MALANG POST – Gelaran seminar internasional bertajuk “Understanding Contemporary China” berlangsung di Aula Lantai 9, Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 UM pada Kamis (2/4/2026).
Menghadirkan Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Dr. Ye Su, serta mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, sebagai narasumber.
Event ini sebagai ruang akademik untuk memperluas wawasan mahasiswa dan memperkuat kerja sama Indonesia-Tiongkok.
Dalam seminar yang diselenggarakan Confusius Institute Malang (lembaga studi bahasa Mandarin kerja sama pemerintah China dan UM) bersama para kolega tersebut, terungkap bahwa kemajuan pesat Tiongkok tidak terjadi secara instan. Namun melalui perencanaan pembangunan yang konsisten dan berkelanjutan.
Salah satu poin utama yang mengemuka adalah penerapan rencana pembangunan lima tahunan yang telah berjalan sejak 1953 dan terus berlanjut hingga saat ini.
Model ini dinilai menjadi fondasi kuat dalam menjaga arah pembangunan, stabilitas ekonomi, serta pertumbuhan nasional.
Dalam kesempatan ini Rektor UM, Prof Hariyono menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama pendidikan dan budaya antara Indonesia dan Tiongkok.
Ia menyebut kehadiran Dr. Ye Su menjadi momentum strategis dalam mendukung pengembangan bahasa Mandarin di UM. Sekaligus membuka ruang pertukaran wawasan lintas budaya dan sejarah.
“Kerja sama ini tidak hanya memperkaya kemampuan bahasa. Tetapi juga memperdalam pemahaman konteks sosial dan budaya Tiongkok,” ujarnya.
Dimana lanjutnya, “Tiongkok bukan sekadar negara. Tetapi peradaban besar dengan fondasi sejarah yang kuat,” tegasnya.
Pemahaman ini menjadi hasil penting seminar, terutama dalam membentuk cara pandang mahasiswa terhadap dinamika global.

Dr. Ye Su memaparkan materi bertajuk “Two Miracles of China’s Development and the Secrets Behind It”. Ia menyoroti stabilitas sosial-politik sebagai fondasi utama keberhasilan pembangunan Tiongkok.
Berdasarkan laporan lembaga survei internasional periode 2022–2023, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah di Tiongkok mencapai 89 persen, jauh melampaui rata-rata global sebesar 52 persen.
“Keberhasilan Tiongkok terletak pada kemampuannya menemukan dan menjalankan jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya,” tegasnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Dahlan Iskan yang juga hadir dalam kesempatan tersebut. Dahlan menekankan bahwa Indonesia tidak perlu meniru Tiongkok secara mentah.
Namun, sejumlah prinsip dapat diadaptasi. Terutama konsistensi, kebijakan, keberanian merancang strategi jangka panjang dan fokus pada sektor strategis seperti industri serta teknologi.
Ia menilai, konsistensi kebijakan sebagai kunci pembeda Tiongkok dengan negara berkembang lainnya. Ia menekankan bahwa sejak 1978, Tiongkok mampu menjaga arah pembangunan melalui perencanaan jangka panjang yang disiplin.
“Nasionalisme adalah ketika masyarakatnya berkomitmen memperbaiki diri dan berkontribusi bagi kemajuan bersama,” katanya. Lebih lanjut, Dahlan juga mendorong pentingnya kemandirian masyarakat dalam pembangunan.
“Jika jutaan individu mampu keluar dari kemiskinan secara mandiri, maka kemajuan bangsa akan tercapai secara kolektif,” ujarnya.
Seminar ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin pendidikan berkualitas (SDG 4) dan kemitraan global (SDG 17).
Melalui forum akademik ini, UM berharap mahasiswa mampu mengadopsi perspektif strategis pembangunan global serta memperkuat peran sebagai agen perubahan dalam membangun hubungan Indonesia–Tiongkok di masa depan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




