KOLASE: Marcos Santos di kubu tuan rumah Arema FC, bakal berhadapan dengan Bernardo Tavares, yang membesut Persebaya. (Foto: Arema dan Persebaya Official)
MALANG POST – Aroma persaingan panas dua kutub sepak bola Jawa Timur, kembali membuncah. Arema FC bersiap menantang rival abadi mereka, Persebaya Surabaya, dalam laga pekan ke-30 Super League musim 2025/2026.
Pertandingan bertajuk Derbi Jatim yang sarat gengsi dan emosi ini, dijadwalkan akan menghentak Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (28/4/2026) sore pukul 15.30 WIB.
Meski digelar di tempat netral tanpa riuh dukungan Aremania, laga ini diprediksi tetap akan menyuguhkan intensitas tinggi layaknya duel final.
Bagi skuadra Singo Edan, laga ini bukan sekadar mengejar tiga poin tambahan di papan klasemen. Lebih dari itu, ada misi besar untuk memutus rantai hasil minor setiap kali bersua Bajul Ijo.
Sejarah mencatat, Singo Edan seolah kehilangan taringnya dan belum pernah lagi mencicipi manisnya kemenangan atas Persebaya, sejak kompetisi Liga 1 musim 2019 silam.
Kini, di bawah komando pelatih asal Brasil, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, Arema mencoba mendobrak tembok superioritas tersebut. Dengan identitas permainan baru yang lebih vertikal dan lugas.
Kecewa Main di Bali: Trauma Sejarah
Keputusan pemindahan laga ke Bali tanpa kehadiran penonton, menjadi pukulan telak bagi kubu Arema. Sebagai tim yang bertindak sebagai tuan rumah di putaran kedua ini, kehilangan atmosfer Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, merupakan kerugian besar.
Padahal, kehadiran Aremania diharapkan mampu menjadi pemain ke-12, yang menyuntikkan nyali ekstra di lapangan.
Marcos Santos, secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya, sekaligus rasa simpati yang mendalam. Ia memahami, luka akibat Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, masih menyisakan trauma mendalam. Wajar jika aparat keamanan dan pemerintah daerah, belum memberikan lampu hijau untuk menggelar laga derbi di Malang.
“Secara pribadi, saya merasa bersalah, karena kami harus bermain tanpa penonton di laga sebesar ini. Kami sangat menghormati dan mengerti trauma keluarga korban atas tragedi beberapa tahun lalu.”
“Keinginan terbesar saya adalah bermain di Malang, karena kekuatan Aremania ada di sana. Namun, karena situasi harus berpindah ke Bali, kami harus menerimanya,” ujar Marcos Santos dengan nada getir, saat konferensi pers yang dilakukan secara daring, Senin (27/4/2026).
Meski begitu, pelatih berisensi Pro Conmebol ini meminta kepada Johan Alfarizi dan kawan-kawan, untuk tidak menjadikan status laga usiran ini sebagai alasan untuk tampil lembek.
“Pemain harus berjuang sampai menit terakhir. Biarlah Aremania mendukung dari jauh melalui doa, dan kami akan berjuang di lapangan untuk membuat mereka bangga di Malang,” tambahnya.

Marcos Santos menitipkan pesan bagi seluruh Aremania di Malang dan di manapun berada. Ia sadar bahwa laga ini adalah pertaruhan harga diri bagi warga Malang.
“Tolong dukung kami dari rumah. Kami tahu ini tidak mudah bagi kalian dan ini juga tidak mudah bagi kami bermain di stadion yang sepi.”
“Tapi kami janji, setiap keringat pemain di lapangan besok, adalah untuk kehormatan Malang. Semoga besok kami bisa membawa pulang kabar bahagia,” sebut pelatih 47 tahun ini.
Singo Edan Tak Lagi Parkir Bus
Arema FC datang ke Bali dengan modal yang sangat solid. Pekan lalu, mereka menjadi satu-satunya tim di musim ini yang mampu menahan imbang pemuncak klasemen, Persib Bandung, dengan skor 0-0 di GBLA.
Keberhasilan tersebut memperpanjang catatan clean sheet Arema, dalam tiga laga terakhir, setelah sebelumnya membungkam Persis Solo 2-0 dan menang 1-0 atas Persita Tangerang.
Namun, Marcos Santos menegaskan, taktik defensif yang digunakan saat melawan Persib, tidak akan sepenuhnya diterapkan kala menghadapi Persebaya. Ia kini mulai menggeser identitas permainan tim ke arah yang lebih ofensif dan pragmatis.
“Saya ingin tim bermain lebih vertikal dan langsung (direct). Jarak antarlini harus lebih rapat agar transisi dari bertahan ke menyerang bisa berjalan kilat.”
“Kami sudah mempelajari gaya main Persebaya yang sangat terorganisir. Kami tidak boleh hanya menunggu, kami harus lebih agresif menyerang untuk mencetak gol,” urai Marcos.
Fokus utama taktik Arema adalah mematikan pergerakan dua motor serangan Persebaya, Francisco Rivera dan Bruno Paraiba.
Analisis mendalam telah dilakukan untuk memastikan bahwa kedua pemain tersebut, tidak mendapatkan ruang tembak maupun ruang umpan yang leluasa, ke jantung pertahanan Arema yang dikawal duet kokoh di lini belakang.
Ujian Fisik dan Kekuatan Mental
Tantangan tak kalah berat datang dari sisi non-teknis, yakni kebugaran pemain. Jadwal padat Super League, benar-benar menguras stamina skuad Singo Edan.
Setelah berjibaku di Bandung pada Jumat (24/4/2026) malam, para pemain langsung diterbangkan ke Pulau Dewata, tanpa sempat pulang ke Malang untuk memulihkan diri.
Gelandang asing Arema FC, Gustavo Franca, menjadi salah satu pemain yang paling merasakan dampak kelelahan tersebut.
Namun, pemain berpaspor Brasil itu menegaskan, dalam sebuah partai derbi, kondisi fisik nomor dua. Sementara kekuatan mental adalah yang utama.
“Perjalanan dari Bandung ke Gianyar dengan waktu pemulihan yang sangat singkat memang berat. Tapi saya sudah tahu bagaimana tensi pertandingan derbi ini. Kuncinya bukan di kaki, tapi di kepala (mental). Kami harus punya mentalitas pemenang untuk bisa meruntuhkan dominasi lawan,” tutur Franca yang tampil disiplin saat meredam agresi Persib pekan lalu.
Di sisi seberang, Persebaya Surabaya datang dengan kondisi yang lebih bugar. Tim asuhan Bernardo Tavares ini memiliki waktu istirahat satu hari lebih banyak setelah mengalahkan Malut United 2-0 pada Kamis (23/4/2026).
Secara posisi di klasemen pun, Bajul Ijo lebih unggul dengan bertengger di peringkat ke-6 (45 poin), sementara Arema FC masih tertahan di peringkat ke-10 (39 poin).
Motivasi Persebaya juga sedang melambung tinggi. Kemenangan atas Malut United mengakhiri tren negatif mereka dalam beberapa laga sebelumnya.
Keberadaan Francisco Rivera sebagai jenderal lapangan tengah, diprediksi akan menjadi ancaman paling nyata bagi lini tengah Arema.
Pertemuan dua raksasa ini, selalu menghadirkan statistik yang menarik namun menyakitkan bagi pendukung Singo Edan. Menilik rekor pertemuan sejak era kompetisi profesional hingga turnamen pramusim, Persebaya menunjukkan dominasi yang sulit dibantah.
Dari total 18 laga terakhir, Persebaya sembilan kali menang, empat kali seri dan lima kali kalah. Bahkan kekalahan terakhir Persebaya, terjadi pada musim 2019 lalu.
Data ini menunjukkan, Persebaya memiliki ‘kunci’ untuk meredam kegarangan Singo Edan. Bahkan dalam beberapa laga di mana Arema mendominasi penguasaan bola, Persebaya seringkali mampu mencuri kemenangan lewat skema serangan balik yang sangat rapi dan klinis.
Kabar baik bagi Arema, bek winger mereka yang sempat mengalami kram otot di Bandung, dilaporkan sudah membaik dan siap diturunkan.
Marcos Santos kemungkinan besar tidak akan melakukan banyak rotasi pada susunan pemain intinya. Mengingat chemistry antar pemain, sedang dalam kondisi puncak setelah performa solid di Bandung.
Di kubu Persebaya, mereka dipastikan tampil tanpa salah satu bek sayap andalannya yang terkena akumulasi kartu kuning. Namun, kedalaman skuad Bajul Ijo yang merata membuat Bernardo Tavares memiliki banyak opsi pengganti yang secara kualitas tidak jauh berbeda.
Laga klasik ini tidak hanya soal tiga poin, tetapi soal siapa yang berhak menyandang status penguasa Jawa Timur. Selasa sore nanti, rumput Gianyar akan menjadi saksi apakah Singo Edan mampu mengaum kembali, ataukah Bajul Ijo tetap menjaga keperkasaannya dalam bayang-bayang kesunyian tribun. (Ra Indrata)
Prakiraan Pemain Arema FC vs Persebaya
AREMA FC (4-3-3): Lucas Frigeri (gk); Rio Fahmi, Hansamu Yama (C), Julian Guevara, Johan Farizi; Betinho, Arkhan Fikri, Matheus Blade; Gabriel Silva, Gustavo Franca, Joel Vinicius
Pelatih: Marcos Santos
PERSEBAYA (4-3-3): Andhika Ramadhani (gk); Catur Pamungkas, Risto Mitrevski, Gustavo Fernandes, Jefferson Silva; Milos Raickovic, Toni Firmansyah, Francisco Rivera (C); Malik Risaldi, Riyan Ardiansyah, Bruno Paraíba
Pelatih: Bernardo Tavares




