MALANG POST – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMA Al-Izzah Kota Batu. Sekolah berbasis pesantren ini sukses meraih Role Model Peringkat 1 School Religious Culture (SRC) jenjang SMA Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2025. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur.
Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi SMA Al-Izzah dalam membangun, mengembangkan dan menerapkan budaya religius secara menyeluruh di lingkungan sekolah maupun pesantren.
Kepala SMA Al-Izzah Kota Batu, Adnan Ya’kub, S.Pd., M.M., Gr, menjelaskan, bahwa sebelum meraih penghargaan tingkat provinsi, SMA Al-Izzah terlebih dahulu ditunjuk oleh Kemenag Kota Batu sebagai delegasi untuk mewakili daerah dalam ajang Role Model SRC.
“Penilaian ini melihat bagaimana budaya religius di sekolah dibangun, dikembangkan dan dikuatkan. Harapannya, sekolah yang terpilih bisa menjadi pijakan dan contoh bagi sekolah lain,” ujar Adnan, Rabu (7/1/2025).
Untuk meraih posisi puncak, SMA Al-Izzah harus bersaing dengan ratusan SMA se-Jawa Timur. Proses seleksi berlangsung ketat dan berlapis, mulai dari administrasi, penilaian dokumen, hingga penentuan tiga besar.
“Alhamdulillah kami lolos tiga besar tingkat Jatim, lalu bersaing kembali untuk menentukan peringkat pertama, kedua dan ketiga,” ungkapnya.
Tahapan penilaian tidak hanya berbasis dokumen. Tim visitor dan asesor dari Kemenag Jatim juga melakukan visitasi langsung ke sekolah, menilai implementasi budaya religius secara nyata. Selain itu, SMA Al-Izzah juga mengikuti presentasi publik di hadapan dewan juri, panitia, serta sekolah lain yang masuk tiga besar.
“Dari seluruh rangkaian itu, alhamdulillah hasil akhirnya kami ditetapkan sebagai Role Model Peringkat 1 SRC jenjang SMA tingkat Jawa Timur,” kata Adnan.

PEMBELAJARAN: Siswa SMA Al Izzah Kota Batu saat mengikuti proses pembelajaran, sekolah ini dinobatkan Kemenag Jatim jadi role model SRC terbaik. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ia menjelaskan, keunggulan SMA Al-Izzah terletak pada penerapan budaya religius yang terintegrasi antara sekolah dan pesantren. Sebagai sekolah berbasis pesantren, pembinaan karakter keagamaan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Mulai dari sholat berjamaah, sholat tahajud, tilawah dan tahfidz Al-Qur’an, hingga pembiasaan adab dan akhlak kepada guru, teman dan lingkungan sekitar. Semua itu menjadi aspek penilaian,” paparnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sistem yang sudah tertata. SMA Al-Izzah telah memiliki aturan dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dalam penerapan budaya religius, baik untuk guru, santri, maupun seluruh warga sekolah.
“Penerapannya konsisten dan bisa dijalankan bersama. Itu yang dinilai langsung oleh tim Kemenag Jatim,” ujarnya.
Penghargaan ini, lanjut Adnan, bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah besar. Sebab SMA Al-Izzah kini dipercaya menjadi rujukan atau role model penerapan School Religious Culture di Jawa Timur.
“Ini amanah yang tidak ringan. Kami dinilai oleh juri lintas daerah yang melihat langsung bagaimana budaya religius diterapkan di SMA Al-Izzah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Kemenag Jatim yang menggagas program SRC sebagai upaya menumbuhkan budaya religius positif di sekolah-sekolah.
Adnan berharap, program tersebut dapat diperluas tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga nasional. Sehingga semakin banyak sekolah yang terinspirasi untuk menumbuhkan budaya baca Al-Qur’an, nilai-nilai Islami, serta karakter akhlakul karimah.
“Kami berharap bisa tetap istiqomah. Budaya positif yang sudah berjalan semoga menginspirasi sekolah lain dan menjadi amal jariyah bagi kita semua,” tuturnya.
Ke depan, ia optimistis penerapan budaya religius yang kuat di sekolah akan berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia. “Harapannya, ini menjadi bagian dari ikhtiar membentuk generasi emas Indonesia 2045,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




