MALANG POST – Diapit pegunungan dengan kontur tanah miring, Kota Batu tercatat mengalami 196 peristiwa bencana sepanjang 1 Januari–30 November 2025. Data Pusdalops BPBD Kota Batu menunjukkan, tanah longsor menjadi ancaman terbesar dengan 123 kejadian, disusul cuaca ekstrem/angin kencang 41 kejadian, serta banjir 21 kejadian.
Tak berhenti sampai di situ, BPBD juga mencatat 10 kasus kebakaran gedung dan bangunan, serta satu kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Di antara tiga kecamatan, Bumiaji menjadi kawasan paling banyak dilanda bencana. Kecamatan berhawa sejuk ini mengalami 83 kejadian bencana alam, kemudia disusul Kecamatan Batu yang mencatat 73 kejadian, serta Kecamatan Junrejo dengan 30 kejadian bencana alam.
Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko menyebut kondisi geografis Kecamatan Bumiaji sebagai faktor utamanya. Secara geografis, Bumiaji berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah miring. Saat curah hujan meningkat, wilayah ini sangat rentan longsor.
“Sejak awal November, intensitas hujan melonjak. Dalam beberapa kejadian, material tanah dan batu sempat menutup akses warga. Di sejumlah titik, retakan tanah muncul dan menjadi alarm alami bagi warga yang ada di kawasan lereng,” kata Suwoko, Senin (1/12/2025).
Selama 2025, bencana yang terjadi membawa dampak signifikan. BPBD mencatat terdapat, 20 rumah rusak ringan, 13 rumah rusak sedang, 18 rumah rusak berat dan 14 rumah terendam banjir.
Tak hanya permukiman, fasilitas umum pun tak luput dari kerusakan sedikitnya ada empat sekolah terdampak, sembilan kios rusak, empar jaringan air bersih rusak, 11 jaringan listrik dan lampu penerangan, lima jaringan telekomunikasi rusak, 0,003 kilometer ruas jalan rusak, 1 hektare sawah terdampak dan 0,175 hektare lahan pertanian mengalami kerusakan.

PEMBERSIHAN: Tim BPBD Kota Batu bersama petugas gabungan saat melakukan proses pembersihan material tanah longsor. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Meski kerugiannya cukup besar, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa. Hanya satu warga luka, sementara 199 orang terdampak dan 24 warga sempat mengungsi.
Menghadapi cuaca hujan yang masih tinggi hingga beberapa waktu ke depan, BPBD kini menggiatkan mitigasi berbasis masyarakat. Pelatihan relawan, pemetaan daerah rawan, hingga pemasangan sistem peringatan dini dilakukan di desa-desa lereng.
“Kami minta warga waspada. Jika muncul retakan tanah, pohon mulai miring, atau air keruh mengalir kencang dari lereng, segera laporkan,” tegas Suwoko.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa pemerintah bergerak memperkuat kesiapsiagaan. Tahun ini, Pemkot melakukan revitalisasi saluran air menggunakan box culvert, pemetaan ulang zona rawan, serta susur sungai di 94 titik, termasuk Sumberbrantas, Pusung Lading, Glagah Wangi, hingga Krecek.
Selain fisik, Pemkot juga menekankan kesiapan mental warga lewat pelatihan relawan, simulasi tanggap darurat dan program sekolah aman bencana.
“Penanganan bencana harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi adalah kunci,” ujar Cak Nur sapaan Nurochman.
Upaya itu mulai berbuah hasil. Indeks risiko bencana Kota Batu turun dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 pada 2024. Dengan curah hujan masih tinggi, Pemkot Batu mengingatkan seluruh masyarakat terutama di kawasan Kecamatan Bumiaji untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya,” pungkas Cak Nur. (Ananto Wibowo)




