MALANG POST = Upaya memperkuat posisi tawar petani terus didorong Pemkot Batu. Salah satu langkah strategis yang kini digarap adalah memperkuat lembaga Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE) agar berkembang menjadi korporasi rakyat yang mampu mengendalikan tata niaga hasil pertanian.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman. Menurutnya, transformasi COOSAE menjadi korporasi rakyat merupakan bagian dari upaya membangun kedaulatan ekonomi petani, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak yang selama ini kerap mengendalikan harga hasil panen.
“COOSAE ini lahir dari sebuah komitmen sekaligus jawaban atas persoalan klasik dunia pertanian. Petani harus memiliki ruang kebijakan yang berpihak pada mereka sebagai produsen,” ujar Cak Nur sapaan Nurochman, Minggu (12/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa COOSAE tidak boleh sekadar menjadi wadah organisasi, melainkan harus berfungsi sebagai instrumen ekonomi yang mampu memperkuat posisi petani dalam rantai distribusi hasil pertanian.

LAWAN TENGKULAK: Wali Kota Batu, Nurochman saat panen raya apel beberapa waktu kemarin, ia menegaskan posisi tawar petani terus didorong untuk melawan tengkulak nakal, salah satunya melalui COOSAE. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Kita kembalikan potensi pertanian Kota Batu melalui penguatan kelembagaan seperti COOSAE ini,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan lembaga tersebut, Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto juga resmi tercatat sebagai anggota aktif COOSAE. Langkah ini sekaligus menjadi simbol bahwa pimpinan daerah ikut “pasang badan” dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan petani.
Menurutnya, selama ini petani sering kali menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga hingga keterbatasan akses pasar. Kondisi tersebut membuat posisi petani berada pada titik lemah dalam rantai tata niaga.
Melalui konsep korporasi rakyat, pemerintah berupaya membangun kekuatan kolektif agar petani memiliki daya tawar lebih kuat, baik dalam pengelolaan produksi, distribusi maupun pemasaran hasil pertanian.
Lebih lanjut, Cak Nur juga menekankan pentingnya pengelolaan profesional agar lembaga yang dibangun tidak hanya kuat secara semangat, tetapi juga solid secara manajemen.

Menurutnya, semangat pemberdayaan petani harus dibarengi dengan tata kelola yang modern dan transparan sehingga mampu bersaing di tengah dinamika pasar pertanian yang semakin kompleks. “COOSAE harus dikelola secara profesional agar mampu memiliki daya tawar tinggi di pasar,” imbuhnya.
Dengan penguatan kelembagaan tersebut, ia berharap mata rantai tata niaga yang selama ini dinilai merugikan petani dapat dipangkas. Petani tidak lagi hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki peran dalam pengendalian distribusi hingga pemasaran produk.
Cak Nur optimistis jika dikelola dengan baik, COOSAE dapat menjadi pilar penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di sektor pertanian Kota Batu.
“Saya yakin COOSAE akan tumbuh menjadi korporasi rakyat karena semangat untuk terus memberdayakan petani Kota Batu sangat besar,” ujarnya.
Ia pun mengajak para petani di Kota Batu untuk bersatu dalam wadah tersebut. Dengan kebersamaan dan penguatan kelembagaan, sektor pertanian diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah. (Ananto Wibowo)




