MALANG POST – Pakar Ekonomi dan Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, SE., M.Si., mengatakan, jika perang di Timur Tengah meluas dalam satu bulan ke depan, nilai tukar rupiah bisa tembus hingga Rp17 ribu per dolar AS.
Kondisi itu dinilai berbahaya, karena bisa mendorong inflasi nasional naik sampai 6 persen dan membuat target pertumbuhan ekonomi 4 persen sulit tercapai.
Pernyataan itu disampaikannya, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (5/3/2026).
Menurut Prof. Murpin, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak ke banyak sektor. “Ketika BBM naik, pelaku usaha biasanya ikut menaikkan harga jual.”
“Karena itu, masyarakat juga akan merasakan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Apalagi di Jawa Timur termasuk Malang Raya, yang banyak ditopang industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga,” katanya.
Prof. Murpin juga mengingatkan, beban subsidi energi bisa semakin berat jika harga minyak terus naik. Anggaran subsidi dan kompensasi berpotensi membengkak.
Jika kondisi itu berlangsung lama, dampaknya bukan hanya ekonomi biasa. Tapi bisa mempengaruhi stabilitas daerah karena faktor geopolitik dan geoekonomi.
Kepala Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Haryo Prasodjo, MA., menambahkan, konflik Iran dan Israel yang juga melibatkan Amerika Serikat, berpotensi membuat harga minyak dunia melonjak. Dampaknya bisa ikut terasa sampai ke Malang Raya/.
“Karena Iran punya posisi strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz, yakni jalur penting yang dilalui sekitar 10-30 persen pasokan energi dunia.”
“Jika jalur itu terganggu, harga minyak bisa naik tajam. Bahkan ada kemungkinan terjadi krisis minyak ketiga seperti yang pernah terjadi tahun 1973 dan 1979,” jelasnya.
Dia memperkirakan, harga BBM bisa naik hingga Rp4 ribu/liter, yang tentu akan menambah beban subsidi dan memberi tekanan pada keuangan negara.
Terkait peluang damai, Haryo menyebut situasinya masih belum pasti. Dari analisis geopolitik, katanya, Iran belum membuka ruang diplomasi secara luas dan siap menghadapi konflik jangka panjang.
“Meski begitu, semua ini masih sebatas analisis perkembangan terbaru. Untuk masyarakat Malang Raya, yang perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan harga energi dan dampaknya pada kebutuhan sehari-hari,” pesannya.
Sementara itu, Area Manager Communication Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi memastikan, stok BBM di Malang Raya saat ini masih aman, meski sempat muncul kekhawatiran soal ketahanan stok 20 hari.
Menurutnya, angka 20 hari yang sebelumnya disampaikan Menteri ESDM – Bahlil Lahadalia itu sifatnya dinamis dan bukan berarti setelah 20 hari pasokan langsung berhenti.
“Setiap hari pengiriman dan penerimaan BBM tetap berjalan. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Di Jawa Timur sendiri ada sekitar 60 terminal BBM. Walaupun tanpa kiriman tambahan, rata-rata stok bertahan belasan hari.”
“Khusus Malang Raya, stok rata-rata berada di kisaran 11-13 hari, disuplai dari Terminal BBM Malang serta terminal terdekat lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Ahad juga menegaskan, distribusi sudah dipetakan dengan baik. Termasuk untuk kebutuhan menjelang mudik Lebaran.
Untuk BBM subsidi harga dipastikan tetap. Sementara BBM non-subsidi fluktuatif karena menyesuaikan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
“Kalau sempat ada BBM kosong di SPBU, biasanya karena distribusi terlambat akibat faktor cuaca. Bukan karena stok nasional maupun regional habis,” tandasnya. (Faricha Umami/Ra Indrata)




