MALANG POST – Pekan ke-8 Super League musim 2025/2026, yang baru digelar pada Selasa (30/12/2025) kemarin, menjadi home event bagi Arema FC di Stadion Kanjuruhan, yang paling sedikit dihadiri Aremania secara langsung.
Panpel mencatat, laga yang berkesudahan 1-0 untuk kemenangan tim tamu Persita Tangerang itu, hanya disaksikan 405 penonton. Jumlah terendah dari delapan laga kandang yang digelar Arema FC di stadion berkapasitas 21.603 single seat itu.
Hanya di pekan ke-12, saat menjamu Persija, penonton yang hadir di atas angka 10 ribu. Tepatnya 10.314 penonton hadir secara langsung. Serta hanya tiga laga kandang yang ditonton lebih dari seribu orang. Yakni menjamu PSBS Biak (2.336 penonton), Persib Bandung (5.400) dan Persija.
Selebihnya selalu di bawah seribu orang. Mulai dari lawan Bhayangkara FC (840 penonton), Dewa United (819), Borneo FC (805), Madura United (780) dan Persita hanya disaksikan 405 penonton.
Padahal sebelum terjadinya Tragedi Kanjuruhan, rata-rata penonton yang hadir di Stadion Kanjuruhan selalu di atas 10 ribu penonton. Bahkan di Liga 1 musim 2022/2023, sebelum Oktober 2022 atau saat Tragedi Kanjuruhan, jumlah penonton rata-rata mencapai 21.898 orang.
Bahkan di Liga 1 musim 2018/2019, Arema FC pernah mencatatkan rekor jumlah penonton hingga 43.400 orang, saat menjamu Persija Jakarta. Padahal saat itu kapasitas resmi Stadion Kanjuruhan, hanya 38 ribu tempat duduk.
Selain itu, pada Indonesia Super League musim 2012/2013, jumlah penonton di Stadion Kanjuruhan, menjadi salah satu rata-rata tertinggi di Indonesia. Yakni mencapai 19.497 penonton.

Dalam kacamata Sneyder Julian Guevara Munoz, gelandang Arema FC asal Kolombia, anjloknya penonton di Stadion Kanjuruhan, tidak terlepas dari prestasi Arema saat menggelar laga kandang.
“Selain tentu faktor utama trauma Tragedi Kanjuruhan, masih belum benar-benar bisa dihilangkan. Tragedi itu sangat menjadi pukulan bagi Aremania,” sebut pemain yang bergabung sejak 16 November 2023 ini.
Prediksi Julian cukup realistis. Paling tidak jika dilihat pada laga kandang perdana, ketika menjamu PSBS Biak, penonton yang hadir mencapai 2.336 orang. Padahal ketika itu tiket yang disiapkan 5.000 lembar.
Panpel sendiri, hanya diizinkan mencetak tiket maksimal 75 persen dari kapasitas stadion, karena alasan keamanan.
Tetapi untuk laga standar, panpel sering kali hanya membuka kuota awal sebanyak 5.000 tiket. Dari yang seharusnya diizinkan hingga 16 ribu tiket.
Kecuali untuk pertandingan melawan tim besar seperti Persib Bandung atau Persija Jakarta, kuota tiket ditingkatkan.
Selain itu, pemain 33 tahun ini juga melihat, absennya Arema dari Stadion Kanjuruhan, selama hampir dua tahun sebagai tim musafir, karena hukuman atas Tragedi Kanjuruhan, membuat ikatan emosional antara tim dan Aremania sedikit merenggang.
Ditambah lagi, performa tim di papan klasemen tidak konsisten. Penonton akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang dan tenaga menuju stadion, yang lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Malang.
“Tidak ada alasan lain, kalau kita mau Aremania kembali hadir di Stadion Kanjuruhan, harus dihentikan kekalahan di kandang.”
“Ini sudah enam kali, kita tidak pernah bisa menang. Kami tahu, pasti Aremania kecewa dengan hasil laga yang hanya sekali seri dan lainnya selalu kalah,” sebut pemain kelahiran Santiago de Cali, Kolombia.
Sebagai pemain yang pernah merasakan bermain sebagai tim musafir dan sekarang bermain di kandang sendiri, Julian menyebut kehadiran suporter benar-benar sangat dibutuhkan bagi sebuah tim.
“Kita belum terlambat untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari Aremania. Karena sebenarnya kita bukanlah tim yang jelek. Arema itu tim besar. Arema tidak pantas berada di (klasemen) bawah,” tegasnya.
Karenanya, Julian mengajak kepada seluruh penggawa Singo Edan, untuk secepatnya bangkit dari keterpurukan. Serta menatap laga kandang berikutnya dengan penuh percaya diri.
“Jika kita tidak bisa mempersembahkan kemenangan bagi Aremania di kandang, akan sulit bagi kita untuk mendapat kepercayaan mereka.”
“Kita masih punya sembilan laga kandang lagi. Semuanya harus kita maksimalkan. Karena Arema tidak ada apa-apanya tanpa Aremania,” demikian pemain yang juga salah satu kapten tim Arema FC ini. (Ra Indrata)




