HARI PENDIDIKAN Nasional tahun ini mengusung tema yang tidak sederhana, sekaligus sangat mendasar: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Tema ini seakan mengajak kita keluar dari ruang-ruang sempit pemaknaan pendidikan, menuju horizon yang lebih luas—bahkan tak berbatas. Pendidikan tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai proses transfer pengetahuan di ruang kelas, atau sebagai instrumen untuk melahirkan lulusan dengan capaian akademik tinggi semata.
Lebih dari itu, pendidikan adalah denyut kehidupan itu sendiri, yang bersentuhan dengan manusia, alam, dan semesta secara utuh.
Dalam tradisi keilmuan Islam, pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah, yang berasal dari akar kata rabba–yurabbi. Kata ini tidak hanya bermakna mendidik dalam arti sempit, tetapi juga menumbuhkan, memelihara, mengembangkan, dan membimbing secara menyeluruh.
Tarbiyah mengandung dimensi keberlanjutan dan keluasan—sebuah proses yang tidak berhenti pada individu, tetapi menjalar ke masyarakat, lingkungan, bahkan peradaban. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang pendidikan, kita sejatinya sedang berbicara tentang bagaimana merawat semesta.
Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita menyaksikan dinamika global yang akhir-akhir ini diwarnai oleh konflik dan ketegangan. Dunia seakan kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral dan kebijaksanaan kemanusiaan.
Perang dan konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia menunjukkan bahwa capaian akademik, inovasi teknologi, dan kecanggihan sains tidak cukup untuk menjamin terciptanya kedamaian.
Dalam konteks inilah, pendidikan diuji. Apakah ia hanya akan menjadi alat produksi kecerdasan teknis, ataukah mampu menjadi jalan bagi lahirnya manusia yang bijaksana dan berkeadaban?
Keberhasilan pendidikan tidak lagi memadai jika hanya diukur melalui indikator-indikator kuantitatif seperti indeks prestasi, jumlah publikasi ilmiah, atau capaian inovasi teknologi.
Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan yang sejati harus mampu melahirkan kebermanfaatan yang nyata—impactful education—yang tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat luas dan lingkungan.
Pendidikan harus menghadirkan keberdampakan yang menenangkan, bukan justru memperuncing konflik; yang merawat kehidupan, bukan merusaknya.
Dalam kerangka itulah, pengalaman UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mengembangkan model pendidikan berbasis nilai menjadi penting untuk direfleksikan.
Pada tanggal 27 dan 28 April 2026, kampus ini menerima kunjungan dari sebuah yayasan internasional terkemuka, Muassasah Risalatussalam, yang dipimpin oleh Dr. Majdi Tontowi—seorang jurnalis, peneliti, sekaligus akademisi yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu perdamaian global.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan pertemuan dua visi besar tentang pendidikan: pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial dan sebagai jalan menuju perdamaian dunia.
Rombongan yayasan tersebut menyaksikan secara langsung bagaimana UIN Malang membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada knowledge production, tetapi juga pada pembentukan karakter dan ketenangan batin.
Salah satu konsep kunci yang menjadi perhatian mereka adalah paradigma Ulul Albab yang diusung oleh UIN Malang. Konsep ini bukan sekadar simbol atau jargon kelembagaan, tetapi menjadi fondasi filosofis dalam seluruh proses pendidikan.
Ulul Albab menggambarkan integrasi antara pikir dan zikir—antara rasionalitas dan spiritualitas, antara kecerdasan intelektual dan kedalaman batin.
Dalam dunia yang sering kali terjebak dalam dikotomi antara sains dan agama, antara rasio dan iman, konsep ini menawarkan jalan tengah yang menyejukkan.
Ia mengajarkan bahwa kecerdasan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan berpikir kritis, tetapi juga dari kemampuan untuk merasakan, merenung, dan menghadirkan ketenangan dalam diri. Dari ketenangan inilah lahir kedamaian—baik kedamaian personal maupun sosial.
Para tamu dari Muassasah Risalatussalam mengaku terkesan dengan bagaimana nilai-nilai ini diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan kampus.
Pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi hadir dalam budaya, interaksi sosial, dan bahkan dalam cara civitas akademika memaknai kehidupan. Inilah pendidikan yang hidup—living education—yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga dialami.
Kesan mendalam tersebut kemudian berbuah pada komitmen nyata. Yayasan tersebut menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi strategis dengan UIN Malang, bahkan hingga pada tahap penghibahan bangunan pusat kajian.
Pusat kajian ini dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk mengembangkan kajian-kajian Al-Qur’an yang tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi mampu membumi dan memberikan solusi nyata bagi persoalan-persoalan kontemporer.
Rencana ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi tentang membangun peradaban ilmu yang berakar pada nilai-nilai ilahiah dan berorientasi pada kemaslahatan semesta. Kajian Al-Qur’an yang dimaksud bukanlah kajian yang eksklusif dan elitis, melainkan kajian yang inklusif, dialogis, dan transformatif—yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya.
Momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi sangat tepat untuk merefleksikan semua ini. Tema “partisipasi semesta” tidak dapat dimaknai secara parsial. Ia menuntut keterlibatan semua pihak: pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat, bahkan komunitas global.
Pendidikan bukan lagi tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif.
Namun, partisipasi semesta juga mengandung makna yang lebih dalam. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan harus selaras dengan semesta itu sendiri—dengan nilai-nilai kemanusiaan, dengan keseimbangan alam, dan dengan prinsip-prinsip keadilan.
Pendidikan yang merusak lingkungan, yang memperlebar kesenjangan sosial, atau yang mengabaikan nilai-nilai moral, sejatinya telah kehilangan arah.
Dalam dunia yang semakin terhubung, kolaborasi lintas negara dan lintas budaya menjadi keniscayaan. Kunjungan Muassasah Risalatussalam ke UIN Malang adalah contoh konkret bagaimana dialog global dapat melahirkan sinergi yang konstruktif. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, bukan justru mempertegas sekat-sekat yang ada.
Sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan, saya melihat bahwa kerja sama semacam ini bukan hanya peluang, tetapi juga amanah. Amanah untuk menjaga nilai, untuk memastikan bahwa setiap bentuk kolaborasi tetap berpijak pada prinsip-prinsip keilmuan dan kemanusiaan. Amanah untuk menjadikan institusi pendidikan sebagai pusat peradaban yang membawa rahmat bagi semesta.
Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang harapan. Harapan bahwa dunia dapat menjadi tempat yang lebih damai, lebih adil, dan lebih manusiawi. Harapan bahwa generasi mendatang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Harapan bahwa ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk menghancurkan, tetapi untuk membangun dan merawat kehidupan.
Di momen Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita meneguhkan kembali komitmen kita. Bahwa pendidikan yang kita bangun adalah pendidikan yang menanamkan kedamaian—tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam dan seluruh semesta. Pendidikan yang melahirkan manusia-manusia Ulul Albab, yang mampu berpikir jernih, berzikir dengan khusyuk, dan menghadirkan ketenangan di tengah dunia yang penuh gejolak.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa tinggi kita melangkah, tetapi dari seberapa luas manfaat yang kita tebarkan. Bukan dari seberapa canggih teknologi yang kita kuasai, tetapi dari seberapa dalam nilai kemanusiaan yang kita hayati.
Dan dari sanalah, peradaban yang damai akan tumbuh. (***)




