PERDANA: Pablo Oliveira menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah, saat Arema dikalahkan 1-2 oleh Bhayangkara FC. Di laga tersebut, total tiga kartu merah untuk pemain dan satu untuk ofisial tim. (Foto: Arema Oficial)
MALANG POST – Laga pekan ke-25 bagi Arema FC, bisa jadi merupakan pertandingan terburuk yang harus diterima, di Super League musim 2025/2026. Tidak hanya kalah dengan skor tipis 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC. Di laga tersebut, ada tiga penggawa Singo Edan yang terkena kartu merah langsung (direct red card).
Keempat kartu pengusiran itu, diberikan Wasit Yudai Yamamoto kepada Gildson Pablo de Oliveira Silva (menit 45+8) dan Dalberto Luan Belo menit ke-70. Disusul dua kartu merah setelah laga usai (after match), untuk Matheus da Conceicao Nascimento serta ofisial tim, Rahmat Taufiq Hentihu.
Jelas tiga kartu merah yang semuanya diberikan kepada pemain asing penting Arema, mereduksi kekuatan tim menjelang pekan ke-26, yang akan berlangsung selepas Lebaran.
Yakni saat Arema FC, dijadwalkan menjamu Malut United pada Jumat (3/4/2026) mendatang, di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Betapa tidak, sosok Dalberto Luan Belo, sangat dibutuhkan di lini depan Singo Edan. Striker asal Brasil ini, menjadi andalan untuk menjebol gawang lawan. Hingga pekan ke-25, sudah 15 gol dibuat pemain 31 tahun tersebut. Yang menempatkannya sebagai top skor sementara bersama David da Silva, striker Malut United.
Mau tidak mau, kehilangan Dalberto, membuat pelatih Marcos Santos, harus mencari tandem baru bagi Joel Vinicius. Atau paling tidak, pelatih asal Brasil itu harus mencari formasi baru, tanpa kehadiran Dalberto.
Yang akan terasa justru di lini tengah. Tidak bisa tampilnya Pablo Oliveira dan Matheus Blade, membuat sektor vital itu kehilangan pengatur serangan, sekaligus pemutus serangan lawan.
Pablo Oliveira yang baru saja kembali ke tim, setelah hampir 10 bulan absen, sudah menunjukkan kualitasnya sebagai jenderal lapangan tengah.
Meski baru bermain dua kali -itu pun tidak penuh 90 menit- namun keberadaan pemain bernomor punggung 32 itu, benar-benar mengubah kedalaman skuad. Termasuk menghidupkan lini tengah Arema.
Pun dengan Matheus Blade. Pemain asal Brasil ini sudah menjadi ruh dalam permainan Arema. Matheus Blade tidak hanya piawai menjadi gelandang pengangkut air. Tetapi juga menjadi pemain pertama yang selalu mematahkan serangan lawan.
Pemain bernomor punggung 25 ini, juga piawai ketika ditempatkan sebagai defender. Baik sebagai bek tengah, ataupun menjadi duet sentral di lini pertahanan.
Kehilangan Matheus Blade, jelas sangat terasa dalam lini tengah Arema. Seperti saat dikalahkan Bali United di pekan ke-24, pada Jumat (3/3/2026) lalu. Bisa jadi skor 3-4 itu tidak akan terjadi, jika Matheus Blade ada di sektor tengah.
Termasuk saat jumlah pemain Arema masih lengkap 11 pemain, atau pun ketika sudah menjadi 10 pemain sejak akhir babak pertama, Bhayangkara FC sangat sulit bisa menembus pertahanan Arema FC.
Bahkan gawang tuan rumah di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, selalu dibombardir serangan Arema FC. Semua itu bisa terjadi, karena sosok Matheus Blade dan Pablo Oliveira di lini tengah.
Terbukti, saat Arema bermain dengan sembilan pemain sejak menit ke-70, baru Bhayangkara FC bisa menjebol gawang Arema. Masing-masing lewat Privat Mbarga menit ke-75 dan eksekusi penalti menit ke-88, yang sukses dilakukan Moussa Sibide.
“Sebagai pecinta sepak bola, saya merasa malu melihat apa yang terjadi. Bukan hanya karena dua gol, tapi juga karena tiga kartu merah untuk pemain. Bahkan yang terakhir terjadi dalam situasi yang menurut saya tidak adil,” kata Marcos Santos, seusai laga.
Marcos bersikeras kartu merah yang diterima Pablo Oliveira, Dalberto Luan Belo dan Matheus Blade tidak pantas mereka dapatkan. Bahkan termasuk satu kartu merah untuk Sekretaris Tim Arema, Rahmat Taufik Hentihu, dalam kericuhan usai laga.
“Kami mengakhiri pertandingan dengan sembilan pemain di lapangan. Di akhir laga masih ada satu kartu merah lagi untuk Blade yang berupaya mempertanyakan kepemimpinan wasit.”
“Jika melihat kartu merah yang diberikan, menurut saya itu terlalu dipaksakan (kartu merah Dalberto). Dalam situasi serupa yang dilakukan pemain Bhayangkara (Slavko Damjanovic), seharusnya itu hanya kartu kuning.”
“Ini bukan tentang masyarakat Indonesia atau sepak bola Indonesia. Bukan itu maksud saya. Tetapi saya benar-benar meninggalkan stadion dengan perasaan kecewa, terhadap apa yang saya lihat di sepak bola,” jelas pelatih asal Brasil ini.
Dalam kondisi tersebut, Marcos salah sekali tidak menyalahkan Bhayangkara FC, yang mengambil keuntungan dari kejadian yang menimpa Arema. Namun, apa yang dilakukan wasit telah merusak pertandingan antara kedua tim.
“Pertandingan ini memang sulit. Bhayangkara adalah tim yang sangat bagus. Mereka adalah tim yang semakin kuat dan berkembang.”
“Namun ini bukan kesalahan Bhayangkara. Mereka sudah melakukan tugas mereka dengan baik. Menurut saya justru wasit yang merusak pertandingan yang seharusnya bisa menjadi laga yang bagus,” tegasnya. (Ra Indrata)




