PUASA SUNAH ENAM HARI di bulan Syawal disamakan dengan puasa 1 tahun, selain berfungsi menyempurnakan kekurangan puasa Ramadhan, layaknya shalat sunnah rawatib menyempurnakan shalat fardu. Puasa ini menandakan konsistensi ibadah pasca-Ramadhan dan pahalanya setara puasa setahun penuh jika digabungkan, karena kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat (30+6 hari x 10).
Jadi hitungan jelas, kalau 1 tahun = 365 hari, maka kita berpuasa 1 bulan = 300 hari ditambah 6 hari di bulan Syawal = 60 hari. Sedangkan susanya yang 5 hari adalah kita diharamkan berpuasa, yaitu 2 hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha), lalu ditambah 3 hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah, sehingga genap sama dengan kita berpuasa 1 tahun secara sempurna.
Dengan demikian, sangatlah penting puasa 6 hari bulan Syawal tersebut. Seandainya kita tidak sempat berpuasa Senin-Kamis, dan lainnya toh kita sudah puasa 1 tahun. Hal ini bukan berarti puasa selainnya itu tidak penting, ya penting juga. Tapi setidaknya puasa bulan Ramadhan + 6 hari bulan Syawal itu sudah memenuhi.
Keutamaan dan Panduan Puasa Syawal:
Pahala Setahun Penuh: Berdasarkan hadis riwayat Muslim, puasa Ramadhan diikuti 6 hari Syawal setara puasa setahun.
Waktu Pelaksanaan: Dapat dilakukan kapan saja di bulan Syawal, tidak harus langsung setelah Idul Fitri.
Urutan: Dianjurkan berturut-turut, namun boleh terpisah-pisah.
Qadha Dahulu atau Syawal? Ulama membolehkan puasa Syawal terlebih dahulu, namun mendahulukan qadha puasa Ramadhan lebih utama menurut sebagian pendapat.
Puasa Syawal menjadi wujud syukur dan menjaga semangat ibadah agar
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”
(QS.al-An’Aam ;160)
Setelah puasa di bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa selama 6 hari pada bulan Syawal. Puasa ini hukumnya sunnah dan memiliki banyak keutamaan.
Beberapa keutamaan puasa Syawal ?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
من صام رمضان ثمّ أتبعه ستاّ من شوّال كان كصيام الدّهر
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh lamanya.”
(Muslim, no.1.984 dari sahabat Abu Ayyub al-Anshari).
Demikian pula hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها)
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka (pahala) puasanya menjadi sempurna satu tahun (barang siapa melakukan amal yang baik, baginya [pahala] sepuluh kali lipat).” Ibnu Majah; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1402).
Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat Idul Fitri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa Syawal enam hari setelah Idul Fitri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran.
ولإطلاق لفظ الحديث المتقدم من غير تعيين لأحدهم
Artinya: Karena keumuman matan hadis yang terdahulu tanpa adanya ta’yin (penjelasan berturut-turut atau berpisah-pisah) maka puasa Syawal bisa dikerjakan berturut-turut atau berpisah-pisah.
Hanya saja penulis memberi sedikit catatan. Jika puasa 6 hari Syawal tersebut tidak dilaksanakan secara berurutan, maka niatnya saja perlu ditertibkan sehinga puasa hari pertama kita niatkan puasa hari kesatu (1). Demikian seterusnya untuk hari kedua, ketiga, dan lainnya walau tidak urut, tapi niatnya tetap urut sampai hari keenam (6).
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Rabb-nya tabaraka wa ta’ala,
إِنَّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ
“Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya.
Barang siapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan dan belum terlaksana, Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Kemudian jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya, Allah akan catat baginya dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya.”
(Al-Bukhari, no. 6.491 dan Muslim no. 131).
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk melakukan kebaikan di dalam Bulan Syawal.
نَصْرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Semoga bermanfaat, semoga bisa dijadikan bahan pertimbangan. Kepada Allah dan Rasul-Nya kita memohon ampun serta berharap taufik dan hidayah-Nya. Aamiin Ya Rabbal’aalamiin. (***)




