MALANG POST – Tujuan utama proyek drainase di sepanjang Jalan Sukarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, untuk mengatasi genangan air yang sering terjadi. Terutama ketika musim hujan.
Caranya adalah dengan memperbesar drainase, untuk memperlancar aliran air menuju saluran pembuangan.
“Sebagai proyek strategis, yang diharapkan tidak hanya dirasakan sekitar Suhat, tapi juga bisa mengurangi genangan di daerah-daerah lain, yang aliran airnya mengarah ke Suhat,” kata Tim Teknis Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur, Bagus Akbar.
Penegasan itu disampaikannya, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Selasa (11/11/2025).
Saat ini, tambahnya, pengerjaan drainase di sepanjang Suhat baru mencapai 50-60 persen. Dan sedang diupayakan percepatan pengerjaannya. Bahkan tambahan alat berat juga sudah didatangkan.
“Untuk kondisi lalu lintas, diatur dengan cara contraflow setiap hari Senin sampai Kamis, mulai jam 21.00 – 05.00,” tambahkan.
Prosesnya sendiri, sekarang masih dalam tahap pemasangan box culvert sepanjang 1,4 kilometer. Sampai Senin malam, pengerjaan yang diselesaikan sepanjang 700 meter.
Update sampai Selasa dini hari, penggalian drainase sudah sampai sebelum RSUB. Sehingga beberapa store dan outlet bagian depannya terdampak.
“Sejauh ini memang banyak pengusaha yang mengeluhkan untuk akses customer bisa masuk outlet atau store. Jadi untuk sementara disiapkan berupa plat akses jalan,” jelasnya sembari menyebut, untuk akses yang terdampak, akan dikembalikan seperti semula.
Kondisi tersebut, dibenarkan Dosen Ekonomi Kelembagaan dan Kebijakan Fakultas Vokasi, Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, SE., M.Sc.
Pihaknya juga melihat, di sekitar Suhat banyak sekali tempat usaha. Maka dari itu, pemerintah daerah baik Provinsi dan Kota Malang, bisa memikirkan adanya insentif, yakni berupa pengurangan pajak.
“Ekonomi berbasis perniagaan itu cukup rentan rapuh. Maka dari itu, segala hal yang bisa mempengaruhi pergerakannya, harus di pertimbangkan dengan baik.”
“Menjadi wajar ketika para pengusaha ini, minta kepastian estimasi pengerjaan proyek drainase di Suhat,” sebutnya.
Karenanya, imbuh Yunan, dalam pengerjaan drainase di sepanjang Suhat, perlu ada feasibility study, untuk melihat beberapa kemungkinan yang terjadi, sehingga bisa memperhitungkan dampaknya.
“Meskipun proyek drainase ini tidak sampai 2 kilometer, tapi daerah Suhat ini sebagai kawasan perekonomian yang tinggi. Banyak aktivitas usaha sampai aktivitas pendidikan,” katanya.
Yunan menambahkan, keterbukaan proyek itu juga perlu dilakukan, dengan pemasangan papan informasi soal jenis proyek yang dikerjakan, estimasi waktu, sampai vendor yang bekerjasama.
Harapan adanya estimasi waktu progress by progress, juga disuarakan salah satu pengusaha di Suhat, Kuncoro.
Pihaknya butuh kepastian estimasi waktu, kapan pengerjaan drainase di depan store miliknya dimulai dan diselesaikan. Mengingat hal ini akan berpengaruh pada customer.
“Ketika pengerjaan proyek ini berjalan, akan berpengaruh pada profit. Para customer pasti akan mempertimbangkan beberapa hal, ketika melihat kondisi depan store. Seperti tempat parkir yang terbatas, sampai kondisi becek sehingga membuat tidak nyaman,” katanya.
Dirinya juga mengaku was-was, ketika ingin merencanakan program sale dan event untuk menarik customer. Padahal setelah ini memasuki bulan Desember yang bisa dijadikan momentum menaikkan profit. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




