MALANG POST – Upaya memperkuat peran pasar tradisional sebagai pusat ekonomi rakyat terus didorong Pemkot Batu. Salah satunya melalui gagasan revitalisasi Pasar Induk Among Tani agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi pusat grosir, etalase produk UMKM, hingga ruang ekonomi kreatif berbasis digital.
Gagasan tersebut mengemuka dalam audiensi yang dipimpin Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Heli Suyanto dengan jajaran Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag), komunitas Arek Enom Pasar, serta perwakilan Batuversity di Rumah Dinas Wali Kota.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah kota menerima pemaparan awal mengenai draft konsep penguatan ekosistem pasar. Konsep yang ditawarkan mengarah pada transformasi pasar menjadi pusat distribusi grosir, sekaligus etalase produk UMKM lokal yang didukung sistem pemasaran dan pengelolaan berbasis teknologi digital.
Wali Kota Nurochman menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, pendekatan yang menempatkan pasar sebagai pusat ekonomi modern tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai ruang ekonomi rakyat merupakan langkah yang perlu didorong.
Ia menilai inovasi pengelolaan pasar berbasis teknologi bisa menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing pedagang sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk lokal.
“Konsep digitalisasi dan sistem pengelolaan yang ditawarkan ini baik, namun harus terintegrasi. Arek Enom Pasar dan Batuversity harus berjalan bersama, tidak sendiri-sendiri,” ujar Cak Nur sapaan Nurochman, Minggu (8/3/2026).
Menurut dia, revitalisasi pasar tidak cukup hanya pada perbaikan fisik bangunan. Lebih dari itu, perlu ada penguatan ekosistem perdagangan agar pasar mampu menjadi pusat distribusi barang sekaligus ruang promosi produk lokal.
“Dengan konsep yang lebih modern dan terintegrasi, pasar diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi pedagang maupun pelaku UMKM di Kota Batu,” tuturnya.
Cak Nur juga menegaskan, bahwa proses penataan pasar harus diawali dengan data yang akurat. Ia meminta perangkat daerah terkait segera menuntaskan pendataan riil pedagang sebagai dasar pengambilan kebijakan.

REVITALISASI: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat mempin audiensi membahas revitalisasi Pasar Induk Among Tani Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Pendataan tersebut mencakup jumlah pedagang aktif, luas lapak yang digunakan, hingga status hunian kios atau los di dalam pasar,” tambahnya.
Menurutnya, data yang valid sangat penting agar proses penataan berjalan transparan, akuntabel, dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Data pedagang harus jelas. Berapa jumlahnya, luas lapaknya, dan bagaimana status hunian mereka. Itu harus menjadi dasar sebelum kita melangkah lebih jauh dalam penataan pasar,” tegasnya.
Senada Wakil Wali Kota Heli Suyanto juga menilai konsep yang disampaikan dalam forum tersebut perlu segera ditindaklanjuti dengan langkah implementasi yang lebih konkret.
“Kami meminta perangkat daerah terkait menyiapkan perencanaan yang matang, mulai dari pemetaan kebutuhan anggaran hingga simulasi model pengelolaan pasar yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan perencanaan yang jelas, transformasi pasar diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi pedagang maupun masyarakat.
Sementara itu, komunitas Arek Enom Pasar dalam dalam pertemuan itu memaparkan sejumlah gagasan untuk memperkuat fungsi pasar sebagai pusat distribusi sekaligus etalase produk UMKM lokal. Mereka menilai potensi Pasar Among Tani sangat besar untuk dikembangkan sebagai simpul perdagangan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Di sisi lain, tim Batuversity menawarkan pendekatan pengembangan pasar yang memadukan revitalisasi fisik dengan aktivasi ruang komunitas. Konsep tersebut juga menekankan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung promosi dan pemasaran produk pedagang.
Dengan integrasi berbagai pendekatan tersebut, pasar diharapkan tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga ruang publik yang hidup, kreatif, dan relevan dengan perkembangan ekonomi digital. (Ananto Wibowo)




