Menabung Air” (GEMAR).
Program itu dideklarasikan Prof. Dr. IR. M. Bisri, MS, IPU tahun 2014 di RW-23 Glintung. Langkah itu yakni menyimpan air saat musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau.
Upaya ini dapat dilakukan melalui pembangunan sumur injeksi (Injection Well) dengan tujuan Pengisian Kembali Akuifer (Aquifer Recharge) untuk menyimpan air di akuifer (Aquifer Storage and Recovery).
“Air hujan dimasukkan ke dalam tanah untuk menjaga cadangan air. Ini cara sederhana tapi efektif untuk kawasan perkotaan padat pemukiman,” jelasnya.
Penerapan sumur injeksi yang diinisiasi ini merupakan Hak Paten Prof. Bisri, guru besar Teknik Pengairan sekaligus mantan Rektor UB. Salah satu kawasan yang telah menerapkan teknologi ini yakni kawasan RW-23 Glintung, Kota Malang.
Program GEMAR tersebut dikembangkan sejak 2014 sampai sekarang dan terbukti mampu menjaga ketersediaan air, bahkan saat musim kemarau panjang dan mengurangi banjir di musim hujan.
“Di sana air hujan dimasukkan ke tanah, dan sampai sekarang sumber airnya tidak pernah kering,” ungkapnya.
Menurutnya, jika membandingkan krisis energi BBM, tentu krisis ketersediaan air akan lebih berbahaya. Jika ketersediaan kendaraan BBM bisa diganti kendaraan listrik, namun ketersediaan air permukaan tidak bisa digantikan dengan apapun. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




