MALANG POST – Pemkot Batu mulai menyiapkan langkah pemulihan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana. Melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), pemerintah akan menyalurkan bantuan perbaikan rumah dengan nilai berkisar antara Rp5 juta hingga Rp15 juta per unit.
Bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan berupa material bangunan yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah warga di lapangan.
Kepala Bidang Perumahan Disperkim Kota Batu, Prasetyo Bagus Wicaksono mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu untuk memetakan tingkat kerusakan bangunan yang terdampak bencana.
Proses pendataan dan kaji cepat sangat penting agar bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan perbaikan di masing-masing lokasi. “Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD untuk melakukan pemetaan kerusakan. Bantuan yang kami siapkan berupa material bangunan, bukan uang tunai,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Prasetyo menjelaskan, besaran bantuan yang akan diterima setiap rumah berbeda-beda. Hal tersebut bergantung pada tingkat kerusakan yang dialami bangunan, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan yang membutuhkan perbaikan lebih besar.
Berdasarkan estimasi sementara, nilai bantuan material untuk perbaikan rumah berkisar antara Rp5 juta hingga Rp15 juta per unit. Jika dihitung secara keseluruhan, kebutuhan anggaran untuk penyediaan material diperkirakan berada di kisaran Rp95 juta hingga Rp285 juta.
“Kami masih menghitung secara detail agar bantuan yang turun benar-benar tepat sasaran dan mencukupi untuk kebutuhan perbaikan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa material yang akan disalurkan mencakup berbagai kebutuhan dasar konstruksi. Di antaranya semen, bata ringan (hebel), batu bata, hingga pasir.

PENDATAAN: Personel BPBD Kota Batu saat melakukan pendataan rumah dan bangunan rusak akibat cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang, dalam waktu dekat ini Pemkot Batu akan menyalurkan bantuan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain itu, Disperkim juga akan menyediakan material yang berkaitan dengan perbaikan bagian atap bangunan. Pasalnya, sebagian besar rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian tersebut.
“Karena banyak kerusakan terjadi pada atap rumah, kami juga menyiapkan bantuan berupa kayu, galvalum, hingga spandek,” jelasnya.
Meski pemerintah menyiapkan bantuan material, Prasetyo menegaskan bahwa proses pengerjaan perbaikan rumah tidak sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.
Untuk biaya tenaga kerja atau ongkos tukang, pihaknya berharap adanya partisipasi masyarakat melalui swadaya maupun gotong royong antarwarga. Menurutnya, solidaritas sosial di tingkat lingkungan sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan, terutama bagi warga yang rumahnya terdampak bencana.
“Kami sangat berharap bantuan masyarakat sekitar untuk membantu proses perbaikan secara gotong royong,” terangnya.
Kepala Disperkim Kota Batu, Arief As Siddiq menambahkan, pihaknya berharap bantuan material tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk mempercepat proses pemulihan rumah yang rusak akibat bencana. Dengan dukungan gotong royong masyarakat sekitar, perbaikan rumah diharapkan bisa selesai lebih cepat sehingga warga terdampak dapat kembali menempati hunian yang aman dan layak.
“Disperkim juga memastikan proses pendataan dan penyaluran bantuan akan terus dikawal agar tepat sasaran dan benar-benar membantu kebutuhan warga di lapangan,” tutur Arief.
Sebelumnya BPBD Kota Batu mencatat sedikitnya 18 rumah dan bangunan yang tersebar di sembilan desa dan kelurahan terdampak uaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang. Selain itu sebanyak 31 pohon dilaporkan tumbang.
Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko mengatakan, angin kencang menerjang permukiman warga, fasilitas umum hingga tempat usaha. Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap bangunan yang terlepas hingga ambruk akibat terpaan angin.
“Total ada 18 rumah dan bangunan yang terdampak dengan 16 kepala keluarga (KK) yang mengalami dampak langsung,” ujar Suwoko. (Ananto Wibowo)




