Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batu, MD Forkan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Terbatasnya peluang kerja di daerah membuat sebagian warga Kota Batu melirik pekerjaan di luar negeri. Dalam dua tahun terakhir, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Wisata ini menunjukkan tren meningkat.
Data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batu mencatat, pada 2024 terdapat 44 warga yang berangkat menjadi PMI. Jumlah itu naik pada 2025 menjadi 53 orang. Sementara hingga pertengahan Maret 2026, sudah ada 13 orang tercatat berangkat bekerja ke luar negeri.
Kepala Disnaker Kota Batu, MD Forkan menyebut, peningkatan tersebut tidak lepas dari keterbatasan serapan tenaga kerja di tingkat lokal. Terutama bagi lulusan pendidikan menengah ke bawah.
“Banyak lulusan yang belum terserap di sektor formal, sehingga memilih mencari peluang kerja ke luar negeri,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Dari komposisi pekerja migran, perempuan mendominasi secara signifikan. Pada 2025 misalnya, dari total 53 PMI yang berangkat, 52 orang merupakan perempuan, sementara hanya satu orang laki-laki.
Dominasi tersebut berkaitan dengan jenis pekerjaan yang tersedia di negara tujuan. Sebagian besar PMI asal Kota Batu bekerja di sektor domestik dan perawatan.
Profesi caregiver atau perawat lansia menjadi yang paling banyak diminati. Selain itu, banyak juga yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di negara tujuan.
Dilihat dari latar belakang pendidikan, mayoritas PMI berasal dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Data Disnaker menunjukkan 17 orang lulusan SD, 16 orang lulusan SMP, 10 orang lulusan SMA dan 8 orang lulusan SMK.
Sementara itu, pekerja migran dengan pendidikan tinggi relatif sedikit. Lulusan diploma dan sarjana masing-masing hanya satu orang.
Negara tujuan penempatan juga masih didominasi kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Taiwan menjadi tujuan utama dengan 23 orang pekerja pada 2025. Disusul Hong Kong sebanyak 19 orang. Selain itu, beberapa PMI juga bekerja di Malaysia dan Singapura, serta sebagian kecil tersebar di Eropa dan Timur Tengah.
Forkan menilai bekerja ke luar negeri masih menjadi pilihan rasional bagi sebagian warga, terutama bagi mereka yang sulit menembus pasar kerja formal di dalam negeri. Upah yang lebih tinggi menjadi daya tarik utama.
“Meski begitu, keberangkatan PMI juga memberikan dampak ekonomi yang cukup terasa bagi keluarga di daerah asal,” tambahnya.
Tidak sedikit keluarga yang mengalami peningkatan kesejahteraan berkat penghasilan dari luar negeri. Pendapatan tersebut digunakan untuk memperbaiki rumah, membiayai pendidikan anak, hingga membuka usaha kecil.
Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Batu, Suhartini Ningsih menambahkan, remitansi dari PMI turut menggerakkan roda ekonomi lokal. “Uang kiriman dari luar negeri berputar di pasar dan sektor jasa. Itu memberi efek ganda bagi perekonomian daerah,” jelasnya.
Bahkan, sebagian PMI yang telah purna bekerja di luar negeri kembali ke Kota Batu dengan membawa modal usaha. Mereka kemudian mengembangkan usaha pertanian modern, kuliner, hingga bisnis kecil di sektor wisata.
Meski membawa dampak ekonomi positif, peningkatan jumlah PMI juga menyimpan sejumlah risiko. Salah satunya adalah potensi keberangkatan nonprosedural atau ilegal.
Karena itu, Disnaker Kota Batu terus memperkuat pengawasan hingga ke tingkat desa. Edukasi kepada calon pekerja juga digencarkan agar mereka berangkat melalui jalur resmi.
“Fokus kami bukan hanya jumlah pekerja yang berangkat, tetapi memastikan mereka masuk sektor formal yang lebih aman dan memiliki keterampilan,” kata Suhartini.
Pemerintah kota juga menyiapkan berbagai program pelatihan keterampilan serta penguatan perlindungan hukum bagi calon PMI.
Tren meningkatnya pekerja migran dari Kota Batu pun menjadi sinyal ganda. Di satu sisi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun di sisi lain juga mencerminkan bahwa penciptaan lapangan kerja di daerah masih perlu diperkuat, agar lebih banyak tenaga kerja dapat terserap di dalam negeri. (Ananto Wibowo)




