GELANDANG: Matheus Blade ditempel ketat Juan Villa saat diturunkan menghadapi Borneo FC. Gelandang pengakut air asal Brasil ini, selalu tampil di lini tengah dalam enam laga pertama di putaran kedua. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Mulai putaran kedua Super League musim 2025/2026, pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, mulai suka dengan formasi baru. 4-3-3. Sebelumnya, pelatih asal Brasil itu lebih sering memakai pola 4-2-3-1 atau 3-5-2.
Perubahan itu bukan tanpa alasan. Banyaknya pemain baru yang didatangkan, dikombinasi besarnya pemain yang dilepas, menjadikan komposisi pemain di skuad Singo Edan juga berubah. Yang sama hanya satu, jumlah pemain asingnya tetap 11. Jumlah maksimal yang disyaratkan I.League sebagai operator kompetisi.
Sayangnya hingga enam pekan di putaran kedua, Marcos Santos terlibat belum punya formasi ideal untuk starting eleven. Menjadikan pelatih 48 tahun itu selalu mengubah komposisi timnya di setiap pertandingan.
Posisi yang selalu berubah, terutama ada di sektor tengah. Karena di sektor belakang dan depan, sudah paten.
Di belakang Hansamu Yama Pranata dan Walisson Maia, menjadi duet center back. Plus Rio Fahmi yang mengisi posisi bek sayap kanan.
Di depan, dua ujung tombak diisi Dalberto Luan Belo dan Joel Vinicius, ditambah Gabriel ‘Gabi’ Silva, yang menggenapi komposisi tiga pemain depan.
Kecuali ada kondisi krusial, seperti adanya pemain yang cedera atau akumulasi kartu kuning, baru ada pergantian pada lima pemain pemain tersebut.
Tapi di tengah, tiga pemain dalam formasi 4-3-3, nyaris tidak pernah sama. Meski tetap berseliweran pada beberapa nama. Seperti Betinho Filho, Matheus Blade, Julian Guevara, Gustavo Franca, Valdeci Moreira dan Arkhan Fikri. Baru-baru ini muncul nama tambahan, Pablo Oliveira.
Nama-nama itu, jika tidak turun sejak awal pertandingan, bakal menjadi pemain pengganti yang biasanya dilakukan di paruh waktu atau diantara menit-menit ke-60.
Kalau pun ada nama yang selalu muncul, hanya Matheus da Conceicao Nascimento atau biasa disebut Matheus Blade.
Menariknya, pemain Brasil berusia 28 tahun itu, justru bisa diposisikan di banyak tempat. Mulai dari gelandang tengah, gelandang bertahan, gelandang pengangkut air sampai menjadi bek tengah.
Nyatanya meski sering berubah posisi, pemain berpostur 188 cm itu, terlihat menikmati di setiap posisi yang diinginkan pelatih. Tak heran dalam 23 laga yang sudah dijalani Arema, Matheus Blade terlibat dalam 21 pertandingan. Dua kali absen karena kartu merah dan akumulasi kartu kuning.
Hanya ‘pendamping’ pemain dengan nilai pasar Rp3 miliar tersebut yang selalu berubah. Seperti ketika unggul lawan Persija, Matheus Blade ditemani Gustavo Franca dan Betinho dibabak pertama. Disusul Jayus Hariono, Balinsa dan Arkhan Fikri dibabak kedua.
Lawan Semen Padang, pemain yang sudah mencetak satu gol dan dua asis ini, bermain dengan Franca dan Betinho dibabak pertama. Kemudian babak kedua dengan Valdeci Moreira, Arkhan Fikri dan Julian Guevara.
Saat kalah 1-3 lawan Borneo FC di pekan ke-23, mantan pemain Noroeste ini giliran bermain dengan Julian Guevara dan Arkhan Fikri dibabak pertama. Serta Gustavo França dan Jayus Hariyono dibabak kedua.
”Saya mengenal dan sudah mengetahui karakter bermain rekan duet saya di lini tengah.”
“Proses adaptasi saya dengan penggawa yang lain, serta skema permainan tim sudah selesai,” kata memberikan komentar posisinya yang sering berubah.
Dalam kacamata Matheus Blade, pemain-pemain tengah Arema FC selalu membantunya dalam bertanding. Wajar jika dia bisa saling berkolaborasi untuk melakukan perubahan posisi. Utamanya saling mengisi saat lawan melakukan counter attack.
Menurutnya, kondisi seperti itu sangat menguntungkan Arema FC. Sekaligus bisa memperbanyak pilihan strategi yang bisa disusun pelatih. Termasuk memudahkan rotasi saat ada penggawa tim mengalami cedera atau berhalangan tampil.
”Chemistry tim ini sudah semakin kuat. Sesama pemain mampu saling mendukung. Jadi kami sudah terbiasa dengan perubahan strategi,” tambah pemain yang memiliki posisi asli sebagai gelandang bertahan. (Ra Indrata)




